Feeds:
Posts
Comments

Jati diri

Shaping Your Life.

Apa yang membuat anda menjadi anda, apa yang membedakan anda dengan orang lain? Faktor2 apa pembentuk jati diri seseorang?

Pertama, we are shaped by the book we read. Kita itu dibentuk dari buku yang kita baca. Ini adalah hasil pemikiran filsof yang suka membaca. Aliran dan kesukaan bukunya apa, maka itulah yang bakalan membentuk kita sebagai orang yang berbudaya dan mempunyai pemikiran. Kalau bacaannya buku-buku politik, maka Anda akan terbentuk sebagai orang yang suka dengan hal-hal politik. Kalau suka membaca buku humor, maka Anda akan menjadi orang yang humoris. Kalau suka membaca buku akademis, maka Anda akan menjadi orang yang akademis.

Kedua, we are shaped by the people we meet. Kita ini dibentuk dari orang-orang yang ada di sekeliling kita. Kita dibentuk oleh orang tua, teman, kolega, bos, atau pun anak buah kita. Kita terbentuk oleh orang-orang di sekeliling kita.

Ketiga, we are shaped by the though we think. Kita dibentuk oleh cara kita berpikir, filosofi, pandangan, dan keagamaan kita akan kehidupan. Maka kita dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kita berpikir.

Terakhir, we shaped by the action we perform. Kita dibentuk oleh tindakan, kelakuan kita dan kebisaaan kita dalam melakukan sesuatu.

Jadi inilah empat hal yang akan membentuk kita yaitu buku yang kita baca, orang yang kita temui, cara kita berpikir dan tindakan-tindakan yang kita lakukan.Nah, kalau ingin sukses, cobalah untuk membentuk diri kita dengan cara yang positif. Cobalah untuk mempengaruhi diri sendiri supaya bentuk yang diterima atau jadinya nanti adalah bagus.

Pertama yang harus kita lakukan adalah membaca buku-buku bermutu yang membuat kita lebih sukses. Kedua, carilah teman, sahabat, atau network yang berguna dan bisa membawa kesuksesan kita. Tidak hanya berteman kepada orang yang senang saja, tetapi juga berteman kepada orang yang bisa membawa kesuksesan kita, karena saya percaya bahwa kesuksesan itu dapat ditularkan kepada orang lain. Jadi kalau Anda dekat dengan entrepreneur, maka Anda akan ketularan menajdi entrepreneur. Kalau Anda dekat dengan orang creative, maka Anda akan ikut creative. Kalau berkumpul dengan orang yang semuanya merokok, maka Anda akan turut merokok. Sekali lagi Anda dibentuk oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita. Pilihlah orang itu supaya dapat sama dengan tujuan hidup Anda.

Ketiga, cobalah Anda mempunyai pikiran-pikiran yang positive, mau maju, selalu memikirkan tentang sukses dan bukan dipengaruhi oleh pikiran yang negative yang selalu iri, dengki dan tidak mau maju. Terakhir Anda harus melakukan action dari hari ke hari untuk mencapai kesuksesan. Anda harus dibentuk oleh empat hal ini secara positive.

Kalau segala tindakan Anda mencerminkan nilai positive dalam kehidupan, maka Anda pun akan menjadi lebih positive dan terbentuk sebagai orang posistive yang akan mencapai kesuksesan. Kalau kita tidak bertindak, maka apapun yang kita pikirkan hanya menjadi angan2 dan tidak akan ada hasil apapun. Semua hasil akhir kita ditentukan oleh keputusan dan tindakan2 yang kita lakukan. Salam sukses untuk semua.

God’s Boxes

I have in my hands two boxes,
aku mempunyai dua kotak di tanganku

Which God gave me to hold.
yang Tuhan berikan kepadaku untuk aku pegang.

He said, “Put all your sorrows in the black box,
Dia berkata, “Taruhlah semua kesedihanmu ke dalam kotak yang hitam,

And all your joys in the gold.”
Dan semua kegembiraanmu ke dalam kotak yang berwarna emas”

I heeded His words, and in the two boxes,
aku mengikuti kata-kataNya, dan di dalam kedua kotak itu

Both my joys and sorrows I stored,
kesemua kegembiraan dan kesedihanku kusimpan

But though the gold became heavier each day,
Tetapi walaupun kotak yg berwarna emas menjadi makin berat setiap hari

The black was as light as before.
kotak yang hitam tetap ringan seperti semula

With curiosity, I opened the black,
dengan penuh rasa ingin tahu, kubuka kotak yang hitam

I wanted to find out why,
aku ingin tahu mengapa

And I saw, in the base of the box, a hole,
dan aku lihat, di dasar kotak hitam itu, sebuah lubang

Which my sorrows had fallen out by.
dimana semua kepedihanku jatuh keluar

I showed the hole to God, and mused,
kutunjukkan lubang di kotak hitam itu kepada Tuhan dan merenung

“I wonder where my sorrows could be!”
aku heran kemana perginya semua kepedihanku

He smiled a gentle smile and said,
Dia tersenyum lembut dan berkata

“My child, they’re all here with me..”
“Anakku, semua kepedihanmu itu ada di sini bersamaku

I asked God, why He gave me the boxes,
aku bertanya pada Tuhan, mengapa Ia memberiku kotak-kotak itu

Why the gold and the black with the hole?
mengapa kotak berwarna emas dan hitam dg lubang di dasarnya?

“My child, the gold is for you to count your blessings,
“Anakku, kotak berwarna emas adalah untuk mu menghitung berkat-berkatmu

The black is for you to let go.”
dan yang hitam untukmu melepaskan semua bebanmu

The Power of Giving

Alkisah,

Ada seorang anak berumur belasan tahun bernama Clark,
yang pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya.
Ketika tiba di loket, Clark dan Ayahnya mengantri di belakang
serombongan keluarga besar yang terdiri dari Bapak, Ibu dan
8 orang anaknya.

Keluarga tadi terlihat bahagia malam itu dapat menonton sirkus.
Dari pembicaraan yang terdengar oleh Clark dan Ayahnya,
Clark tahu bahwa Bapak ke-8 anak tadi telah bekerja ekstra untuk
dapat mengajak anak-anaknya menonton sirkus malam itu.
Namun, ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah Bapak
8 anak tadi nampak pucat pasi.
Ternyata uang 40 dollar yang telah dikumpulkannya dengan susah
payah, tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa
dan 8 anak yang total harganya 60 dollar.

Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, bagaimana harus
mengatakan kepada anak2 mereka bahwa malam itu mereka batal
nonton sirkus karena uangnya kurang.
Sementara anak2 nya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar
untuk segera masuk ke sirkus.
Tiba2 Ayah Clark menyapa Bapak 8 anak tadi dan berkata: “Maaf Pak,
uang ini tadi jatuh dari saku Bapak”, sambil menjulurkan lembaran 20
dollar dan mengedipkan sebelah matanya.

Bapak 8 anak tadi takjub dengan apa yg dilakukan Ayah Clark.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang tadi dan mengucapkan
terima kasih kepada Ayah Clark, dan menyatakan betapa 20 dollar tadi
sangat berarti bagi keluarganya.
Tiket seharga 60 dollar pun terbayar dan dengan riang gembira keluarga
besar itupun pun segera masuk ke dalam sirkus.

Setelah rombongan tadi masuk, Clark dan Ayahnya segera bergegas pulang.
Ya, mereka batal nonton sirkus, karena uang Ayah Clark sudah diberikan
kepada Bapak 8 anak tadi.
Malam itu, Clark merasa sangat bahagia.
Ia tidak dapat menyaksikan sirkus, tapi telah menyaksikan dua orang Ayah hebat.

Cerita di atas mengingatkan saya akan kekuatan memberi.
The Power of Giving. Lebih tepatnya lagi “Giving and Receiving”.
Karena memberi dan menerima, adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dari cerita diatas, ada dua kebahagiaan yang terjadi dalam aktifitas memberi.
Yaitu kebahagiaan bagi yang menerima, dan sekaligus kebahagiaan yang diperoleh
si pemberi.
Bapak 8 anak yang “diselamatkan” oleh Ayahnya Clark, tentu pada saat itu akan
merasa sangat bahagia.
Tapi Ayah Clark sendiri juga merasakan kebahagiaan yang sangat luar-biasa.

Kekuatan memberi (dan menerima) ini demikian dahsyat
karena merupakan esensi dari alam semesta itu sendiri.
Tidak berlebihan apabila Deepak Chopra dalam 7 Spiritual Law of Success
mencantumkan “Law of Giving” sebagai hukum kedua untuk sukses.
Alam semesta berjalan menurut sirkulasi memberi dan menerima.
Coba kita perhatikan.. Dalam seluruh fenomena alam, berjalan hukum
memberi dan menerima.
Manusia menghirup oksigen, dan menghembuskan karbon-dioksida,
sementara tanaman menggunakan karbon-dioksida dalam proses fotosintesa
dan membebaskan oksigen.

Proses memberi dan menerima, membuat segala sesuatu di alam semesta ini
berjalan, mengalir.
Orang-orang jaman dahulu rupanya sangat memahami hal ini.
Misalnya uang, alat tukar, dalam bahasa Inggris disebut currency,
yang akar katanya adalah bahasa latin currere yang artinya mengalir.

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah :
Apakah yang harus saya berikan?
Jawabannya sama dengan pertanyaan :
Apa yang Anda ingin dapatkan?
Jika Anda ingin mendapatkan kasih-sayang, berikan kasih sayang.
Jika Anda ingin pengetahuan, sebarkanlah pengetahuan.
Jika Anda ingin uang, maka berikanlah uang.
Ya, ini sesuai dengan prinsip memberi dan menerima di atas,
apa yang mengalir keluar dari Anda, adalah apa yang akan mengalir
kembali kepada Anda.
Alam semesta mengikuti hukum ini.
Bahkan yang mengalir kembali kepada Anda, selalu lebih besar dari
yang mengalir keluar dari Anda, karena semesta jauh lebih besar dari Anda!
Jadi jika Anda ingin banyak uang, berikan uang.
Ada yang bertanya, lalu bagaimana jika uang Anda belum banyak?
Wah, kalau begitu Anda perlu memberi lebih banyak lagi :)

Seandainya giving belum menjadi habit,
sebetulnya ada beberapa tips yg bisa Anda terapkan.
InsyaAllah jika dilaksanakan secara rutin,
akan memperkuat syaraf giving Anda:

1. Hadiah.
Kemanapun Anda pergi untuk bertemu dengan seseorang,
usahakan membawakan suatu hadiah, apapun bentuk hadiah tadi.
Hal ini sebenarnya sudah diajarkan oleh orang tua kita jaman dahulu,
namun sering kita lupakan.
Perhatikan saja, orang tua kita dahulu setiap berkunjung ke rumah
teman atau saudara selalu membawa oleh-oleh.
Anda juga bisa memulai kebiasaan ini.
Mungkin sekedar membawa sebungkus coklat, bunga atau doa.
Ya, kalaupun terpaksa tangan Anda kosong, berikan doa ketika
Anda bertemu dengan seseorang.

2. Bersyukur.
Syukuri setiap pemberian yang Anda terima hari ini.
Lho, bagaimana jika hari ini saya tidak menerima pemberian apa-apa?
Salah, Anda pasti menerima sesuatu dari alam semesta.
Mulai dari udara pagi yang cerah, sinar matahari yang hangat,
sapaan tetangga yang ramah, bahkan teguran dari orang tidak dikenal,
bertemu teman lama yang Anda rindukan, dan masih banyak lagi.
Ya tentu lebih konkret lagi apabila tiba-tiba hari ini ada yang memberikan
handphone atau iPod baru kepada Anda.
Jelas Anda harus syukuri apa yang Anda terima.

3. Cinta.
Berkomitmenlah untuk selalu berbagi apa yang Anda sebetulnya bisa
berikan setiap saat : Cinta.
Mungkin Anda langsung tertawa.
Ah, kalau cuma cinta saya sudah berikan setiap saat untuk keluarga saya.
Mungkin Anda benar.
Yang harus Anda ingat adalah seperti kata Stephen Covey, Cinta adalah
kata kerja, bukan kata benda.
Artinya, harus di praktek-kan.
Ya, kalau Anda sudah memiliki cinta untuk orang-orang terdekat Anda,
praktek-kan.
Berapa kali Anda dalam sehari memeluk dan mengusap kepala anak Anda?
Berapa kali Anda dalam sehari mengucapkan bahwa Anda sayang suami/
istri Anda?

4. Tawa.
Ini bukan hal sepele.
Tertawa adalah ekspresi kebahagiaan.
Bantulah orang-orang di sekitar Anda mengekspresikan rasa bahagia
melalui tertawa.
Berapa kali dalam sehari Anda tertawa?
Tahukan Anda bahwa seorang anak tertawa rata2 150 kali dalam sehari,
dan orang dewasa hanya 15 kali dalam sehari.
Bergembiralah, bagikan tawa di rumah Anda, jika tidak nanti anak Anda
lebih menyukai Mas Tukul daripada Anda.

5. Pengetahuan.
Anda pasti tahu sesuatu lebih baik dari seseorang.
Mungkin Anda jago mengurus ikan Arwana, bagikan.
Anda pintar dalam mengurus tanaman Aglonema? Bagikan.
Anda pintar memasak, tulis resep dan bagikan.
Bagikan pengetahuan Anda, karena pengetahuan adalah gift
dari Yang Maha Kuasa.

Part 1 :

Seorang Lelaki berlari tunggang langgang, dikejar oleh seekor Macan di Hutan..
Macan dapat berlari lebih cepat daripada Manusia & mereka juga makan Manusia
Macan itu sedang lapar ;
Lelaki itu dalam kesulitan..

Ketika Macan hampir saja berhasil menerkamnya,
Orang itu melihat sebuah Sumur di pinggir jalan..
Dalam keputusasaannya, tanpa pikir panjang dia melompat ke dalam sumur itu..

Segera saja dia sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan fatal..
Sumur itu kering & di dasarnya, dia melihat segulung besar Ular hitam..

Secara naluriah dia menggapaikan lengannya untuk meraih tepi sumur & tangannya menemukan sebuah akar pohon yang mampu menahan laju kejatuhannya..

Ketika dia telah merasa cukup tenang, dia melihat si Ular Hitam menjulurkan tubuhnya setinggi mungkin untuk mencoba menyerang kakinya, tetapi kakinya sejengkal lebih tinggi..

Dia lalu mendongakkan kepala & melihat si Macan mencondongkan tubuhnya di bibir sumur untuk mencoba mencakarnya dari atas ;
Tetapi tangannya sejengkal lebih jauh dari cakar si Macan..

Selama dia merenungkan keadaannya yang mengenaskan itu,
Dia melihat 2 ekor Tikus, yang satu hitam & lainnya putih, muncul dari sebuah lubang kecil & mulai mengerat akar pohon yang dipegangnya..

Selama si Macan mencoba mencakarnya,
Kaki belakangnya berpijak pada sebuah pohon kecil di tepi sumur yang menyebabkan pohon itu bergoyang2..

Pada salah satu dahan pohon yang menjuntai dari atas sumur,
Terdapat sebuah sarang Lebah,
Madupun mulai menetes jatuh ke dalam sumur..

Melihat tetesan madu,
Lelaki itu menjulurkan lidahnya untuk menangkap tetesan madu tersebut..
‘Mmmm, Sedap sekali !’
Dia berkata kepada dirinya sendiri & tersenyum..

Sering dalam kehidupan ini kita bagaikan Terjebak di antara Macan lapar & Ular Hitam,
Di antara Kematian & sesuatu yang lebih buruk,
Dengan Siang & Malam (kedua tikus) mengunyah2 seutas tali Kehidupan tempat kita bergantung..

Bahkan dalam situasi yang menakutkan seperti itu,
Selalu ada saja Madu yang menetes entah dari mana..
Jika kita Bijaksana,
Kita akan menjulurkan Lidah untuk menikmati tetes2 madu itu..
Mengapa tidak?
Ketika tak ada yang perlu dilakukan, ya jangan ngapa2 in,
Nikmati saja tetes2 Madu Kehidupan..

Part 2 :

Tatkala Lelaki itu tengah menikmati tetesan Madu,
Tikus2 terus mengerat akar Pohon sehingga menjadi makin tipis & makin tipis saja..

Si Ular Hitam pun terus menjulur2 kan tubuhnya makin dekat dengan kaki si Lelaki ;
Sementara si Macan terus mencondongkan tubuhnya lebih dalam lagi, hingga cakarnya nyaris menjangkau tangan si Lelaki..

Lalu si Macan dengan penuh Semangat mencondongkan kembali tubuhnya lebih dalam lagi..
Tiba2 Macan terjatuh ke dalam Sumur,
Meluncur melewati Lelaki itu
& Menimpa si Ular sampai mati..
Macan itupun sekarat di dasar Sumur..

Dan saat Macan & Ular mati,
Itulah saat yang tepat bagi Orang tersebut untuk melakukan sesuatu..
Dia berhenti menikmati madu,
& Dengan segenap daya memanjat sumur,
Lalu berjalan keluar dari Hutan menuju Keselamatan..

Sesuatu yang tak terduga bisanya terjadi..
Begitulah Kehidupan kita..
Jadi mengapa menyia2kan momen manisnya madu,
Bahkan bila kita berada dalam masalah yang benar2 pelik sekalipun..

Masa Depan itu tak pasti,
Kita tak pernah tahu pasti apa yang akan terjadi kemudian..

Dan saat segala Masalah yang pelik telah sirna,
Hidup tidak selalu harus tidak berbuat apa2,
Menikmati Madu..
Hidup juga harus diperjuangkan dengan segenap daya,
Agar Hidup dapat semakin Hidup..

Penjual Daun Jati

Suatu hari saat pulang ke rumah sehabis melakukan trip bisnis jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari, badan dan pikiran terasa letih sekali, perut lapar. Walaupun ada roti di mobil yang tadi kubeli namun tidak kumakan karena rasa roti tidak seperti yg kuharapkan. Terucap keluhan ,”Ya Tuhan kenapa hidup kok melelahkan seperti ini ?”

Ketika tiba di depan rumah, aku melihat 2 orang ibu tua penjual daun jati. Rasa ingin tahuku mulai timbul, kucoba untuk mendekati mereka dan bertanya dari mana daun sebanyak itu berasal. Ternyata berasal dari pinggir hutan yg aku tahu jaraknya sekitar 20 km. Aku berpikir, gila juga ibu-ibu itu memanggul daun jati seberat ±40 kg dipunggungnya dan berjalan dgn terbongkok melewati jalan berbatu dan gelap…. dan sewaktu kulihat mereka tidak memakai alas kaki. Ya ampuun, seperti apa ya rasanya ?

Ternyata mereka sedang melepas lelah di tempat yg bersih dan terang. Rupanya mereka juga hendak mengisi perut. Aku masukkan mobil ke garasi. Selintas terlihat olehku lauk mereka yang membuat aku seperti dicelikkan….hanya nasi putih, sambal dan tempe sebesar kelingking.

Sambil menurunkan barang-barangku, aku mendengar mereka sesekali tertawa yang seakan tanpa beban…timbul penyesalan kenapa aku tadi menggerutu kpdNYa.

Aku makin penasaran dan keluar lagi membawa roti yang tadi aku beli untuk kuberikan kepada mereka. Aku ajak mereka ngobrol. Ternyata mereka bekerja dari siang hari memetik daun tersebut, menata, mengikatnya dan membawanya ke kota, hanya demi 40 ribu rupiah. Mereka hanya tahu menjual daun jati dan pekerjaan lain mereka tidak mampu.

Duuh benar-benar kejadian ini membukakan mataku. Jika mereka saja sanggup mensyukuri, melakukan pekerjaan seperti itu tanpa mengerutu dan masih banyak senyum, mengapa aku tidak ??

bersyukurlah senantiasa sebab itu yang diinginkan oleh Tuhan Allahmu

Mungkin Memang Adil

Seorang Narapidana paruh baya di kelas Meditasi yang saya ajarkan di penjara minta bertemu dengan saya setelah sesi selesai..
Dia telah mengikuti sesi2 saya selama beberapa bulan & saya telah cukup mengenalnya..

Katanya..
‘Saya ingin memberi tahu Anda bahwa saya tidak melakukan Kejahatan yang membuat saya terkunci di penjara ini..
Saya tidak bersalah..
Saya tahu beberapa penjahat mungkin akan mengatakan hal yang sama & berbohong,
Tetapi saya mengatakan yang sebenarnya kepada Anda..
Saya tidak akan berbohong kepada Anda,
Tidak kepada Anda’

Saya percaya kepadanya..
Keadaan & sikapnya membuat saya yakin bahwa dia tidak berbohong..
Saya mulai berpikir betapa tak adilnya ini &
Bertanya2 bagaimana saya bisa memperbaiki ketidakadilan yang mengerikan ini..

Namun dia menyela pikiran saya..
Dengan tersenyum nakal,
Dia berkata :
‘Tetapi,
Ada banyak kejahatan lain yang saya perbuat,
Tetapi saya tak tertangkap..
Jadi saya kira apa yang terjadi sekarang ini memang ADIL’

Saya tertawa terbahak2..
Rupanya si Tua Bangka ini memahami Hukum KARMA,
Bahkan lebih Baik daripada beberapa Biksu yang saya kenal..

Berapa seringkah kita melakukan ‘Kejahatan’ yang begitu melukai,
Tindakan yang penuh kedengkian,
Tetapi kita tidak dibuat menderita olehnya?
Apakah kita pernah berkata
‘Ini tidak adil !
Mengapa aku tidak ditangkap?’

Ketika kita dibuat menderita oleh suatu alasan yang tidak jelas,
Belum2 kita sudah mengerang..
Bahkan terkadang mengalami Depresi & kita berpikir :
‘Ini tidak adil !
Mengapa aku?’

Barangkali itu sebenarnya ADIL..
Seperti Napi yang saya ceritakan,
Barangkali ada banyak ‘Kejahatan’ lain yang kita perbuat, tetapi kita tak tertangkap..
Inilah yang menjadikan HIDUP ini sebenarnya ADIL..

Sebagai seorang supir selama beberapa tahun di sekitar awal tahun
1910-an, ayahku menyaksikan majikannya yang kaya raya secara diam-diam
memberikan uang kepada banyak orang, dan sadar bahwa mereka tidak akan
pernah mampu mengembalikan uang itu.

Ada satu cerita yang menonjol dalam kenanganku di antara banyak cerita
yang disampaikan ayahku kepadaku. Pada suatu hari, ayahku mengantar
majikannya ke sebuah kota lain untuk menghadiri sebuah pertemuan bisnis.
Sebelum masuk ke kota itu, mereka berhenti untuk makan sandwich sebagai
ganti santap siang.

Ketika mereka sedang makan, beberapa orang anak lewat, masing- masing
menggelindingkan sebuah roda yang terbuat dari kaleng. Salah seorang di
antara anak-anak itu pincang. Setelah memperhatikan lebih dekat, majikan
ayahku tahu bahwa anak itu menderita club foot. Ia keluar dari mobil dan
menghentikan anak itu.

“Apakah kakimu membuatmu susah?” tanya orang itu kepada si anak.

“Ya, lariku memang terhambat karenanya,” sahut anak itu.

“Dan aku harus memotong sepatuku supaya agak enak dipakai. Tapi aku
sudah ketinggalan. Buat apa tanya-tanya? “

“Mm, aku mungkin ingin membantu membetulkan kakimu. Apakah kamu mau?”

“Tentu saja,” jawab anak itu. Anak itu senang tetapi agak bingung
menjawab pertanyaan itu.

Pengusaha sukses itu mencatat nama si anak lalu kembali ke mobil.
Sementara itu, anak itu kembali menggelindingkan rodanya menyusul
teman-temannya.

Setelah majikan ayahku kembali ke mobil, ia berkata, “Woody, anak yang
pincang itu… namanya Jimmy. Umurnya delapan tahun. Cari tahu di mana
ia tinggal lalu catat nama dan alamat orang tuanya. ” Ia menyerahkan
kepada ayahku secarik kertas bertuliskan nama anak tadi.

“Datangi orang tua anak itu siang ini juga dan lakukan yang terbaik
untuk mendapatkan izin dari orang tuanya agar aku dapat mengusahakan
operasinya. Urusan administrasinya biar besok saja. Katakan, aku yang
menanggung seluruh biayanya.”

Mereka meneruskan makan sandwich, kemudian ayahku mengantar majikannya
ke pertemuan bisnis.

Tidak sulit menemukan alamat rumah Jimmy dari sebuah toko obat di dekat
situ. Kebanyakan orang kenal dengan anak pincang itu.

Rumah kecil tempat Jimmy dan keluarganya tinggal sudah harus di cat
ulang dan diperbaiki di sana sini. Ketika memandang ke sekeliling,
ayahku melihat baju compang-camping dan bertambal-tambal dijemur di
seutas tali di samping rumah. Sebuah ban bekas digantungkan pada seutas
tambang pula pada sebuah pohon oak, tampaknya untuk ayunan.

Seorang wanita usia tiga puluh limaan menjawab ketukan pintu dan membuka
pintu yang engselnya sudah berkarat. Ia tampak kelelahan, dan tampangnya
menunjukkan bahwa hidupnya terlalu keras.

“Selamat siang,” ucap ayahku memberi salam. “Apakah Anda ibu Jimmy?”

Wanita itu agak mengerutkan dahinya sebelum menyahut.

“Ya. Apakah ia bermasalah?” Matanya menyapu ke arah seragam ayahku yang
bagus dan disetrika rapi.

“Tidak, Bu. Saya mewakili seorang yang sangat kaya raya yang ingin
mengusahakan kaki anak Anda dioperasi agar dapat bermain seperti
teman-temannya. “
“Apa-apaan ini, Bung? Tak ada yang gratis dalam hidup ini.”

“Ini bukan main-main. Apabila saya diperbolehkan menerangkannya kepada
Anda dan suami Anda, jika ia ada saya kira semuanya akan jelas. Saya
tahu ini mengejutkan. Saya tidak menyalahkan bila Anda merasa curiga.”

Ia menatap ayahku sekali lagi, dan masih dengan ragu-ragu, ia
mempersilahkannya masuk. “Henry,” serunya ke arah dapur, “Ke mari dan
bicaralah dengan orang ini. Katanya ia ingin menolong membetulkan kaki
Jimmy.”

Selama hampir satu jam, ayahku menguraikan rencananya dan menjawab
pertanyaan-pertanya an mereka. “Apabila Anda mengizinkan Jimmy menjalani
operasi,” katanya, “Saya akan mengirimkan surat-suratnya untuk Anda
tandatangani. Sekali lagi, kami yang akan menanggung seluruh biayanya.”

Masih belum bebas dari rasa terkejut, orang tua Jimmy saling memandang
di antara mereka. Tampaknya mereka masih belum yakin.

“Ini kartu nama saya. Saya akan menyertakan sebuah surat kalau nanti
saya mengirimkan dokumen-dokumen perizinan. Semua yang telah kita
bicarakan akan saya tuliskan dalam surat itu. Andai kata masih ada
pertanyaan, telepon atau tulis surat ke alamat ini.” Tampaknya sedikit
banyak ini memberi mereka kepastian. Ayahku pergi. Tugasnya telah ia
laksanakan.

Belakangan, majikan ayahku menghubungi walikota, meminta agar seseorang
dikirim ke rumah Jimmy untuk meyakinkan keluarga itu bahwa tawaran
tersebut tidak melanggar hukum. Tentu saja, nama sang dermawan tidak
disebutkan.

Tidak lama kemudian, dengan surat-surat perizinan yang telah
ditandatangani, ayahku membawa Jimmy ke sebuah rumah sakit mewah di
negara bagian lain untuk yang pertama dari lima operasi pada kakinya.

Operasi-operasi itu sukses. Jimmy menjadi anak paling disukai oleh para
perawat di bangsal ortopedi rumah sakit itu. Air mata dan peluk cium
seperti tak ada habisnya ketika ia akhirnya harus meninggalkan rumah
sakit itu. Mereka memberikannya sebuah kenang-kenangan, sebagai tanda
syukur dan peduli mereka… sepasang sepatu baru, yang dibuat khusus
untuk kaki “baru”nya.

Jimmy dan ayahku menjadi sangat akrab karena sekian kali mengantarnya
pulang dan pergi ke rumah sakit. Pada kebersamaan mereka yang terakhir,
mereka bernyanyi-nyanyi, dan berbincang tentang apa yang akan diperbuat
oleh Jimmy dengan kaki yang sudah normal dan sama-sama terdiam ketika
mereka sudah sampai ke rumah Jimmy.

Sebuah senyum membanjiri wajah Jimmy ketika mereka tiba di rumah dan ia
melangkah turun dari mobil. Orangtua dan dua saudara laki- lakinya
berdiri berjajar di beranda rumah yang sudah tua itu.
“Diam di sana , ” seru Jimmy kepada mereka. Mereka memandang dengan
takjub ketika Jimmy berjalan ke arah mereka. Kakinya sudah tidak pincang
lagi.

Peluk, cium dan senyum seakan tak ada habisnya untuk menyambut anak yang
kakinya telah “dibetulkan” itu. Orang tuanya menggeleng- gelengka n
kepalanya sambil tersenyum ketika memandangnya. Mereka masih tidak bisa
percaya ada orang yang belum pernah mereka kenal mengeluarkan uang
begitu banyak untuk membetulkan kaki seorang anak laki-laki yang juga
tidak dikenalnya.

Dermawan yang kaya raya itu melepas kacamata dan mengusap air matanya
ketika ia mendengar cerita tentang anak yang pulang ke rumah itu.
“Kerjakan satu hal lagi, ” katanya, “Menjelang Natal, hubungi sebuah
toko sepatu yang baik. Buat mereka mengirimkan undangan kepada setiap
anggota keluarga Jimmy untuk datang ke toko mereka dan memilih sepatu
yang mereka inginkan. Aku akan membayar semuanya. Dan beritahu mereka
bahwa aku melakukan ini hanya sekali. Aku tidak ingin mereka menjadi
tergantung kepadaku.”

Jimmy menjadi seorang pengusaha sukses sampai ia meninggal beberapa
tahun yang lalu.

Sepengetahuanku, Jimmy tidak pernah tahu siapa yang membiayai operasi
kakinya.

Dermawannya, Mr, HENRY FORD, selalu mengatakan lebih menyenangkan
berbuat sesuatu untuk orang yang tidak tahu siapa yang telah melakukannya.

” Ada kebahagiaan yang kita rasakan dari menolong orang lain” (Paul Newman)

Older Posts »