Jangan Mengendarai, Tapi Mengemudikan!

Posted: 23 October, 2008 in Faith, Tips

Pada saat kita melihat orang di atas gajah, mungkin kita berpikir orang itu sedang mengendarai gajah tersebut. Belum tentu. Siapa mengendarai siapa? Tergantung siapa yang menentukan arah. Apakah si gajah atau si orang? Kalau gajah yang menentukan arah, kita cuma penumpangnya. Kita hanya mengendarainya. Kalau kita yang menentukan arah, kitalah pengendaranya, kita yang memegang kontrol atau kendali. Kita yang mengemudikannya. Begitu juga dengan kehidupan.

Kehidupan kita sekarang terbentuk karena keputusan-keputusan kita di masa lalu. Entah itu keputusan kita untuk mengambil keputusan sendiri, atau keputusan kita untuk membiarkan orang lain yang mengambil keputusan buat kita. Apakah kita hanya mengendarai atau mengemudikan kehidupan kita?
Kita dipanggil untuk mengemudikan, bukan hanya kehidupan sendiri, tapi orang lain. Itulah fungsi seorang pemimpin. Bukan sekitar yang seharusnya membentuk pemikiran kita, tapi kita yang seharusnya membawa perubahan kepada sekitar.

Bagaimana caranya untuk mengemudikan hidup kita?

1. Semua berawal dari sebuah visi
“Apabila seseorang tidak tahu pelabuhan mana yang dia cari, maka setiap angin adalah angin yang benar”
Kapal layar perlu angin untuk bergerak. Apabila si pelayar mau menuju ke utara, hanya pada saat angin bertiup ke utara baru layar dinaikan, jika tidak maka layar akan diturunkan. Bagaimana caranya si pelayar tahu kapan harus menaikkan atau menurunkan layar kalau dia tidak tahu arah tujuannya? Semua angin sepertinya baik. Angin itu ibarat kesempatan. Banyak sekali kesempatan yang akan datang dalam hidup kita. Semua terlihat baik. Tapi tidak semuanya untuk kita. Dan kalau kita tidak tahu visi kita, akan susah untuk menentukan kesempatan mana yang untuk kita, mana yang bukan. Salah ambil kesempatan adalah kesia-sian dalam waktu, uang dan tenaga.
“dengan melihat hari ini, engkau dapat melihat tangan Tuhan di masa lalu. Dengan melihat masa depan, engkau dapat melihat tangan TUhan di hari ini.”

2. Meresponi dengan perubahan untuk sesuatu yang lebih baik
Perubahan adalah sebuah proses, janganlah kita puas dengan yang biasa-biasa saja.. TAPI BERUSAHALAH UNTUK MENJADI LUAR BIASA

3. Jangan menyangkal kebenaran, tetapi hadapi dan bersukacitalah
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. (1Kor10:13)
Bila kita memutuskan untuk bertekun di dalamnya, karakter kita akan terbentuk, lalu pengharapan Tuhan akan datang. Kita naik ke tingkat yang lebih tinggi. Di tingkat yang lebih tinggi ini, kekuatan kita pasti lebih besar. Cobaan akan lebih berat, tapi kalau kita memutuskan untuk bertekun di dalamnya, karakter kita terbentuk lagi, dan pengharapan Tuhan pun datang. Kita naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Tanpa disadari, saat kita lihat melihat ke belakang, kita bukan orang yang sama lagi. Kita telah diubahkan dan “engkau akan tetap naik dan bukan turun!!” (Ulangan 28:13)

Kembali ke analogi gajah tadi, mungkin terlihat mustahil untuk orang di atas gajah mengontrol gajah tersebut. Gajah yang begitu besar, dengan mudah akan mengontrol orang yang ada di atasnya. Tapi ternyata ada rahasianya. Di salah satu tempat wisata gajah di Thailand, si pawang gajah mengendalikan gajah yang dikendarai dengan cara menyentil telinga kiri gajah apabila ingin gajahnya ke kanan, dan menyentil telinga kanan gajah untuk ke kiri. “begitu juga rahasia untuk mengemudikan kehidupan kita, dan akan tersingkap melalui proses.”

HAVE A NICE DRIVE GUYS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s