Kisah Sang Tikus

Posted: 17 November, 2008 in Relation

Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk
mengamati sang petani dan isterinya membuka sebuah
bungkusan. Ada makanan pikirnya? Dia terkejut sekali,
ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari
kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit
memberi peringatan. “Awas, ada perangkap tikus di
dalam rumah, hati-hati, ada perangkap tikus di dalam
rumah!”

Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap
menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, “Ya
maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah
besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada
masalahnya. Jadi jangan buat aku peninglah.”

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya,
“Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap
tikus di rumah!” “Wah, aku menyesal dengar khabar
ini,” si kambing menghibur dengan penuh simpati,
“tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali
berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!”

Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. ” Oh? sebuah
perangkap tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya?”
kata lembu itu sambil ketawa. Jadi tikus itu
kembalilah ke rumah, kepala tertunduk dan merasa
begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa
menghadapi perangkap tikus itu sendirian.

Malam itu juga terdengar suara bergema diseluruh
rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berjaya
menangkap mangsanya. Isteri petani berlari pergi
melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan itu
dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu adalah
seekor ular berbisa.

Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu.
Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit.

Dia kembali ke rumah dengan demam. Sudah menjadi
kebiasaan setiap orang akan memberikan orang yg sakit
demam panas minum sup ayam segar, jadi petani itu pun
mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang
mencari bahan-bahan untuk supnya itu.

Penyakit isterinya berkelanjutan sehingga teman-teman
dan tetangganya datang menjenguk, dari jam ke jam
selalu ada saja para tamu. Petani itupun menyembelih
kambingnya untuk memberi makan para tamu itu.

Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Dia mati, jadi
makin banyak lagi orang-orang yang datang untuk
pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah
menyembelih lembunya agar dapat memberi makan para
pelayat itu.

Moral kisah ini:
Apabila kita mendengar ada seseorang yang menghadapi
masalah; janganlah berpikir bahwa itu tidak ada
kaitannya dengan diri kita, ingatlah bahwa sebuah
perangkap tikus dapat menyebabkan seluruh ‘ladang
pertanian’ ikut menanggung risikonya.

Ladang Pertanian Ibarat Lingkungan Kita Sehari2
Berhentilah Mementingkan Diri Sendiri.

Berhentilah Memikirkan Keselamatan Sendiri
WHY ???????
Karena : Sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak
keburukan dari baiknya. Mari kita refleksikan sifat2
yang di wakili oleh si Ayam (Cuek) , si Lembu
(Menertawakan orang lain), si Kambing (Munafik) atau
si Ular (Lengah hingga terperangkap)

Sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s