Kisah Seorang Ibu yang Akan Menyelesaikan Skripsinya

Posted: 17 November, 2008 in Relation

Fiter: Ini adalah cerita seorang ibu yang akan menyelesaikan skripsinya.

Saya adalah ibu tiga orang anak (umur 14, 12, dan 3 tahun) dan baru saja
menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah
Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif dengan kualitas yang saya harapkan
setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikannya diberi nama
“Tersenyum”. Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan tersenyum
kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka. Saya adalah
seorang yang mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang
dan mengatakan “hello”, jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.
Segera setelah kami menerima tugas tsb, suami saya, anak bungsu saya,
dan saya pergi ke restoran McDonald’s pada suatu pagi di bulan Maret yang
sangat dingin dan kering. Ini adalah salah satu cara kami dalam antrian,
menunggu untuk dilayani, ketika mendadak setiap orang di sekitar kami
mulai menyingkir, dan bahkan kemudian suami saya ikut menyingkir. Saya
tidak bergerak sama sekali… suatu perasaan panik menguasai diri saya
ketika saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir.

Ketika berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang sangat
menyengat, dan berdiri di belakang saya dua orang lelaki tunawisma.
Ketika saya menunduk melihat laki-laki yang lebih pendek, yang dekat
dengan saya, ia sedang “tersenyum”. Matanya yang biru langit indah
penuh dengan cahaya Tuhan ketika ia minta untuk dapat diterima. Ia berkata
“Good day” sambil menghitung beberapa koin yang telah ia kumpulkan.
Lelaki yang kedua memainkan tangannya dengan gerakan aneh sambil
berdiri di belakang temannya. Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu
menderita defisiensi mental dan lelaki dengan mata biru itu adalah
penolongnya. Saya menahan haru ketika berdiri di sana bersama mereka.
Wanita muda di counter menanyai lelaki itu apa yang mereka inginkan.
Ia berkata, “Kopi saja, Nona” karena hanya itulah yang mampu mereka beli.
(Jika mereka ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh mereka,
mereka harus membeli sesuatu. Ia hanya ingin menghangatkan badan). Kemudian
saya benar-benar merasakannya – desakan itu sedemikian kuat sehingga saya
hampir saja merengkuh dan memeluk lelaki kecil bermata biru
itu. Hal itu terjadi bersamaan dengan ketika saya menyadari bahwa semua
mata di restoran menatap saya, menilai semua tindakan saya. Saya tersenyum
dan berkata pada wanita di belakang counter untuk memberikan saya dua
paket makan pagi lagi dalam nampan terpisah. Kemudian saya berjalan
melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai
tempat istirahatnya. Saya meletakkan nampan itu ke atas meja dan
meletakkantangan saya di atas tangan dingin lelaki bemata biru itu.
Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang, dan berkata “Terima
kasih.”

Saya meluruskan badan dan mulai menepuk tangannya dan berkata, “Saya
tidak melakukannya untukmu. Tuhan berada di sini bekerja melalui diriku
untuk memberimu harapan.” Saya mulai menangis ketika saya berjalan
meninggalkannya dan bergabung dengan suami dan anak saya. Ketika saya
duduk suami saya tersenyum kepada saya dan berkata, “Itulah sebabnya
mengapa Tuhan memberikan kamu kepadaku, Sayang. Untuk memberiku harapan.”
Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan pada saat itu kami
tahu bahwa hanya karena Rahmat Tuhan kami diberikan apa yang dapat kami
berikan untuk orang lain. Hari itu menunjukkan kepadaku cahaya kasih
Tuhan yang murni dan indah.

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah, dengan cerita ini
ditangan saya. Saya menyerahkan “proyek” saya dan dosen saya membacanya.
Kemudian ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkan saya membagikan
ceritamu kepada yang lain?” Saya mengangguk pelahan dan ia kemudian
meminta perhatian dari kelas. Ia mulai membaca dan saat itu saya tahu
bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari Tuhan, membagikan
pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk disembuhkan.

Dengan caraNya sendiri, Tuhan memakai saya untuk menyentuh orang-orang
yang ada diMcDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap jiwa yang
menghadiri ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya
lulus dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari:
PENERIMAAN YANG TAK BERSYARAT.

Banyak cinta dan kasih sayang yang dikirimkan kepada setiap orang yang
mungkin membaca cerita ini dan mempelajari bagaimana untuk
MENCINTAI SESAMA DAN MEMANFAATKAN BENDA-BENDA BUKANNYA MENCINTAI
BENDA DAN MEMANFAATKAN SESAMA.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s