Kisah Valentine Terakhir (such a nice story)

Posted: 17 November, 2008 in Relation

Aku pernah bertanya dalam hatiku, apa yang aku cari
ketika di hari semua orang memberikan kasih sayang. Sedangkan aku
tetap disini untuk terdiam, Bertanya siapa yang akan memberikan aku
sebuah coklat ataupun setangkai mawar merah yang artinya aku
disayangi. Dan ternyata hingga kini usiaku 20 tahun, tak seorang pun
yang memberikan hadiah, namun tahun ini aku mendapatkan sebuah hal
yang tak pernah aku pikirkan. Hadiah dari Kakekku?

Ia datang menempuh jarak yang cukup jauh dengan sepeda tuanya yang
layak untuk dimuseumkan. Bunyi sepeda yang mengiris dengki dan ngilu.
Namun ia tetap setia datang untuk memberikan aku sebuah hadiah. Aku
membuka pintu utama rumahku ketika ia datang memarkir sepedanya di
halaman rumahku. Ia tersenyum menatapku dengan membuka topi tua klasik
Cinanya. Usianya yang sudah 70 tahun tampak terlihat dengan rambutnya
yang sudah memutih.

“Kakek kok siang siang gini datang , apa ga kepanasan?”

“Gapapa. Mana mamamu?” Tanya Kakek

“Dia lagi pergi ke rumah tetangga..?”

“Oh.. ya sudah tak apa? Kamu kenapa tidak kuliah?”

“Ya, ampun kakek ini kan hari libur . hari minggu. Kakek pikun ya?”

“Ah.. maaf, Kakek lupa.. ini Kakek ada hadiah kecil untuk kamu?

Kakek memberikan aku sebuah hadiah dalam kotak kecil usam yang
berwarna merah. Tampak dekil dan aku menyentuhnya dengan sedikit jijik
lalu membukanya tampak sebuah liontin anting berbentuk bunga matahari
perak.

“Apa ini.. ?

“Ini hadiah untuk kamu, Cuma ada satu. Satunya lagi ilang. Ini saja
baru kakek temukan pas lagi beres beres gudang, sayang kalau dibuang.
Itu hadiah berkesan kakek untuk kamu.?”

“Hah.. mana jaman aku pake ginian..?”

“Hehehe.. ya simpan saja kalau kamu tidak suka?”

“Oh..kakek mau masuk dulu ga?”

“Kakek mau duduk diteras rumah kamu saja. Kamu ambilkan kakek Teh
hangat saja?”

“Oo.. ya sudah tunggu ya..!”

Beberapa saat kemudian aku keluar dengan sebuah Teh hangat sisa milik
ayahku yang sedang pergi bersama ibu. Memberikan teh tersebut di meja
teras, menatap wajah kakek yang sedang termenung memandang halaman
rumahku yang dipenuhi ikan mas di kolam kecil.

“Kek. Ini air tehnya..!”

“Makasih.. kamu kenapa kok valentine gini masih dirumah?”

“Hm.. kakek tau valentine juga ya.. kirain ga ada jamannya!”

“Enak saja. Biar tua gini.. kakek juga pernah muda lah!”

“Oh gitu ya..”

Aku memperhatikan wajahnya yang termenung. Keringat basah yang
bercucuran di keningnya terlihat menyatu dengan keriput tua di garis
wajahnya. Lalu ia tiba tiba mengajakku bicara.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

“Kamu kenapa tidak punya pacar sampe sekarang?”

“Ga tau , Kek. Nasib jelek kali. Emangnya kenapa?”

“Gapapa. Kakek juga pernah berpikir sama kayak kamu kok. Tapi jangan
cemas Angel. Takdir cinta manusia itu akan selalu ada..!”|

“Lah.. kok bisa ngomong gitu. Kan angel ga jelek jelek amet kek.
Kenapa masih single ya. Iri deh sama
temen temen yang punya pacar di valentine gini.!!”

“hehehe.. kakek ada cerita buat kamu. Mau denger..?”

Aku mulai males mendengarkan dongengnya yang selalu kedengar sejak
kecil. Namun kesepian dalam rumah juga membosankan. Akhirnya aku
terdiam mendengarkan kisahnya saja. Toh tidak ada salahnya.

Di masa lalu.

Albert ( Kakekku) adalah seorang pria pemalu dalam segala hal. Bahkan
hingga ia duduk dibangku Sma ia tidak mendapatkan kekasih yang ia
inginkan. Namun ia bertaruh dengan seorang rekannya akan membawa
seorang wanita di hari Valentine. Ia pun bertekad memamerkan wanita
itu pada harinya. Dengan segenap usaha dan waktu yang sempit ia pun
mulai mencari cari. Dari adik kelas yang cantik hingga kakak kelas
yang cantik semuanya ia coba cari untuk menjadi pacarnya.

Namun tidak ada satupun yang berhasil membuat hatinya luluh. Wajah
kakek tidak jelek jelek banget untuk menjadi pria jomblo. Ketika ia
pulang sekolah dengan sepedanya yang masih ada hingga sekarang ia
pake. Bannya kempes karena tertancap paku. Ia pun terpaksa mendorong
sepeda itu hingga kerumah. Di dalam perjalanan. Seorang gadis muda
berlari memukul kepalanya dengan keras, wanita itu tampak pucat.
Kakek kontan marah

“Ngapain sih lo pake mukul Kepala gua. Sakit tau?”

Gadis itu tampak pucat dan tidak bicara . ia hanya mengerakkan tangan
seperti memberikan sandi kepada Albert untuk mengerti maksudnya.

“Apa sih. Ga ngerti ah.. gila ya lo?”

Gadis itu terus mengerakkan tangannya. Wajahnya seperti meminta
pertolongan. Albert mengira gadis itu tidak waras. Lalu pergi
ketakutan. Tapi gadis itu tidak menyerah begitu saja, ia pun menarik
lengan baju Albert. Albert pun semakin marah.

“Eh orang cacat ngapain sih ganggu gua. Ngomong aja ga bisa. Uda
sana pergi”

Gadis itu terdiam. Ia menangis. Dan Albert menjadi tak enak hati
berkata kasar. Lalu berkata

“Emang ada apa sih?” Tanya Albert.

Gadis itu menarik tangan Albert untuk mengikutinya. Memasuki sebuah
tepi sawah kosong. Ketika mereka tiba. Terlihat seekor anak burung
terjatuh dari kandangnya yang terdapat di atas rumah pohon keci.
Albert mengerti maksud gadis itu, ia hendak meminta tolong Albert
mengembalikan burung kecil itu diatas pohon. Albert hanya berpikir
mengapa gadis itu harus peduli terhadap burung kecil yang tak ada
artinya tersebut. Untungnya bayi burung kecil itu tidak terluka. Ia
selamat ke kandangnya , gadis itu tampak senang. Wajahnya yang sedih
kemudian berseri seri.

“Uda kan. Sana pulang..?” ujar albert.

Albert pun meninggalkan gadis itu begitu saja. Namun gadis itu
menempuk badannya dari belakang.

“Kenapa lagi?”

Gadis itu mengambil sebuah tangkai pohon kecil menuliskan sesuatu di
tanah liat. Lalu Albert membacanya.

“Nama aku sapa?.. oh nama aku Albert, kamu?” Tanya Albert

“Agnes.” tulisan itu berkata

“Oh.. Agnes. ” ujar Albert

Gadis itu kemudian menuliskan tulisan kembali

“Terima kasih. salam kenal”

“Ok. Sama sama.. gua pulang dulu ya. Lo pulang sana .. ”

Albert berjalan meninggalkan Agnes. Namun Agnes terus mengikuti pria
itu. Albert menjadi risih namun tidak berusaha peduli. Ia terus
mengotong sepedanya dan gadis itu terus mengikutinya , ia semakin emosi.

“Ngapain sih lo, ikutin gua terus?”

Gadis itu terdiam kemudian menunjuk rumah disampingnya. Albert yang
tampak marah ikut terdiam memperhatikan rumah di pinggil jalan yang
cukup besar.

“itu rumah lo?” Tanya Agnes dan angel mengangguk tanda ya

“Oh.. sorry kirain gua lo ikutin gua terus. Kalau gitu pulang
sana . Gua mau pulang juga!”

Albert memastikan gadis itu telah masuk kerumahnya , hatinya tenang .
ia tidak berpikir gadis itu jelek namun sayang ia bisu. Andai saja ia
tidak bisu ia akan terlihat sempurna. Ketika beberapa meter berjalan.
Gadis itu kemudian kembali berlari mendekatinya. Nyaris saja Albert
naik pitam namun ketika gadis itu muncul dengan alat pompa ia mulai
mengerti kebaikan gadis itu. Albert menatapnya gadis itu yang baik
hati. Kemudian mereka berpisah.

Keesokan harinya.

Albert sedikit emosi ketika sahabatnya Hendra tak henti henti mengejek
dia tidak laku. Hari Valentine semakin dekat. Namun ia belum saja
mendapatkan gadis impian. Akhirnya ia pun memutuskan bolos dari
pelajaran selanjutnya. Ia menarik sepedanya kabur dari sekolah dengan
ejekan teman temannya. Ia mengayuh arah sepedanya tampak arah.
Kemudian hujan turun. Ia terhenti di sebuah pohon kecil untuk berteduh
dari hujan besar tersebut.

“Sialan Hendra , pake ngeledekin gua. Dia ga tau aja cewek impian gua
kayak apa. Emangnya gua murahan kayak dia semua juga diembat! Bikin
keki aja!”

Ketika ia mengeluh. Hujan tak semakin mengecil namun semakin besar.
Tiba tiba muncul Agnes gadis bisu yang ia jumpai dengan sebuah payung
berjalan melihatnya. Gadis itu kemudian menyapanya dengan tepukan
tangan. Albert yang sedang melamun sedikit kaget ketika melihat Agnes.

“Ngapain lo ujan ujan keluyuran?” Tanya Albert

Kali ini gadis itu tidak lagi terdiam , ia mengambil tas yang berisi
buku kecil kemudian menuliskannya.

“Habis pergi lihat burung kemarin. Ingat?”

“Oh. Inget , ngapain dilihatin terus. Emang itu burung kamu?”

“Bukan. Itu burung tak dikenal. Kasian takut jatuh lagi. Dan ternyata
tidak. Kamu keujannya ya?” tulisnya

“Ya iyalah emang kalau disini berdiri ngapain?”

“Tunggu ya.. aku pulang ambil payung buat kamu?”

“Hah ga usah.. repotin aja..”

Agnes tersenyum kemudian berlari bersama payungnya menembus hujan
lebat. Mungkin ia tidak mendengarkan suara Larangan Albert karena
hujan besar membisingkan suasana. Beberapa saat kemudian gadis itu
kembali dengan pakaian yang basah walau mengunakan payung. Ia
tersenyum sambil memberikan Payung itu pada Albert.

“Idih. lo ngeyel amet sih. Uda bilang jangan ! liat deh kamu jadi
basah kuyub gitu”

“Gapapa.. aku uda biasa. Ini payung pake ya.. aku mesti pulang dulu!”

“terus gua balikin payung ini gimana?”

“Kamu masih inget kan rumah aku. Ntar kalau sempat kembalikan ,
kalau tidak sempat ya sudah buat kamu saja!”

“Oh.. ya uda!”

Albert melihat gadis itu berlari menghilang diantara hujan. Ternyata
Agnes berlari di sebuah tempat orang lain berteduh. Ia melihat seorang
ibu yang terdiam menunggu hujan dengan payung yang ia tidak pakai.
Kemudian memberikan payung itu pada ibu tersebut, ia berhenti dijalan
tadi sebelumnya ia berkata pada ibu itu untuk meminjam payungnya
sesaat karena tidak mungkin ia pulang kerumah mengambil payung. Lalu
payung yang ia gunakan sekarang ia berikan kepada ibu itu. Payung
miliknya kini dipakai oleh Albert.

***

Albert menuju rumah gadis itu untuk mengembalikan payung yang ia
pinjam hujan lusa lalu. Ia tiba ke rumah yang cukup besar. Namun
tampak sepi, ia mengetuk pintu dan kemudian muncul Agnes menyambutnya.
Tampak basa basi Albert mengembalikan payung tersebut. Ia menatap
wajah agnes yang cukup cantik dari kepala hingga kakinya. Dan mulai
berpikir.

“Mungkin kalau Agnes gua bawa ke valentine nanti. Mereka bakal kaget
ya. Cantik. Tapi dia kan bisu. Gimana ntar jadi ejekan lagi! ”

Ia pun melewatkan angan angan itu. Dan pergi menuju sekolahnya. Agnes
menatap pria itu dengan tersenyum. Melambai-lambaikan tangannya
terlihat girang memberikan salam perpisahan. Di sekolah, kembali
terjadi perdebatan dengan Hendra

“Bet, valentine itu besok. Mana cewek lo?” ledek Hendra dan Albert
terdiam sambil berpura pura menulis

“Udalah Bet. Kita tau kok. Lo homo hahahaha” seluruh kelas tertawa dan
Albert mulai tidak tahan

“Gua bukan Homo. Gua ada Pacar. Namanya Agnes.!!”|

Seluruh isi keras yang bising menjadi sunyi mendengar ucapan Albert.
Hendra tidak percaya begitu saja.

“Oh.. kalau gitu besok buktikan. Tapi kalau sampe dia ga ada atau lo
Cuma bohong. Lo kita anggap Homo, semua orang uda pikir gitu juga. Ok!!”

“Ok!!”

Albert terlanjur mengeluarkan janji yang tidak bisa ia
pungkirin. Sepanjang perjalanan ia mulai berpikir kesalahan fatal yang
ia katakana. Namun tidak ada jalan lain selain menjalankan semuanya
dengan terpaksa. Ia pun pergi menuju rumah Agnes. Agnes menyambutnya
dengan gembira. Lalu terlihat kaget mendengarkan ajakan valantien dari
Albert.

“Mau ga lo besok ikut valentine day di sekolah gua?”

“emang boleh?” tulis Agnes

“Boleh.. tapi janji satu hal ya! Sama gua!”

“Apa?”

“Maaf sebelumnya. Jangan pernah tunjukin ke semua orang kalau lo itu
bisu?”

Wajah agnes seketika terlihat murung. Namun walau tersinggung. Ia pun
bersedia menyanggupinya. Albert pun mengatur semuanya. Mulai dari
semua pembicaran yang tidak boleh menujukkan ia adalah seorang bisu.
Hingga penjemputan dan apapun yang dapat membuatnya tidak malu karena
membawa Agnes ke sekolahnya. Hari itu pun ditunggu.

Keesokan harinya.

Albert terpaku ketika menjemput agnes dengan sepedanya. Gadis itu
terlihat cantik dengan gaun putihnya. Ia sedikit terlena melihat Agnes
begitu cantik dan sempurna. Ia pun membawanya ke sekolah. Di sekolah
telah terlihat semua murid yang membawa pasangan masing masing. Ketika
Albert dan Agnes tiba. Semua mata terpaku tak percaya. Mengapa Albert
bisa membawa seorang gadis cantik. Termasuk Hendra. Lawan taruhannya.

“Ini Agnes. Pasangan gua!” kenal Albert pada Hendra yang juga langsung
jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kemudian keduanya meninggalkan Hendra dengan perasaan malu karena
harus mengakui kehebatan Albert. Pesta berakhir sukses dengan
kemenangan Albert. Kemudian Albert dan Agnes dapat pulang dengan
senyuman besar. Dalam perjalanan , agnes menepuk pundak Albert dari
sepedanya.

“Kenapa?”

“Mau anterin aku ke rumah pohon burung itu ga?” tulis agnes

Albert pun melaju sepedanya ke rumah pohon tersebut. Ketika mereka
tiba. Agnes menangis histeris. Ini pertama kalinya albert mendengar
suara pertama dari gadis itu. Ia menangis karena burung kecil itu
terjatuh lagi dan kali ini terluka cukup parah hingga kakinya
mengalami luka. Albert dan Agnes tidak dapat berbuat apa apa selain
membawa burung itu kerumah Agnes. Setelah mengobati lukanya . burung
itu dirawar dirumah agnes.

“lo kenapa begitu peduli sama burung kecil ini”

“Karena burung ini hidup di kandang yang dibuat oleh Kakek untuk aku
sebelum meninggal?” tulis Agnes

“Oh..” lalu agnes pun bercerita

Ia memang datang ke kampong Kakeknya untuk mengambil barang barang
yang hendak dipindahkan dari rumah kakeknya, jadi ia hanya menikmati
liburan disini. Hingga ayah dan ibunya datang menjemputnya.

“Jadi lo akan pergi dong?” Tanya Albert

“Iya.. kapan kapan kamu datang ya ke daerah aku di Serang?”

“Hm. Kalau ada waktu datang dong. Kan rumah ini tetap perlu dijaga.”

“Iya pasti kok.. lagian aku masih lama disini.. tenang aja!”

Albert pun semakin dekat dengan gadis itu. Ia mulai menjadi dekat
dengan gadis itu. Setiap hari mereka selalu merawat burung itu
bersama. Hubungan yang semakin dekat dari hari ke hari. Hingga Hendra
memergoki albert bersama gadis itu dan menyadari gadis itu cacat. Ia
mulai berambisi membuat malu Albert di seluruh kelasnya.

Albert pergi ke sekolah dan semua memandanya lucu. Ia tak mengerti apa
yang mereka tertawakan hingga ketika ia tiba di kelasnya. Muncul tulisan.

“PACAR ALBERT ITU CACAT ALIAS BISU.TUNA RUNGU. KASIAN DEH LO”

Albert spontan marah. Dan menghapus tulisan itu, namun semua orang
mulai tau. Dan ia pun menjadi malu karenanya. Hendra datang menghampirinya

“Aloh kekasih bisu. Ternyata lever lo ama gadis cacat ya hahahaha”

Mendengar ejekan itu . Albert marah dan menghajar Hendra, mereka
terlibat perkelahian dan dihukum oleh guru mereka. Albert yang telah
malu, menjadi bodoh sehingga ia mulai berpikir untuk memperbaiki nama
baiknya dengan memacari seorang adik kelas yang ia tidak cintai.
Mereka pun jadian. Hendra mengunakan kesempatan ini untuk bertemu
dengan agnes. Ia pun membongkar semua tujuan Albert kepada Agnes.

“Jadi dia deketin lo Cuma buat bikin gua malu supaya dia keliatan
laku.padahal dia Cuma manfaatin lo. Mana mau dia sama lo. Cacat . bisu
gitu”

Agnes berlari menangis mendengarkan kata kata itu. Ia mulai curiga
ketika melihat Albert menghilang sejak beberapa hari lalu tanpa pernah
menemuinya. Ia tiba dirumahnya penuh air mata. Hatinya terluka.
Sedangkan Albert tidak pernah tau jika rahasia tujuananya kepada Agnes
telah dibongkar oleh Hendra. Ia memang tak pernah mengujungin Agnes
untuk beberapa hari karena kekasih barunya selalu ingin ditemanin
setiap saat.

***

Agnes merawat burung kecil itu hingga kembali normal. Ia pun berpikir
untuk mengambalikan burung itu ke rumah kecilnya. Ketika ia mencoba
memanjat ke rumah pohon itu ia terjatuh. Albert tiba tiba muncul dan
menolongnya. Namun Agnes mendorong tubuhnya dengan wajah marah. Albert
menjadi bingung.

“Kok lo marah, kenapa?”

Agnes tidak berkata apapun. Ia pergi begitu saja meninggalkan Albert.
Tanpa sadar ketika terjatuh. Liotin anting yang agnes pake terjatuh
satu di lantai. Albet mengambilnya lalu mengejar gadis itu yang sedang
berjalan dengan kaki kesakitan. Albert berusaha memanggil Agnes. Namun
ia tidak mengerti mengapa gadis itu marah padanya. Ia pun menghentikan
langkah gadis tersebut. Agnes mengeluarkan sebuah tulisan.

“Aku memang cacat. Tapi aku ga bodoh. Aku bukan mainan yang bisa kamu
gunakan buat acara valentine kamu sebagai wanita pajangan!terlebih
buat taruhan kamu sama temen kamu!!”

Albert sontak kaget ketika rahasia yang ia simpan rapat. Ia melihat
Agnes menangis dan hatinya merasa tak enak. Lalu membiarkan gadis itu
pergi. Ketika gadis itu semakin menjauh ia menyadari kesalahanya. Lalu
berteriak

“Nes.. sorry. Sorry!”

Agnes terhenti , namun hatinya terlanjur sakit. Ia pun meninggalkan
pria itu seorang diri. Albert menatap liotin anting di tangannya. Ia
marasa tidak pantas untuk bicara dengan dirinya yang hina. Kemudian
kembali ke rumah pohon kecil burung tersebut. Ia pun ingin menembus
kesalahannya terhadap agnes. Rumah pohon itu tampak rusak karena
dibangun seadanya. Ia pun ingin memberikan hadian kepada Agnes dengan
membuat rumah baru untuk burung burung yang akan hidup disana.

Albert pun menjadi sibuk setiap harinya. Dengan penuh perjuangan ia
membangun rumah tersebut. Dan berhasil dengan sempurna tiga hari
kemudian. Rumah burung diatas pohon itu menjadi indah dan rapi. Ia pun
segera menuju rumah Agnes. Agnes sesungguhnya selalu memperhatikan apa
yang dilakukan Albert setiap harinya. Ia menyadari laki laki itu tidak
seburuk yang ia pikir. Namun ia sadar kepergiannya sesaat lagi akan
tiba. Ia pun sadar dirinya yang cacat dan bisu hanya menjadi celahan
albert karena kesalahan.

Ia pun meminta pembantunya untuk bilang kepada Albert kalau ia telah
kembali ke kampong halamannya. Albert tampak shock mendengarkan
kepergian gadis itu begitu cepat. Ia termenung bersalah, kemudian
memberikan Liontin Anting yang dijatuhkan Agnes kepada pembantunya
agar diberikan kelak bila bertemu kembali. Dengan air mata yang jatuh
membasahi pipi. Angel pun menatap kepergian Albert penuh duka. Albert
pun kembali ke rumah dengan perasaaan sedih.

Beberapa hari kemudian Jepang datang menginvasi

Indonesia. Daerah tempat tinggal Albert menjadi salah satu konflik. Ia pun
harus segera mengungsi bersama orang tuanya. Sebelum ia pergi ia
sempatkan untuk melihat rumah burung kecil diatas pohon. Tampak burung
kecil itu menjadi dewasa dan hendak terbang. Dan ia menemukan sesuatu
di rumah tersebut.

Sebuah liontin anting yang ia titipkan kepada sang pembantu dan sebuah
surat kecil tulisan Agnes.

“Terima kasih atas rumah kecil ini. Kelak mungkin kita tidak akan
pernah sadar kita adalah sebuah takdir. Simpanlah satu liotin ini
sebagai kenangan terakhir yang bisa kuberikan kepadamu. Jika kita
berumur panjang kita akan bertemu, jika tidak biarkan kehidupan lain
menanti kita. Satu dihatiku. Satu dihatimu untuk selamanya”

Albert menangis dengan berat hati ia menyimpan liotin tersebut. Dan ia
pun mengungsi untuk selamat perperangan. Agnes pun menghilang dengan
selamanya. Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu. Setelah perang
usai. Albert pergi ke belanda untuk kuliah dan kembali dengan menikahi
seorang wanita yang akhirnya menjadi ibu Angel. Ia tak pernah
menyadari liontin itu tersimpan dan masih ada hingga ia membenarkan
isi gudangnnya.

Kembali ke masa lalu.

Angel tanpa menitihkan air mata ketiaka mendengarkan kisah kakeknya.
Tidak seperti biasa ia selalu mengantuk ataupun
beralasan untuk tidak pernah niat
untuk mendengar. Kali ini kisah tersebut telah meruntuhkan sanubarinya
untuk mendengar kisah tragis cinta tersebut. Hanya satu pertanyaan
yang bisa ia berikan kepada sang kakek.

“Kakek apa yang akan kakek lakukan bila bisa bertemu agnes lagi”

“itu tidak mungkin.. dia mungkin telah meninggal usia kakek sudah 70an
sekarang, ketika dulu ia lebih tua 3 tahun dari kakek. Mungkin telah
meninggal. ”

“Ya.. jawab dong kalau andai saja!”

“Ok. Kakek mau bilang satu hal sama dia. Kisah valentine antara kakek
dengan dia adalah kisah terakhir yang paling indah dalam hidup kakek.
Karena itulah valentine pertama kakek”

Angel memeluk kakeknya . ia begitu terharu terhadap kisah cinta sang
kakek. Beberapa tahun kemudian ia mendapatkan seorang laki laki yang
ia cintai dan akhirnya menikah. Dalam sebuah undangan yang tak
terduga, seorang wanita tua datang dengan sebuah tongkat di tangannya
bersama sang cucu. Nenek itu mengunakan kalung yang tak asing bagi
angel. Nenek itu memberikan ucapan selamat. Angel hanya memadang nenek
itu seperti asing namun tidak pada kalung ya ia gunakan.

Kakek yang duduk dikursi paling ujung. Mendapatkan giliran untuk
bersalaman . kakek melihat dengan jelas liotin yang nenek itu pake.
Air matanya terhanyut begitu saja. Sang nenek bertanya kepada cucu itu
melalui cucunya yang mengerti bahasa isyarat tangan dari sang nenek

“kakek nenek saya ingin berkata sesuatu sama kamu ”

“apa nak?”

“Kakek sudah tua tak malu menangis di hadapan anak anak muda hehehe”
ledek nenek itu

“Siapa nama nenekmu”

“Agnes..”

Tamat…

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s