Belajar Mendengarkan

Posted: 18 November, 2008 in Reflection, Relation

Anda pasti tahu bagaimana rasanya menerima telepon di tengah malam.
Tapi, malam itu semuanya terasa berbeda. Aku terlonjak dari tidurku
ketika telepon di samping tempat tidur berdering-dering. Aku berusaha
melihat jam beker dalam gelap. Cahaya illuminasi dari jam itu
menunjukkan tepat tengah malam. Dengan panik aku segera mengangkat
gagang telepon.
“Hallo?” dadaku berdegub-degub kencang. Aku memegang gagang telepon itu
erat-erat. Kini suamiku terbangun dan menatap wajahku lekat-lekat.
“Mama?” terdengar suara di seberang sana.
Aku masih bisa mendengar bisikannya di tengah-tengah dengung telepon.
Pikiranku langsung tertuju pada anak gadisku. Ketika suara itu semakin
jelas, aku meraih dan menarik-narik pergelangan tangan suamiku.

“Mama, aku tahu ini sudah larut malam. Tapi jangan… jangan berkata
apa-apa dahulu sampai aku selesai bicara. Dan, sebelum mama menanyai aku
macam-macam, ya aku mengaku ma. Malam ini aku mabuk. Beberapa hari ini
aku lari dari rumah, dan…”
Aku tercekat. Nafasku tersenggal-senggal. Aku lepaskan cengkeraman pada
suamiku dan menekan kepalaku keras-keras. Kantuk masih mengaburkan
pikiranku. Dan, aku berusaha agar tidak panik. Ada sesuatu yang tidak
beres.
“…Dan aku takut sekali. Yang ada dalam pikiranku bagaimana aku telah
melukai hati mama. Aku tak mau mati di sini. Aku ingin pulang. Aku tahu
tindakanku lari dari rumah adalah salah. Aku tahu mama benar-benar cemas
dan sedih. Sebenarnya aku bermaksud menelepon mama beberapa hari yang
lalu, tapi aku takut… takut…”
Ia menangis tersedan-sedan. Sengguknya benar-benar membuat hatiku iba.
Terbayang aku akan wajah anak gadisku. Pikiranku mulai jernih,
“Begini…”

“Jangan ma, jangan bicara apa-apa. Biarkan aku selesai bicara.” ia
meminta. Ia tampak putus asa.
Aku menahan diri dan berpikir apa yang harus aku katakan. Sebelum aku
menemukan kata-kata yang tepat, ia melanjutkan, “Aku hamil ma. Aku tahu
tak semestinya aku mabuk sekarang,tapi aku takut. Aku sungguh-sungguh
takut!”
Tangis itu memecah lagi. Aku menggigit bibirku dan merasakan pelupuk
mataku mulai basah. Aku melihat pada suamiku yang bertanya perlahan,
“Siapa itu?”
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Dan ketika aku tidak menjawab
pertanyaannya, ia meloncat meninggalkan kamar dan segera kembali sambil
membawa telepon portable. Ia mengangkat telepon portable yang tersambung
pararel dengan teleponku. Terdengar bunyi klik.

Lalu suara tangis suara di seberang sana terhenti dan bertanya, “Mama,
apakah mama masih ada di sana? Jangan tutup teleponnya ma. Aku
benar-benar membutuhkan mama sekarang. Aku merasa kesepian.”
Aku menggenggam erat gagang telepon dan menatap suamiku, meminta
pertimbangannya. “Mama masih ada di sini. Mama tidak akan menutup
telepon,” kataku.
“Semestinya aku sudah bilang pada mama. Tapi bila kita bicara, mama
hanya menyuruhku mendengarkan nasehat mama. Selama ini mamalah yang
selalu berbicara. Sebenarnya aku ingin bicara pada mama, tetapi mama tak
mau mendengarkan. Mama tak pernah mau mendengarkan perasaanku. Mungkin
mama anggap perasaanku tidaklah penting. Atau mungkin mama pikir mama
punya semua jawaban atas persoalanku. Tapi terkadang aku tak membutuhkan
nasehat mama. Aku hanya ingin mama mau mendengarkan aku.”
Aku menelan ludahku yang tercekat di kerongkongan. Pandanganku tertuju
pada pamflet “Bagaimana Berbicara Pada Anak Anda” yang tergeletak di
sisi tempat tidurku.

“Mama mendengarkanmu,” aku berbisik.
“Tahukah mama, sekarang aku mulai cemas memikirkan bayi yang ada di
perutku dan bagaimana aku bisa merawatnya. Aku ingin pulang. Aku sudah
panggil taxi. Aku mau pulang sekarang.”
“Itu baik sayang,” kataku sambil menghembuskan nafas yang meringankan
dadaku. Suamiku duduk mendekat padaku. Ia meremas jemariku dengan
jemarinya.
“Tapi ma, sebenarnya aku bermaksud pulang dengan menyetir sendiri mobil
sendiri.”

“Jangan,” cegahku. Ototku mengencang dan aku mengeratkan genggaman
tangan suamiku. “Jangan. Tunggu sampai taxinya datang. Jangan tutup
telepon ini sampai taxi itu datang.”
“Aku hanya ingin pulang ke rumah, mama.”
“Mama tahu. Tapi, tunggulah sampai taxi datang. Lakukan itu untuk
mamamu.”
Lalu aku mendengar senyap di sana. Ketika aku tak mendengar suaranya,
aku gigit bibir dan memejamkan mata. Bagaimana pun aku harus mencegahnya
mengemudikan mobil itu sendiri.

“Nah, itu taxinya datang.”
Lalu aku dengar suara taxi berderum di sana. Hatiku terasa lega.
“Aku pulang ma,” katanya untuk terakhir kali. Lalu ia tutup telepon itu.
Air mata meleleh dari mataku. Aku berjalan keluar menuju kamar anak
gadisku yang berusia 16 tahun. Suamiku menyusul dan memelukku dari
belakang. Dagunya ditaruh di atas kepalaku.
Aku menghapus airmata dari pipiku. “Kita harus belajar mendengarkan,”
kataku pada suamiku.

Ia terdiam sejenak, dan bertanya, “Kau pikir, apakah gadis itu sadar
kalau ia telah menelepon nomor yang salah?”
Aku melihat gadisku sedang tertidur nyenyak. Aku berkata pada suamiku,
“Mungkin itu tadi bukan nomor yang salah.”
“Ma? Pa? Apa yang terjadi?,” terdengar gadisku menggeliat dari balik
selimutnya.
Aku mendekati gadisku yang kini terduduk dalam gelap, “Kami baru saja
belajar,” jawabku.

Belajar apa?” tanyanya. Lalu ia kembali berbaring dan matanya terpejam
lagi.
“Mendengarkan,” bisikku sambil mengusap pipinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s