Dua Babak Pelajaran Tentang Uang

Posted: 18 November, 2008 in Faith, Motivation

Saat rehat menikmati snack dan teh, lalu merogoh saku celana hendak
mengambil saputangan, baru saya menyadari keganjilan itu. Dompet saya tidak
ada di sana.

Mungkinkah tertinggal di mobil? Saya mengajak teman yang membawa mobil untuk
memeriksa. Sesudah tas digeledah, hasilnya nihil. Di mana ya? Di kamar
penginapan? Bukankah kami sudah mengosongkan kamar, dan mengangkut semua
barang bawaan, karena berencana langsung pulang sesudah makan siang nanti?

Ah ya, baru saya ingat. Semalam menjelang tidur, di luar kebiasaan, dompet
itu saya susupkan ke bawah bantal. Dan paginya bantal itu tak tersentuh saat
kami membereskan kamar.

Kami pun bergegas kembali ke penginapan. Isi dompet itu tak lain adalah uang
saku perjalanan kami mengikuti sidang majelis daerah sinode gereja kami.

Jumlahnya tak sampai sejuta, namun jelas saya akan kelabakan kalau benar
uang itu hilang. Belum lagi SIM dan KTP saya juga tersimpan di situ.

Sepanjang perjalanan, saya menenangkan hati. Sepertinya ada suara yang
berbisik, “Jangan mengandalkan manusia, bersandarlah kepada Tuhan.” Saya
tidak tahu apakah pegawai penginapan itu cukup jujur atau culas, namun yang
pasti Tuhan itu baik.

Bagaimanapun, pikiran saya lumayan berkecamuk. Saya berusaha menepiskan
pikiran, “Kenapa aku kejatuhan sial?” Saya mencoba bersikap gagah, “Apa yang
Tuhan mau kupelajari dari peristiwa ini?”

Apakah saya mesti belajar tentang risiko keteledoran? Kok mahal amat?

Lagipula, kalau itu mata pelajarannya, saya rupanya belum lulus-lulus juga.

Banyak keteledoran yang saya lakukan, baik yang tampaknya sepele maupun yang
lumayan gawat seperti ini. Sepertinya ada suara yang menyindir, “Lalu,
seberapa murah kehati-hatian itu?”

Saya pun membayangkan konsekuensi praktis bila dompet itu betul-betul
melayang. Hm, uang sejumlah itu setara dengan honorarium menulis lebih dari
lima puluh naskah renungan harian. Dan itu berarti tertunda lagi keinginan
untuk mulai menabung. Ah, semoga saja….

Sesampai di penginapan, seorang pegawai berseragam hijau tampak sedang
lalu-lalang membereskan kamar-kamar. Begitu turun dari mobil, saya bergegas
menemuinya. “Pak, maaf, saya ketinggalan sesuatu.”

Orang itu tersenyum tanggap. “O ya. Tunggu saya panggil teman saya.”

Orang itu pergi, lalu tak lama kemudian muncul kembali bersama dengan
seorang rekannya. Mereka mengajak saya ke kamar. Dari rekannya itulah saya
menerima kembali dompet saya. “Tolong dihitung dulu, Pak, isinya,” pinta
orang itu.

Melihat kembali dompet itu saja sebenarnya saya sudah senang. Segera saya
buka, saya hitung lembaran lima puluh ribuannya. Pas. Masih lengkap, juga
kartu-kartunya.

“Terima kasih banyak, Pak,” kata saya penuh syukur. “Tuhan memberkati.”

Saya bersyukur bukan hanya karena dompet itu kembali dalam keadaan utuh.

Saya bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang yang jujur, yang tidak
memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Seperti bagi saya, uang sejumlah
itu tentunya lumayan berarti bagi mereka — terlebih di tengah naiknya harga
berbagai kebutuhan sehari-hari seiring dengan melonjaknya harga BBM.

Ternyata di negeri yang kental dengan KKN ini, masih bisa dijumpai wong
cilik yang tak hendak mematikan hati nuraninya.

Saat meninggalkan Bukit Asri, penginapan kecil di Jl. Setiabudi, Semarang
atas itu, hati saya betul-betul asri.

Namun, rupanya pelajaran tentang uang pagi itu belum rampung. Sesampai di
gereja tempat acara diadakan, sedang berlangsung sidang pleno kedua. Salah
satu agendanya, pembacaan laporan keuangan oleh bendahara.

Bendahara antara lain mengingatkan komitmen dan konsistensi para pejabat
gereja dalam membayar iuran wajib, yang akan menunjang kelancaran
pelaksanaan program bersama. Selama ini pembayaran iuran tersebut bisa
dibilang tersendat. Ia juga menghimbau, pejabat yang mengalami kelimpahan
berkat materi, kiranya secara sukarela menyumbang melampaui jumlah minimal.

Ketika dibuka forum curah pendapat, sebuah masukan membuat saya tercenung.

Seorang pendeta mengutarakan isi hatinya secara blak-blakan. Karena duduk di
balkon, saya tidak dapat melihat sosok bapak ini. Namun, menilik uraiannya,
kemungkinan besar penampilannya amat bersahaja di tengah gedung gereja yang
megah ini.

Saya tidak ingat persis kata-katanya, namun pada pokoknya bapak itu
menyatakan bahwa jumlah minimal iuran yang ditetapkan oleh sidang masih
terasa memberatkan baginya. Ia mengakui, persepuluhan yang terkumpul dari
jemaatnya setiap bulan tidaklah seberapa. Kalau masih harus membayar iuran
wajib itu — yang sebenarnya hanya senilai tiga potong lumpia — ia akan
kesulitan membayar tagihan lainnya. Suara bapak itu tidak terdengar memelas.

Suaranya lantang, apa adanya: menandaskan sebuah fakta.

Lalu saya teringat pada kesaksian pendeta yang menyampaikan firman Tuhan
pagi tadi. Pendeta ini berasal dari sebuah pulau terpencil di wilayah timur
Indonesia. Setelah puluhan tahun melayani, ia tergolong hamba Tuhan yang
sukses dan diberkati. Suatu ketika seusai berkhotbah ia ditemui seorang
pengacara kondang. Pengacara yang juga kolektor mobil mewah ini merasa
tertempelak oleh khotbah yang baru saja didengarnya. Singkat cerita, ia
meneken selembar cek sebagai persembahan kasih bagi gereja itu. Nilainya?

Empat M.

Saya menghela napas. Bagaimana menjelaskan kesenjangan yang sedemikian lebar
ini? Kerap saya mendengar kata kunci itu: “iman” — bahwa kelimpahan materi
berbanding lurus dengan kesalehan dan derajat iman kita. Terus terang saya
agak cemas dengan perhitungan iman secara matematis seperti itu. Patutkah
Pendeta A dinilai sebagai kontet secara rohani, sedangkan Pendeta B seorang
raksasa iman — semata-mata karena kondisi keuangan mereka? Bagaimana pula
saya mesti menakar kadar keimanan saya sendiri?

Lebih aman rasanya memandang kondisi keuangan kita sebagai sesuatu yang
relatif netral. Entah kelimpahan entah kekurangan, masing-masing mengandung
risiko. Kemiskinan bisa membuat orang menyumpahi Tuhan, kekayaan pun bisa
membuat orang pongah dan berlagak tidak membutuhkan Tuhan. Jadi, sikap kita
terhadapnyalah — bersyukur atau bersungut-sungut, menggunakannya secara
egois atau mengelolanya secara bertanggung jawab sebagai titipan Tuhan —
yang menentukan apakah uang itu menjadi berkat atau laknat. Bukankah begitu?

Dimuat di Sinar Harapan, Sabtu, 9 April 2005

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s