Tiada Perbuatan Baik yang Kecil

Posted: 18 November, 2008 in Motivation
Seandainya saja aku bisa menghentikan satu Hati dari kepedihan,
Aku tak akan merasa hidup dalam kesia-siaan;
Seandainya aku dapat meringankan Beban suatu Kehidupan,
Atau meredakan kepedihan,
Atau membantu seekor Burung Murai yang pingsan,
Kembali ke Sarangnya,
Aku tak akan hidup dalam kesia-siaan.
– Emily Dickinson

Hari itu hari Kamis, hari pengucapan syukur, hari yang direncanakan
sebagai hari untuk ibadah. Hari khusus itu merupakan tradisi mingguan
yang diprakarsai oleh dua gadis kecil, anakku dan aku sendiri sejak
beberapa tahun lalu. Hari Kamis menjadi hari bagi kami untuk keluar
ke alam bebas dan memberikan sumbangan positif. Pada hari Kamis yang
khusus ini, kami tak punya gagasan pasti apa yang akan kami lakukan,
tetapi kami tahu sesuatu akan muncul dengan sendirinya.

Sambil mengendarai mobil di sepanjang jalan Houston yang ramai,
berdoa mohon bimbingan terhadap hasrat kami untuk memenuhi janji Hari
Perbuatan Baik pekan itu. Ketika hari menjelang siang, sudah tentu
perut dua bocah kecilku mulai lapar. Mereka berupaya menyadarkanku
akan situasi mereka dengan bernyanyi, “McDonald, McDonald,
McDonald, ….” sepanjang perjalanan. Aku menyerah dan dengan
bersungguh-sungguh mulai mencari-cari McDonald terdekat. Mendadak aku
sadar bahwa di setiap persimpangan jalan yang kulewati selalu ada
beberapa pengemis. Hal itu menggugah hatiku! Jika dua anakku yang
kecil kelaparan, semua pengemis itu tentunya kelaparan juga.

Tepat! Sasaran Perbuatan Baik yang akan kami lakukan telah muncul
dengan sendirinya. Kami pergi membeli makan siang untuk para pengemis
itu. Setelah menemukan McDonald dan memesan dua Happy Meals untuk
gadis-gadis kecil itu, aku memesan tambahan 15 kotak makan siang dan
kami pun keluar untuk membagikannya. Benar-benar menggembirakan. Kami
menghampiri setiap pengemis, memberikan sumbangan kami, lalu
memberitahu mereka bahwa kami berharap keadaan mereka baik-baik saja.
Lalu kami mengatakan, “Eh omong-omong, ini ada makan siang.” Lalu
kami pun melaju ke persimpangan berikutnya. Itu adalah cara terbaik
untuk memberi. Tak ada waktu cukup bagi kami untuk memperkenalkan
diri kami atau menerangkan apa yang kami lakukan, juga tak ada waktu
bagi mereka untuk mengatakan sesuatu kembali kepada kami.

Perbuatan Baik itu anonim dan memberi kekuatan kepada kami masing-
masing, dan kami senang melihat apa yang tampak dari kaca belakang;
seseorang yang terperanjat penuh kegembiraan mengangkat tas makan
siangnya lalu memandang kami yang melaju pergi. Benar-benar indah!

Kami sudah mendekati akhir rute kami hari itu dan ada seorang wanita
kecil berdiri, meminta uang kecil. Kami memberikan sedekah ala
kadarnya dan kantong makan siang terakhir yang kami miliki, lalu buru-
buru berputar ke arah yang berlawanan-pulang ke rumah. Sial, lampu
merah menahan kami kembali dan kami pun berhenti di persimpangan yang
sama dimana si wanita kecil tadi berdiri. Aku merasa malu dan tak
tahu harus bersikap bagaimana. Aku tak ingin wanita itu merasa
terpaksa mengatakan atau melakukan sesuatu.

Dia bergerak ke mobil kami, maka kuturunkan jendela ketika dia mulai
berbicara, “Tak seorang pun pernah melakukan hal seperti ini untukku
sebelumnya,” katanya dengan takjub.
Aku menjawab, “Yah, aku bahagia kami menjadi yang pertama.” Merasa
tak enak, dan ingin memperpanjang percakapan itu saya pun
bertanya, “Lalu, kapan kamu akan memakan santapan siangmu?”
Dia hanya melihat padaku dengan mata coklatnya yang besar dan sayu,
lalu berkata, “Oh sayang, aku tak akan memakannya.” Aku terheran-
heran, tetapi sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, ia
melanjutkan. “Anda tahu, aku punya seorang gadis kecil di rumah dan
dia suka sekali McDonald, tetapi aku tak pernah mampu membelikan
untuknya karena aku benar-benar tak punya uang. Tetapi tahukah
Anda … malam ini dia akan makan McDonald!”

Aku tak tahu apakah anak-anak melihat air mata di pelupuk mataku.
Begitu sering aku bertanya apakah Perbuatan Baik yang kami lakukan
begitu remeh atau tak punya arti untuk mendatangkan perubahan yang
nyata. Namun pada saat itu aku menyadari kebenaran kata-kata Ibu
Teresa :” Kita tak mampu melakukan hal-hal yang besar kita hanya
mampu melakukan hal-hal yang kecil dengan cinta yang besar
. “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s