Welcome to The Problem!

Posted: 21 November, 2008 in Motivation

Masalah memang bisa menghentikan kita untuk sementara waktu.
Tetapi hanya kita lah satu-satunya orang yang bisa menghentikannya secara permanen.

Selamat datang masalah. Apakah anda takut berhadapan dengan masalah? Kebanyakan orang tidak menyukai masalah dan melakukan apa saja untuk menghindarinya. Kalau kita mengerti apa itu masalah, maka sebenarnya tidak perlu kita terlalu khawatir. Justru itu menunjukkan bahwa kita memiliki tujuan, memiliki arah yang kita inginkan

Setiap kita membuat keputusan, dan merancang apa-apa yang akan kita lakukan untuk mencapai tujuan, maka sejak saat itu siap-siaplah untuk selalu menghadapi masalah. Itu normal. Pekerjaan kita selanjutnya memang adalah menghadapi dan menyelesaikan masalah. Terus saja kita berjalan. Jika tiba-tiba terjadi apa yang tidak diinginkan, atau hasil pekerjaaan atau proyek kita ternyata jauh berbeda dari apa yang sudah direncanakan, tentu tidak perlu kita mengeluh. Segera saja kita kembali ke jalan yang seharusnya. Koreksi sedikit, dan kembali melanjutkan perjalanan.

Dalam menghadapi masalah, manusia terbagi tiga. Ada sekelompok orang yang hidupnya mengeluh saja terhadap masalah. Awalnya hanya masalah kecil, namun karena terus dipelototin dan terus aja dibolak-balik, maka tampaklah masalah itu jadi amat besar dan kian menakutkan.

Lalu ada sekelompok orang lagi yang ia bisa menerima masalah itu sebagai sebuah “takdir” lalu kemudian ia fokus pada solusi. Mata dan pikirannya tidak lagi terus melihat saja kepada masalah itu, tapi bertanya dan mencari tahu, bagaimana cara mengatasinya. Pikirannya ia fokuskan pada penyelesaian. Dan ajaib sekali otak manusia, biasanya dengan mudah orang ini bisa menyelesaikannya.

Sedangkan kelompok yang ketiga adalah manusia-manusia yang tidak hanya bersabar dan menerima masalah itu, melainkan ia tetap mensyukurinya sebagai anugerah Allah yang ia maknai sebagai “ujian ketrampilan”, ujian keimanan, ujian kesabaran, ujian kesempurnaan perjalanan ruhaninya, ujian terhadap kemanusiaannya. Sehingga dengan demikian, apabila ia berhasil melampauinya, maka naik kelas lah ia, makin dekat kepada Tuhan, dan makin hebat ketrampilannya, makin sempurna kemanusiaannya.

Mereka-mereka ini tidak melihat masalah sebagai hal yang negatif, melainkan melihatnya sebagai jalan dan metoda meningkatkan kemampuan, pengetahuan, keahlian dan keimanannya, sehingga naiklah derajatnya baik di mata manusia, maupun di hadapan Tuhan Allah. Ia menganggapnya sebagai peluang meningkatkan derajat kesempurnaannya. Alhasil, jadilah ia makin sempurna, makin hebat pula keahliannya, dan makin tinggi pula ilmunya.

Alkisah ada 2 orang sahabat sedang berbincang-bincang.
A: “Saya ini adalah orang yang paling disukai Allah.”
B: “Apa buktinya?”
A: “Saya adalah orang yang tidak pernah diberi cobaan oleh Allah”.
B: “Justru engkau orang yang paling jauh dari Allah. Sebab orang yang tidak pernah diberi cobaan, berarti Allah tidak ingin mengujinya.”

Jadi gimana? Apakah anda setuju kalau kita bersikap, “welcome the problem?”

Sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s