Hakekat, Tindakan, dan Akibat Dosa

Posted: 25 November, 2008 in Faith

Hari ini kita bersama-sama mau mendalami tema tentang dosa. Di zaman kita sekarang ini banyak orang yang sudah kehilangan rasa takut akan dosa.
Buktinya, kejahatan semakin banyak dan mengerikan. Banyak juga orang yang tidak mau bertobat dengan melakukan dosa yang sama terus-menerus. Memang ada yang karena kelemahannya jatuh berkali-kali dalam kesalahan yang sama. Tapi, ada juga yang memang sengaja tidak mau bertobat karena tidak mau kehilangan kenikmatan yang diperoleh melalui dosanya itu.

Sebenarnya apa itu dosa? Kitab Suci tidak pernah mengaitkan dosa dengan diri kita sebagai ciptaan murni. Artinya, karena kita adalah ciptaan Allah dan kata Allah bahwa semuanya baik, sejauh kita datang dari Allah dan bersatu dengan Allah, tidak ada dosa dalam diri kita. Dosa justru muncul ketika kita menjauhkan diri dari Allah. Allah adalah kebaikan itu sendiri. Lepas dari
Allah berarti merangkul kejahatan.

Manusia dapat berdosa karena ia memiliki kehendak bebas untuk secara sadar dan otonom memilih sesuatu. Pilihan paling dasar pada manusia adalah pilihan untuk taat atau tidak taat kepada Allah. Ketika ia memilih untuk melepaskan diri dari Allah dengan kehendak bebasnya, secara sadar, sengaja, tahu, dan mau, saat itulah ia berdosa. Tindakan di sini, mencakup segala pikiran, perkataan, perbuatan, dan kelalaian.

Di sini kita melihat suatu paradoks, artinya konsekuensi yang bertolak belakang dari tindakan dosa. Ketika manusia mau membebaskan diri dari Allah, ingin menentukan sendiri apa yang baik untuknya, ia malahan terjerumus ke dalam perbudakan dosa dan hawa nafsunya sendiri. Manusia kehilangan kebebasannya justru dengan membebaskan diri dari Allah. Sebaliknya, dengan terus memilih untuk menyatukan diri dengan Allah, manusia tidak akan kehilangan kebebasannya. Seperti kata Yesus dalam Yoh 8:34: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.”

Yesus juga pernah bersabda bahwa Ia telah mencurahkan api ke dalam dunia ini dan betapa Ia mengharapkan bahwa api itu tetap bernyala (Luk 12:49). Namun, di tempat lain dengan nada sedih Ia berkata, “Jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi.” (Luk 18:8) Dalam kesedihan-Nya Yesus telah melihat ke masa depan. Ia melihat semakin lama, khususnya menjelang akhir zaman, semakin sulit orang untuk beriman kepada-Nya. Tidak usah jauh-jauh, kita sekarang sedang menjadi saksi hilangnya iman sekian banyak orang. Sudah saatnya kita sekarang untuk serius memikirkan perkara-perkara
Kerajaan Allah agar ketika Anak Manusia datang nanti, kita kedapatan setia dan berpegang pada iman.

Mengapa dalam kesempatan ini saya menekankan pentingnya iman?
Apa kaitannya dengan dosa yang menjadi tema kita hari ini? Kaitannya besar sekali, karena puncak dari dosa adalah tidak percaya lagi kepada Allah.
Manusia menolak Allah. Ia tidak mau lagi menyembah Allah. Ia mau menentukan nasibnya sendiri. Sama seperti Lucifer yang tidak mau taat lagi kepada
Allah. Lucifer jatuh karena ia mau menjadi tuan atas dirinya sendiri. Si ular tua itu tidak mau tunduk kepada Allah. Karena itulah dia kehilangan kemuliaannya dan menjadi penghuni kegelapan. Dan karena kedengkiannya dia mau menyeret sebanyak mungkin dari kita untuk mengikuti dia masuk ke dalam kegelapan kekal.

Allah adalah hidup. Menolak Allah sama saja dengan mati. Karena itulah
Paulus mengatakan bahwa sengat dosa adalah maut sebab memang bagi orang yang tidak mau lagi mengakui Allah hanya ada kematian. Kematian kekal. Bukan hanya kematian fisik biasa, namun jiwa kita akan tersiksa selama-lamanya di dalam neraka. Hanya dengan percaya kepada Kristus, mengakui Allah, kita dapat memperoleh kebangkitan untuk hidup yang kekal.

Tidak hanya itu saja. Dosa juga mengakibatkan rusaknya hubungan antarmanusia. Dosa tidak pernah membawa akibat buruk hanya bagi sang pendosa. Bahkan dosa yang dilakukan di tempat paling tersembunyi juga punya akibat buruk bagi orang lain. Mengapa? Karena setiap dari kita mengemban nama dan tanggung-jawab manusia. Apabila kita setia kepada Allah, Allah bukan hanya memandang kita yang setia, tetapi juga manusia yang setia kepada-Nya. Karena itulah mengapa orang-orang kudus memiliki peranan yang amat penting dalam dunia ini. Ketika masih ada orang-orang yang berdoa dan berbakti kepada-Nya, Allah akan selalu menjamin kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. Hal ini bisa dibandingkan dengan kisah pemusnahan Sodom. Allah berjanji, sekiranya ada sepuluh saja orang benar di kota Sodom, Ia tidak jadi menghancurkannya. Sepuluh orang benar akan menyelamatkan kota itu dari kebinasaan. Sayang, ternyata sepuluh orang benar saja tidak ada di Sodom.
Namun, Lot dan keluarganya masih diselamatkan. Orang benar akan menyelamatkan orang lain. Sebaliknya, orang jahat juga dapat mencelakakan orang lain juga.

Para anggota milis yang terkasih, apa yang baru saja saya katakan sebenarnya sudah kita ketahui semua. Mungkin tadi Anda membacanya dengan setengah sadar dan dalam hati berpikir, “Ah, aku sudah tahu ini. Tidak perlu dengar lagi.”
Tapi, sadarkah Anda betapa pentingnya hal ini? Lebih-lebih lagi sadarkah
Anda bahwa salah satu strategi paling utama dari si iblis adalah membuat
Anda terlena dan menganggap remeh dosa? Bahkan si raja segala dusta tersebut dengan lihainya menipu anak-anak Allah untuk tenggelam dalam kebiasaan-kebiasaan buruk dan dosa. Padahal jelas-jelas kata Paulus dalam Rm
14:23 bahwa segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa! Dan lagi, Yakobus menegaskan dalam Yak 4:17, “. jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Dengan segala godaan dunia zaman ini ditambah dengan kelemahan kita, kita tidak usah menipu diri dengan menganggap diri sudah suci. Yohanes dalam suratnya yang pertama jauh-jauh hari telah mengingatkan kita bahwa: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” (1 Yoh 1:8)

Kita tidak boleh meremehkan dosa, tetapi terlalu keras terhadap diri sendiri juga tidak baik. Ada orang yang karena terlalu menyesali dosanya, sampai-sampai tidak mau makan sebagai tanda penyesalannya. Akibatnya, ia sakit dan menyusahkan keluarganya. Ada pula yang sangat sedih sampai akhirnya menjadi putus asa. Contoh paling tragis dalam Kitab Suci adalah
Yudas Iskariot. Ia memang sangat menyesal atas kesalahannya menyerahkan
Yesus. Begitu menyesalnya dia sehingga akhirnya bunuh diri. Padahal sebenarnya kesalahannya tidak lebih berat daripada kesalahan Petrus yang menyangkal Yesus sampai tiga kali. Bedanya, Petrus menyesal dan bertobat, memohon ampun kepada Tuhan.

Meskipun telah melakukan dosa berat sekalipun, kita tidak boleh putus asa.
Kerahiman Tuhan mengatasi segala dosa. Asalkan kita mau bertobat, seperti dikatakannya dalam Yes 1:18, “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”

Tuhan memberkati.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s