Jadikan Saya Sebutir Ubi

Posted: 25 November, 2008 in Faith

Apa yang terjadi jika sebutir ubi dan sebutir telur dimasukkan ke
dalam air mendidih ? Apa kedua benda itu keluar dari panci panas
dalam keadaan yang sama dengan keadaan sebelum digodok ? Air
mendidih mengubah ubi dan telur itu. Namun perubahan yang terjadi
pada kedua benda itu sangat bertolak belakang. Setelah digodok
telur menjadi keras. Sebaliknya, ubi menjadi lembut. Kedua benda itu
berada dalam panci yang sama dan air mendidih yang sama, namun
reaksi mereka berbeda. Telur akan muncul dalam keadaan keras,
sedangkan ubi akan muncul dalam keadaan lembut.

Dalam hidup ini ada masa di mana kita harus masuk ke dalam panci
yang berisi air mendidih, yaitu musibah dan penderitaan. Dalam musibah
kita merasakan betapa sakit dan nyeri digodok dalam air mendidih.
Musibah dan penderitaan bisa terasa sangat kejam dan menyakitkan
bagaikan menusuk tulang sumsum dan hati. Apalagi ketika musibah
demi musibah datang menimpa bagaikan tak ada habisnya. Kita seperti
terhempas lemas. Sambil menunduk dan menarik nafas panjang kita
bertanya lirih, “Oh, Tuhan, mengapa ini harus terjadi?”

Namun kenyataan adalah kenyataan. Musibah itu sudah atau sedang
terjadi. Jadi yang lebih mendesak bukanlah persoalan mengapa musibah
ini terjadi, melainkan bagaimana menghadapinya. Bagaimana bisa melewati
dan mengatasi musibah ini. Bagaimana bisa survive dalam dan dari
musibah ini. Jika musibah dan penderitaan merupakan ibarat digodok
dalam panci, soalnya adalah bagaimana kita bisa ke luar dan dalam
keadaan bagaimana kita akan ke luar dari panci itu. Apakah kita akan
ke luar sebagai telur ataukah sebagai ubi ?

Di sinilah terletak dampak yang paling mendasar dari suatu penderitaan
atau musibah. Dari waktu ke waktu tiap orang mengalami penderitaan dan
musibah. Tetapi cara orang ke luar dari penderitaan atau musibah
berbeda-beda.

Ada orang yang ke luar dari musibah dalam keadaan yang sangat tertekan.
Mukanya selalu suram. Ia menyendiri. Hidupnya menjadi pahit dan getir.
Sikapnya terhadap orang lain menjadi kaku. Ia menjadi keras. Ia ibarat
telur yang setelah ke luar dari air mendidih menjadi keras.

Sebaliknya, ada orang yang setelah ke luar dari musibah justru menjadi
bijak dan matang. Ia merasa damai dengan dirinya. Sikapnya hangat dan
ramah. Ia tersenyum dan menyapa. Ia menjadi lembut. Ia ibarat ubi yang
setelah digodok justru menjadi lembut.

Dampak itu bisa begitu berbeda, sebab pandangan dan ketahanan orang
terhadap penderitaan dan musibah berbeda-beda. Pengarang Surat Yakobus
menulis, ” … turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para
nabi…. sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka
yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan
kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya,
karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan” (Yak. 5 : 10-11).

Menurut Yakobus kuncinya adalah bertekun. Orang yang mau bertekun
(Yunaninya : upomonen, artinya : tabah, bertahan, setia, bertekun)
dalam penderitaan adalah orang yang berbahagia. “Kami menyebut
mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun… ” (ay. 11).
Paulus mengalimatkan kaitan ini secara lebih terinci: “Kita malah
bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu bahwa
kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan
tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Rm. 5 : 3-4).

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Penderitaan dan
musibah tidak dapat dihindarkan. Itu adalah bagian hidup. Hidup
adalah ibarat roda, sebentar di atas, sebentar di bawah. Hidup ini
ada enaknya dan ada tidak enaknya, yaitu masuk dalam panci dan
digodok dalam air mendidih.

Soalnya, apakah kita akan ke luar dari panci panas itu sebagai
telur rebus yang keras ataukah sebagai ubi yang lembut ? Apakah
kita akan ke luar dari sebuah musibah sebagai orang yang kaku dan
keras ataukah sebaliknya, sebagai orang yang berhati lembut ?
Agaknya, dalam suatu musibah kita boleh belajar berbisik,
“Tuhan, biarlah saya menjadi seperti ubi … seperti sebutir ubi
rebus yang lembut, hangat dan manis …. ”

Sumber

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s