Mendidik Manusia atau Anjing??

Posted: 3 December, 2008 in Family

SEPERTI umumnya para gadis remaja, anak kedua kami yang barusia 15 tahun
ingin sekali rambutnya di-rebonding, padahal rambutnya sudah lurus.
Berhubung tarifnya mahal, saya suruh ia pergi ke sebuah salon di daerah
Cibubur yang relatif murah.

Rupanya ia sudah mengetahui nformasi melalui internet mengenai
salon-salon yang terkenal bagus, atau jelek dalam urusan rebonding,
bahkan sampai dampak obat yang dipakai terhadap kualitas rambut. Ia
menolak pergi ke salon tersebut, karena informasi yang ia baca dalam
sebuah blog internet, kualitas rebonding di salon tersebut tidak bagus.

Berhubung saya hanya mau membayar 50 persen saja, ia melakukan browsing
secara intensif, dan akhirnya ia memutuskan untuk memakai jasa sebuah
salon yang tarifnya cukup murah, tetapi kualitasnya bagus.

Rupanya anak terkecil kami pun (usia 7 tahun), sudah mulai menjadi
seorang yang tidak mudah dipengaruhi juga. Ia bersama kakaknya
“berkonspirasi” untuk mempengaruhi kami agar mau memelihara anjing di
rumah. Mereka sebut beberapa jenis anjing yang bagus, lagi-lagi belajar
dari internet, dan akhirnya memutuskan untuk membeli anjing yang pintar
untuk dilatih serta bersahabat dengan anak-anak, yaitu jenis Golden
Retriever.

Saya sendiri baru mendengar nama jenis tersebut, tetapi menurut
informasi harganya cukup mahal. Kemudian saya ajak mereka ke sebuah
tempat di daerah Menteng untuk membeli anjing di pinggir jalan yang
pasti harganya lebih murah.

Mereka mengetahui betul bentuk anjing jenis tersebut, sehingga ada 4
penjual yang gagal membohongi mereka. Sampai yang mirip sekali pun,
tetapi karena bentuk kupingnya berbeda, mereka mengetahuinya.

Setelah bernegosiasi, dan kedua anak kami mau patungan menyumbang dari
uang tabungannya Rp 500.000, akhirnya saya menyerah untuk membelinya di
pet shop yang harganya Rp 2 juta, karena kemurnian ras anjing tersebut
dijamin oleh sertifikat.

Dalam beberapa hal, saya akui anak-anak kami lebih pintar dan
well-informed daripada orangtuanya, sehingga kami sering “kalah” ketika
harus mengambil keputusan karena informasi yang diperolehnya lebih
lengkap.

Anak pertama kami yang sekarang sudah semester 7 di Fakultas Hukum UI,
sejak kelas 1 SMA juga sudah memutuskan sendiri untuk masuk ke IPS,
sehingga ia tidak mau “membuang” waktunya untuk belajar sesuatu yang ia
tidak akan dipakainya, seperti Fisika, Kimia dan Biologi. Akibatnya,
nilai yang diperolehnya hanya pas-pasan saja.

Diminati Siswa

Namun, waktunya ia lebih banyak gunakan untuk belajar sesuatu yang lebih
menarik minatnya, seperti belajar komputer, organisasi, dan membaca
segala macam buku yang tidak ada hubungannya dengan tugas sekolah.

Kelas 1 SMA (tahun 1999) ia mengajak beberapa kawannya untuk merintis
bidang ekstra kurikuler baru di sekolahnya, yaitu FORTEK (forum
teknologi), yang semuanya diusahakan melalui survey kelayakan (ada 100
kuesioner tersebar), seminar, dan presentasi di depan sponsor, sehingga
memperoleh 6 perangkat komputer. Bidang tersebut sampai sekarang masih
ada, bahkan paling banyak diminati siswa.

Rasanya tidak ada satu pun guru yang memujinya, karena memang angka
rapornya biasa-biasa saja, bahkan ada juga nilai merahnya (boro-boro
dapat ranking). Namun baginya tidak ada masalah, dan ia memang berpikir
strategis.

Menurutnya, apabila sistem ujian nasional dan masuk perguruan tinggi
adalah seperti sekarang, maka dengan sistem kebut drilling beberapa
bulan terakhir sebelum ujian, katanya masih bisa ia kejar.

Jadi, ketika hampir seluruh kawan-kawannya sudah sibuk ikut les
sekolah dan bimbingan tes sejak kelas 1 SMA, bahkan sampai banyak yang
stress, ia menolak untuk mengikutinya karena mau memakai waktunya untuk
mempelajari hal-hal yang diminatinya sendiri. Baru ketika 6 bulan
menjelang ujian akhir SMA, ia mau ikut les.

Sejak SMP ia memang sudah senang membaca buku-buku serius
seperti karangan Maurice Bucaille, buku-buku filsafat Jabariah dan
Badariah, bahkan sekarang ia sedang senang-senangnya mengikuti
perkembangan harga pasar saham dan pasar uang, karena ia
menginvestasikan semua tabungannya yang Rp 3 juta di reksadana. Semuanya
ini ia peroleh dari belajar sendiri, bukan dari sekolahnya.

Perjalanan anak-anak kami masih panjang, sehingga kami belum tahu apakah
mereka berhasil nantinya. Namun paling tidak, kami telah berusaha untuk
mempersiapkan mereka untuk menjadi manusia yang berpikir kritis dan
mandiri, tidak mudah percaya dan diprovokasi, bisa mencari informasi dan
mengolahnya sendiri, sehingga nantinya bisa mencari solusi terhadap
berbagai masalah dalam hidupnya, serta mudah beradaptasi dengan
lingkungan yang cepat berubah.

Tentunya juga dengan membekali mereka tentang prinsip-prinsip nilai dan
etika. Terus terang, kami memang “melarang” anak-anak kami untuk
mendapatkan ranking, karena sistem ini akan membuat seseorang
terperangkap untuk mempertahankannya, sehingga mereka hanya mampu
berpikir dangkal, pragmatis, dan tidak kritis, akibat terbiasa menghafal
dan mengerjakan soal yang jawabannya sudah baku sesuai dengan rumus.

Menurut Albert Einstein, dengan hanya mengajarkan anak menghafal mata
pelajaran, tidak ada bedanya dengan melatih seekor anjing. Menurut
Einstein, “With his specialized knowledge-more closely resembles a
well-trained dog than a harmoniously developed person.” (Ternyata
benar, dengan cara mengulang berkali-kali, anak kami sudah dapat melatih
anjingnya yang berusia 4 bulan untuk duduk, loncat, dan salaman).

Bukan berarti metode menghafal dan drilling tidak perlu (kognitif),
tetapi dimensi lainnya juga harus dikembangkan (sosial, emosi, motorik,
spiritual, dan kreativitas) , sehingga seluruh dimensi manusia dapat
berkembang secara seimbang (harmonis).

Namun, semua metode pelajaran di sekolah hanya diarahkan agar anak- anak
dapat menjawab ujian, yang bentuknya memang hafalan, sehingga
potensi-potensi lainnya tidak berkembang secara harmonis.

Albert Einstein sudah memberikan peringatan akan bahayanya sistem
pendidikan yang terlalu menjejalkan anak dengan banyak mata pelajaran,
yang menurutnya dapat membuat anak berpikir dangkal, bukan seorang yang
independent critical thinker (New York Times, October 5, 1952).

Menurutnya, “It is also vital to a valuable education that independent
critical thinking be developed in the young human being, a development
that is greatly jeopardized by overburdening him with too much and with
too varied subject (point system). Overburdening necessarily leads to
superficiality. Teaching should be such that what is offered is
perceived as a valuable gift and not as a hard duty.”

Kalau kita melatih seseorang untuk mempunyai fisik kuat, baik dengan
olahraga atau berjalan kaki, maka dengan kekuatan fisiknya ia akan fit
bekerja di mana saja yang memerlukan kekuatan fisik. Begitu pula,
apabila kita mempersiapkan seorang anak untuk dapat berpikir kritis,
selalu ingin tahu, dan mampu mengolah informasi, maka ia akan berhasil
dalam pekerjaan apa saja yang memerlukan orang berpikir.

Apalagi di masa depan apabila semakin banyak orang yang mempunyai akses
terhadap internet (lima tahun yang lalu mungkin kita tidak membayangkan
kalau handphone bisa dipakai secara massal sampai ke desa-desa. Hal yang
sama sangat mungkin terjadi dengan internet, seperti yang sudah terjadi
di Korea).

Artinya, tanpa menghafal pun, segala informasi dengan mudah dapat
diakses.

Mungkin ilmu yang didapat di sekolah banyak yang tidak terpakai
dalamkehidupan anak kita nanti. Apalagi jaman akan terus berubah dengan
cepat, sehingga apa yang dipelajari sekarang ini
, mungkin saja tidak terpakai dalam kehidupannya di masa depan nanti.
Padahal sudah dipelajari dan dihafalkan mati-matian, sampai banyak yang
stress dan mengalami masalah kejiwaan.

Menurut Peter Senge, sekolah-sekolah yang mendidik siswanya untuk patuh
begitu saja kepada pihak otoritas dan mengikuti peraturan tanpa
mempertanyakannya – tidak bersikap kritis – akan gagal menyiapkan para
siswanya untuk menghadapi dunia tempat tinggal mereka yang kerap
berubah.

Jadi, kalau kita mau menyiapkan anak-anak kita untuk cakap hidup di
zamannya kelak, jangan biarkan mereka terperangkap dengan cara yang
hanya bisa berpikir sesuai dengan yang telah diprogram (hafalan dan
drilling),yaitu tidak kreatif, tidak kritis, tidak berani mengambil
risiko, tidak proaktif, dan apatis.

Kasihan mereka, karena mereka harus hidup di masa depan yang begitu
cepat berubah, sangat kompleks, serta penuh tantangan dan beban.

Seperti kata Einstein, mereka adalah manusia, bukan well-trained dog.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s