Story of Los Felidas

Posted: 3 December, 2008 in Family

Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika
Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota.
Ada sebuah kisah Natal yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan
itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis
kecil.

Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit
masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu,
melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota
terlalu berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu, mereka
kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka
tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada
dikantong. Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1
tahun. Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke
jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing
sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.

Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang
dingin.

Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: “Saya
harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan,
apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini.”
Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali.
Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang
seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika.

Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu
kedatangan suaminya, dan bila malam tidur diemperan toko itu. Pada hari
ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu, orang-orang yang lewat
mulai memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis disana selama 6
bulan berikutnya.

Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang
lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja.
Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah
hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik jelita. Tampaknya tidak ada jalan
lain kecuali meninggalkan anak itu disitu dan berharap
agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka. Suatu pagi ia berpesan pada
anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang
mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula. Pendek kata, gadis kecil itu
tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

“Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar
kecil yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan angin dirambut kita”.
Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu
mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak
kosong, dan membaringkan anaknya dengan hati-hati di dalamnya, di sebelahnya
ia meletakkan sepotong roti, kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju
kepabrik sepatu, dimana ia bekerja sebagai pemotong kulit.
Begitulah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga dikantong sang Ibu
kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah
kumuh.

Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan
membayar uang muka sewa kamarnya. Tapi siang itu juga sepasang suami istri
pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa,
dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota.

Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki
wajahnya, menyisir rambutnya dan membawanya kesebuah rumah mewah dipusat
kota.

Disitu gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter
yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah
menikah selama 18 tahun. Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan
mereka memanjakannya dengan amat sangat. Di tengah-tengah kemewahan istana
itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa.
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga,
menulis puisi dan bermain piano. Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas
atas, dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia
pergi. Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya, dan bumi terus
berputar tanpa kenal istirahat.

Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang
amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif digereja, dan yang sedang
menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian
tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih,
yang bernama Geraldo.

Setahun setelah perkawinan mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta
suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14
hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota
itu.

Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah
kehidupan wanita itu.

Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah
tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayahnya, ia melihat
selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri.
Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri
tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi
rambutnya tetap kusam. Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya
berdegup kencang.

Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga
kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah
kotak kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan
seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga
surat-surat pribadi. Tapi diantara benda-benda mewah itu sesuatu terbungkus
kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan
dan bukan emas murni.

Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan
benda itu.

Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, dimana satunya. Ibunya
menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu
didekat foto.

Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan
air matanya berlinang.
Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri.
Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat,
belum pernah dilihatnya sama sekali.
Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini
mengungkungi pertanyaan-pertanyaannya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya
berbeda dengan wajah kedua orang tuanya,kenapa ia tidak menuruni golongan
darah ayahnya.

Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat
dibenaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di
dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya
sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa
aman yang dipancarkan dari dada wanita itu.
Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah
lebih baik mereka mati bersama. Matanya basah ketika ia keluar dari kamar
dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran:
“Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkin ibu saya masih ada
di jalan sekarang setelah 25 tahun?”.

Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna.
Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar
ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya
dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna
mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan
kantor catatan sipil. Ia membentuk yayasan-yayasan untuk mendapatkan data
dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh
negeri dan mencari data tentang seorang wanita.

Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya.
Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu dinegeri dengan
populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah.
Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah.
Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus
meningkatkan pencarian mereka.

Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh,
sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar
ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa
mengabaikannya selama seperempat abad. Tetapi ia tahu, entah bagaimana,
bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang.
Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya
mengangguk-angguk penuh pengertian.

Saat itu waktu sudah memasuki masa Natal.

Seluruh negeri bersiap untuk menyambut hari kelahiran Kristus, dan bahkan
untuk kasus Serrafona-pun, orang tidak lagi menaruh perhatian utama. Melihat
pohon-pohon terang mulai menyala disana-sini, mendengar lagu-lagu Natal
mulai dimainkan ditempat-tempat umum, Serrafona menjadi
amat sedih.

Pagi, siang dan sore ia berdoa:
“Tuhan, saya bukannya tidak berniat merayakan hari lahirmu, tapi ijinkan
saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya ‘temukan saya dengan
ibu saya’ “. Tuhan mendengarkan doa itu.
Suatu sore mereka menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa
membantu mereka menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang
ketempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota
mereka. Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang
kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara
putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang
gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu. Tidak banyak yang
diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan
dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya.
Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan
malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik.
Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka
untuk mencari nama jalan itu.
Semalaman Serrafona tidak bisa tidur.
Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya
masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu
jawabannya.

Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka
menerima telepon dari salah seorang staff mereka. “Tuhan maha kasih, Nyonya,
kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya.
Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi.” Mobil mereka
memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh dan banyak
angin.
Rumah-rumah disepanjang jalan itu tua-tua dan kusam.
Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan. Dari jalanan
pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih
belok lagi kejalanan berikutnya yang lebih kecil lagi.
Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan
kemiskinan.
Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu.
“Lekas, Serrafonna, mama menunggumu, sayang”.
Ia mulai berdoa: “Tuhan beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan
melakukan apa saja”.

Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui
kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: “Tuhan beri saya sebulan saja”.
Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita
bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka.
Ia mendengar lagi panggilan mamanya, dan ia mulai menangis: “Tuhan, kalau
sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan”.
Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat
sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas.
Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke
sisi, dari ujung keujung.

Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak
onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya,
terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak
bergerak-gerak. Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3
mobil polisi.
Di belakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit
lain. Dari kanan kiri muncul pengemis-pengemis yang segera memenuhi tempat
itu.

“Belum bergerak dari tadi.” Lapor salah seorang.
Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih
kesadarannya dan turun.
Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya.
“Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan
hatimu.”
Serrafona memandang tembok dihadapannya, dan ingat saat ia menyandarkan
kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kakinya dan ingat ketika ia
belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya
pada masa kecilnya.

Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu
ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat.
“Tuhan”, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya, “Beri kami sehari, Tuhan,
biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberinya tahu bahwa selama
25 tahun ini hidup saya amat bahagia. Jadi mama tidak menyia-nyiakan saya”.
Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya.
Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah
kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang
mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya
sendiri ketika ia masih muda.

“Mama….”, ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya
tiap malam – antara waras dan tidak – dan tiap hari – antara sadar dan tidak
– kini menjadi kenyataan.
Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan
lepas. Perlahan ia membuka genggaman tangannya, tampak sebentuk
anting-anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli
sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di
dada mamanya.

“Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi
dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan,
ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi
dulu… Mama…”

Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi
kepada Tuhan: “Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan….. satu jam
saja…….satu jam saja…..” Tapi dada yang didengarnya kini sunyi,
sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang
menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir
sia-sia.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s