Ungkapan Jujur Seorang Anak

Posted: 3 December, 2008 in Family, Reflection
Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor.
Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu
itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang
duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi
itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.
Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu
murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya
untuk melamun.

Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan
kepada Dika:
“Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng.
“Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya.
“Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah
untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan.
Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah
untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan
soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog
yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan
hasil testnya.

Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas)
dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi,
bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada
angka 140 – 160.

Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya
tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).
Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah
yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh
sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar
Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu
menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis
yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah
yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat
kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati
kecil Dika.

Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya
berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku:….”

Dika pun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar
saja”

Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini
saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu
itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif
sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar,
kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan
waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer
dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi
masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata
di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena
sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai
kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan
Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya
sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa
kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku…”
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira
artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku
melakukan sesuatu”
Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau
diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu.
Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari,
Seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun
pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan
minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya,
merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu.
Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan
oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak…”
Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya”
Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka
bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang
saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana.
Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya.
Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak
sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah
orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak: ..”
Dika pun menjawab “Tidak menyalahkan aku di depan orang lain.
Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah
dosa”

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap
dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat
kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa
setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka
anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan
yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena
orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga
tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau
menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu
diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar
dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah
adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu
mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog menulis “Aku ingin ibuku berbicara tentang…..”
Dika pun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”.
Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan
yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal
yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang
diberikan gurunya.

Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu
yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan
jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada
hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak
kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …..”,
Dika pun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang
kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar,
paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku
mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”.
Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai
manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika
sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau
mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya,
seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari….”
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar
“Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium
dan memeluk adikku”
Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya
sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata
saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap
dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya
tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada
anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan
yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari ….”
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu
kata “tersenyum”
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan
senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya
senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan
wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi
anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari
ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberi kertas bertuliskan “Aku ingin ibuku
memanggilku….”
Dika pun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus”
Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih
nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Kafi Putra Andira. Namun
sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang.
Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti
laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku
memanggilku ..”
Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”.
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo”
karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa
Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling”
kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu
karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan
memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan
pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak
Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan
“To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice” sebuah
seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah
Kewajiban, bukan Pilihan”.
Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah
memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.
Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam
tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan
juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak
Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak
ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak
memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para
orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati
anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran
dan nasehat yang baik.

(Ditulis oleh : Lesminingtyas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s