Ketika Aku Berbeban Berat

Posted: 9 December, 2008 in Faith

Seorang katekis. Ketika pertama kali datang ke gereja itu ia dipenuhi dengan antusiasme yang
tinggi. Ini adalah kesempatan yang ia idamkan sejak lama, yakni untuk bekerja di kebun anggur
Tuhan. Ia pernah bermimpi untuk menjadi imam, namun keinginannya tersebut tak pernah tercapai.
Namun demikian, hasratnya untuk mengabdi tak pernah layu dan mati. Kini kesempatan itu datang juga.
Puji Tuhan. Namun setelah sekian tahun bekerja, semakin lama semakin ia temukan bahwa beban yang
harus dipikulnya kini bertambah berat, berat seakan melampaui kemampuannya untuk memikul. Inikah
arti dari sebuah pengabdian? Demikian ia bertanya diri sendiri. Ia seperti kehilangan daya,
kehabisan kekuatan untuk terus berkarya.

Seorang ibu. Setelah tamat kuliah ia mengabdikan diri pada sebuah sekolah katolik, sebagai
pendamping para murid sekolah tersebut. Ia harus menyelesaikan berbagai problema yang dihadapi para
muridnya, baik problem belajar, problema kenakalan di antara para murid dan sebagainya. Konseling
yang dulu dijalankannya dengan penuh gembira kini berubah menjadi sesuatu yang menakutkan karena ia
sendiri menyadari bahwa kemampuannya ternyata amatlah terbatas. Semakin hari dunianya serasa
semakin kelabu. Inikah arti sebuah pengabdian? Aku tak layak, aku tak pantas untuk tugas ini.
Demikian keluhnya. Aku yakin kita semua turut serta membagi pengalaman mereka ketika kita berseru;
“Aku kehabisan tenaga. Aku capai. Aku tak pantas untuk tugas ini.”

Seorang imam. Ketika masih dalam lembaga pembinaan ia dipenuhi semangat yang berkobar untuk
melayani, untuk berbakti. Ia seakan menggabungkan suaranya dengan Petrus ketika Petrus berkata;
“Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkaulah jalan kehidupan kami.” Ketika masih dalam
lembaga pendidikan ia membulatkan tekad untuk sungguh menjadikan Kristus sang gembala agung sebagai
teladannya dalam tugas pelayanannya kelak. Setelah menjadi imam ia sungguh berjuang demikian. Ia
dikenal sebagai imam yang penuh semangat, imam yang tekun, yang bisa berada bersama semua umat
tanpa membedakan latar belakang mereka. Ia dikenal sebagai imam yang optimistis, yang selalu mampu
melihat secercah sinar di malam gelap. Setelah lima tahun, setelah sepuluh tahun mengabdi. Kedua
bahunya mulai terasa berat. Beban yang dipikulnya terasa semakin hari semakin melampaui
kemampuannya. Berbagai suara yang simpang siur di sekitarnya mulai terdengar tentang dia. Umat
mulai menudingkan jari tangan ke arahnya mempersalahkannya. Semua kebaikan yang pernah
diperbuatnya, semua pengabdian yang pernah diberikannya kini hilang. Sambil memandang salibnya sang
imam berbisik pada diri sendiri, inikah arti sebuah pelayanan? Inikah suatu pengabdian? Masih
kuatkah aku untuk meneruskan jalanku?

Aku kira kita semua memiliki pengalaman yang sama. Kita semua pernah menjadi seseorang yang
optimistis. Kita semua pernah dipenuhi semangat yang menggebu untuk melayani, untuk mengabdi. Dan
aku yakin pula bahwa kita semua pernah merasa kecewa. Kita semua pernah merasa sakit hati dalam
karya pelayanan kita. Dan pada saat seperti ini kita mulai mempertanyakan diri, mempertanyakan
kelayakan diri kita mengemban suatu tugas, kita mempertanyakan kemampuan kita untuk terus mengabdi.

Dalam bacaan pertama hari ini (Kis 9:1-20), kita mendengar kisah seorang Saulus, Saulus yang
mengabdi. Saulus yang penuh semangat menggebu membela nilai hukum yang telah lama ditaatinya. Ia
mempertahankan hukum yang dipandangnya suci, hukum yang diturun-temurunkan oleh leluhurnya. Namun
ditengah semangatnya yang menggebu itu ia dijatuhkan dari kudanya, ia dijatuhkan dari kebesarannya
sebagai seorang pahlawan pembela hukum. Bukan itu saja, ia berada dalam kegelapan malam. Ia tak
mampu melihat. Demikianlah pengalaman Saulus adalah juga pengalaman kita ketika kita seakan
“terjatuh dan terjerumus dalam kegelapan malam.” Kita kehabisan tenaga. Kita mulai mempertanyakan
sekali lagi apa yang telah kita perbuat, dan pada saat yang sama kita membulatkan tekad untuk
menemukan arah baru.

Saulus tak hanya terjatuh dan berada dalam kegelapan. Orang-orang sekitarnyapun mulai menudingkan
jari-jemari ke arahnya. Ananias muncul mewakili orang-orang ini ketika ia berkata; “Tuhan, dari
banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya
terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.” (Kis 9: 13). Kita mungkin mendengar bisikan orang lain
tentang diri kita. Orang-orang mulai mempersalahkan diri kita.

Namun di tengah situasi seperti ini, kita hendaknya dikuatkan, kita hendaknya membuka telinga untuk
mendengarkan kata-kata peneguhan yang keluar dari mulut Yesus sendiri; “…orang ini adalah alat
pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan
orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia
tanggung oleh karena nama-Ku.” (Kis 9; 15-16).

Kita semua adalah alat pilihan Tuhan. Tentu saja alat tersebut bisa saja menjadi tumpul. Alat
tersebut bisa saja menjadi karat. Alat tersebut mungkin seakan tak layak lagi untuk dipakai. Namun
kalau alat tersebut berada dan dipakai di tangan Tuhan, maka kita tak akan dapat menolak dengan
alasan apapun kecuali membiarkannya untuk digunakan. Kekuatan kita bukan berada dalam genggaman
tangan kita sendiri, tetapi berada dalam tanganNya.

Marilah kita memberikan seluruh diri kita dengan segala kelemahannya, dengan segala beban yang
dipikulnya, dengan segala keterbatasannya dan meletakannya dalam genggaman tangan Tuhan. Tuhan tahu
apa yang terbaik bagi kita, dan mari kita senantiasa berkata; “Tuhan, aku hanyalah suatu alat yang
tak berguna, hanyalah seorang hamba yang harus melaksanakan apa yang harus aku lakukan.” (Luk 17;
10). Amin!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s