Last Lecture (Randy Pausch)

Posted: 10 August, 2009 in Inspiration

“Tembok penghalang berdiri disini karena suatu alasan, bukan untuk menghalangi kita. Tembok ini ada untuk memberikan kita kesempatan untuk menunjukkan sekuat apa kita menginginkan sesuatu.” –Randy Pausch –

Pada 15 Agustus 2007, Profesor Randy Pausch ditemani Jai pergi ke Houston untuk melihat hasil CT scan terakhir. Saat itu, dirinya harus menerima kenyataan pahit bahwa berbagai pengobatan yang dilakukan tak mampu menjinakkan kanker pankreas dalam tubuhnya. Dokter mengatakan bahwa 10 tumor di levernya membuat hidup sang profesor hanya tersisa 3 hingga 6 bulan lagi.

Dilihat secara fisik, Randy tampak baik-baik saja. Bahkan saat mengisi seri kuliah terakhir di Carnegie Mellon University (CMU), Randy melakukan push up bahkan push up dengan satu tangan.
Randy tentu saja tak ingin menerima penyakit mematikan tersebut, namun dia sadar bahwa dirinya tak kuasa untuk mengubahnya. “Kita tidak bisa mengubah kartu-kartu yang dibagikan kepada kita, kecuali bagaimana cara kita memainkan,” ucap Randy. Randy tak ingin terpuruk karena takdir. Ia tetap tegar dan tak patah semangat dalam menjalani sisa hidupnya. Buku “The Last Lecture” dikembangkan dari kuliah terakhir yang diberikan oleh Randy Pausch pada 18 September 2007 di CMU, Pittsburgh, Pennsylvania.

Jeffrey Zaslow, seorang kolumnis bagi Wall Street Journal, membantu Randy untuk menuangkan kisah hidupnya dalam kumpulan kisah tertulis yang terbagi dalam enam bab. Ide membuat buku “The Last Lecture” ini muncul ketika Zaslow ikut menyaksikan kuliah terakhir yang menyentuh audience termasuk dirinya. Setiap pagi, Randy bersepeda sambil menelepon Jeffrey Zaslow untuk berbagi cerita yang hendak diwariskannya melaui headset ponselnya.

Randy lebih banyak berbagi kiat-kiat mengenai bagaimana ia benar-benar mewujudkan impian-impiannya semasa kecil. Randy membuat daftar impian mulai usia 8 tahun antara lain : melayang di udara, bermain di liga sepak bola nasional, menulis artikel tentang ensiklopedi buku dunia, menjadi Kapten Klirk, dan menjadi perekayasa di Walt Disney. Impiannya bermain di National Football League tak bisa terwujud, namun Randy tak pernah berhenti bermain sepak bola sebagai hobinya. Bahkan dokter Mehmet Oz sering diajaknya bermain saat berkunjung ke rumah Randy.

Selain dapat mewujudkan impiannya sendiri, Randy juga membantu mewujudkan impian orang lain, salah satunya adalah Tommy. Tommy adalah mahasiswanya ketika masih mengajar di University of Virginia. Tommy ingin ikut mengerjakan film Stars Wars berikutnya. Dan itu impian Tommy saat berumur enam tahun. Tommy banyak belajar tentang pemrograman realitas maya pada Randy dan selalu ingat akan kata-kata yang pernah Randy ucapkan padanya hinnga akhirnya, Tommy menjadi Direktur Teknis Utama dalam Stars Wars Episode II : Attack of the Clones.

Randy juga bercerita tentang ayah dan ibunya yang banyak memberikan pelajaran-pelajaran positif dalam hidupnya serta mendukungnya mewujudkan impian-impiannya. Ayahnya adalah seorang anggota korp medis dalam Perang Dunia II yang ikut bertugas dalam Pertempuran Bulge. Ayahnya selalu memberikan nasihat tentang bagaimana menegoisasi hidup ini. Sementara ibunya adalah seorang guru bahasa Inggris yang selalu berusaha keras membuat anak-anak didiknya pandai. Orangtuanya mengajarkan Randy serta kakaknya untuk hidup hemat dan dermawan. Ayahnya yang didiagnosa menderita leukemia pada usia 83 tahun mengatur agar tubuhnya disumbangkan untuk ilmu kedokteran.
Lalu mengenai pertemuannya dengan Jai di University of North Carolina hingga pernikahan mereka yang dirayakan di halaman sebuah rumah bergaya Victoria di Pittsburgh. Mereka membuat momen tersebut menjadi tak terlupakan dengan tidak menaiki mobil saat meninggalkan resepsi, namun dengan menaiki keranjang balon udara yang sangat besar dan berwarna-warni.

Randy sangat mencintai dan menghargai Jai. Jai yang selama ini selalu menjadi penyemangatnya. Bahkan Randy tak bersedia menukar 8 tahun usia pernikahan mereka dengan apa pun juga. Pada pemberian kuliah yang terakhir, satu hari setelah ulang tahun Jai, Randy mengajak empat ratus orang yang datang untuk menyanyikan lagu “Happy Birthday to Jai”. Mereka berpelukan dan berciuman. Selagi mereka berdekapan, Jai berbisik, “Tolong, jangan mati.” Randy menjawab dengan memeluknya lebih erat.

Banyak sekali yang ingin disampaikannya Randy untuk anak-anaknya sebelum dirinya meninggal. Namun dengan usianya yang masih begitu kecil, mereka tentu tak mengerti dan tak bisa mengingatnya. Dylan masih berusia 6 tahun, Logan berusia 3 tahun, sedangkan Chloe berusia 18 bulan. Oleh karena itu, sebenarnya “The Last Lecture” ini dipersiapkan untuk ketiga anaknya. Ia berharap pelajaran-pelajaran hidup yang disampaikannya dapat menjadi panduan bagi anak-anaknya untuk menjalani hidup mereka tanpa kehadiran ayahnya secara fisik. Randy mengungkapkan bahwa ia mempersiapkan “The Last Lecture” sebagai warisan bagi istri dan tiga anak-anaknya, Dylan, Logan, dan Chloe. Untuk ketiga anaknya, Randy ingin mereka menjadi apa yang mereka inginkan. Randy tahu mereka bisa menemukan jalan mereka sendiri dan berkembang dengan potensi mereka masing-masing.
Buku “The Last Lecture” diterbitkan pertama kali pada tahun 2008 oleh Hyperion yang merupakan anak perusahaan Disney di bidang penerbitan. Alasan Randy memilih penerbit tersebut lantaran dirinya terlanjur jatuh cinta pada Disney. Ufuk Publishing House membeli hak penerbitan buku ini pada Juni tahun 2008 dan menerbitkan “The Last Lesture” versi bahasa Indonesia.

Buku setebal 305 ini dapat dijadikan panduan serta inspirasi yang luar biasa bagi kita untuk pantang menyerah dalam perjuangan mewujudkan impian-impian. “Tembok penghalang berdiri disini karena suatu alasan, bukan untuk menghalangi kita. Tembok ini ada untuk memberikan kita kesempatan untuk menunjukkan sekuat apa kita menginginkan sesuatu”. pesan Randy. Randy juga menyebutkan pentingnya menghargai setiap momen yang ada, karna momen tersebut tak kan bisa untuk di-replay layaknya video. Kata-kata yang dituliskan Randy dalam buku “The Last Lecture” mampu mengajak orang-orang yang berputus asa atau nyaris menyerah kembali bangkit untuk berani bermimpi serta menggapainya. Intinya, buku berisikan semangat moral ini amat layak dan patut untuk dibaca.

Rekaman video berdurasi 76 menit mengenai pemberian kuliah terakhir Randy di CMU membuat lebih dari enam juta orang pengakses youtube.com berurai air mata. Dalam waktu singkat, kisahnya tersebar seantero Amerika hingga dikenal di seluruh dunia. Kisah Randy pun mencuri perhatian Oprah Winfrey hingga Randy diundang dalam acara “Oprah Winfrey”. Kemudian, ia juga dinobatkan majalah Time sebagai satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia sepanjang tahun 2007 karna kisahnya yang mau membangkitkan semangat.

Akhirnya, Randy meninggal di usia 47 tahun tepatnya 25 Juli 2008. Ia bersyukur sebelum hari kematiannya tiba, ia bisa mempersiapkan dan meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada tambang emas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s