Berapa Sebetulnya Anak yang Kita Inginkan?Berapa Sebetulnya Anak yang Kita Inginkan?

Posted: 1 October, 2009 in File

“Being a full-time mother is one of the highest salaried jobs…
since the payment is pure love.”
~ Mildred B. Vermont

Dahulu para leluhur kita yakin bahwa anak adalah pemberian dan anugerah Allah dan mungkin juga jumlah anak yang terlahir dan hadir.

Bagaimana kalau orang zaman sekarang? Barangkali bahwa anak masih diyakini sebagai pemberian Allah, tapi apakah demikian dengan jumlah anak? Kita perlu jujur merenungkan ini.

Saya sering merenungkan tentang anak yang diyakini sebagai pemberian Allah ini. Saya berbagi cerita dengan beberapa keluarga yang membuat keluarga itu menjadi sangat sedih karena kelakuan anak-anak mereka yang sangat menjengkelkan, yang membuat malu, dan benar-benar menyulitkan dan mengacaukan relasi dan kehidupan keluarga.

Keluarga sahabat juga membagi pengalamannya dengan saya. Beberapa keluarga sangat merindukan kehadiran bayi dalam keluarga mereka. Mereka sangat mendambakan kehadiran orang yang barangkali menjadi sumber kegembiraan dan kebahagiaan mereka. Pasangan suami-istri yang sudah bertahun-tahun menikah, berusaha sekuat tenaga, berdoa sekhusyuk mungkin memohon kehadiran anak yang dinanti-nanti.

Saya pernah mendapat cerita dari seorang pembimbing umat,
“Apa menurutmu yang paling menggembirakan orangtua kita?”
Jawabannya adalah kehadiran kita, atau tepatnya, “Kita.”
Lalu,
“Apa menurutmu yang paling membuat orangtua kita sedih bahkan menderita?
Jawabannya sama. “Kita.”

Ini bukan semacam kecelakaan atau tragedi. Ini justru berhubungan dengan kegembiraan itu sendiri. Karena semakin besar kegembiraan dan kebahagiaan hidup, biasanya semakin besar usaha yang diperlukan, semakin besar tantangan yang dihadapi, bahkan semakin besar ‘penderitaan’ yang dialami.

Di era yang katanya modern ini, kita yang konon juga orang modern, jika ditanya,
“Berapa anak yang Anda inginkan?”
Apa jawaban kita? Barangkali kita akan menjawab, “Dua.” Atau paling banyak tiga, karena mungkin kita bekerja pada perusahaan yang membiayai kesehatan dan lainnnya hanya paling banyak tiga orang.

Apakah anak sudah lebih dominan kita anggap sebagai beban dan ‘merepotkan’ daripada sebagai anugerah dan rahmat?

Permenungan Menarik dan Menggetarkan

Saya sering tersenyum dan kadang-kadang begitu menggetarkan, jika sampai pada permenungan tentang jumlah anak yang ‘hanya’ dua orang ini.

Jika dulu, kedua orangtua saya berpendapat seperti manusia zaman sekarang, bahwa mereka sepakat jumlah anak mereka hanya dua atau tiga, dan rencana mereka betul-betul mereka laksanakan, ada hal yang menarik bagi diri saya sendiri dan mungkin bagi orang lain.

Iya, sesuatu yang sangat penting dan menakjubkan untuk saya. Karena jika kedua orangtua saya sepakat dan melaksanakan rencana mereka — memiliki hanya dua orang anak — maka saya sangat sulit mengetahui eksistensi saya di bumi dan dunia ini.

Mengapa? Karena Anda tahu, bukan? Saya anak ke-8 dari 9 bersaudara.

Frans. Nadeak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s