Dermawan Rahasia oleh: Woody McKay Jr

Posted: 1 October, 2009 in Motivation

Sebagai seorang supir selama beberapa tahun di sekitar awal tahun
1910-an, ayahku menyaksikan majikannya yang kaya raya secara diam-diam
memberikan uang kepada banyak orang, dan sadar bahwa mereka tidak akan
pernah mampu mengembalikan uang itu.

Ada satu cerita yang menonjol dalam kenanganku di antara banyak cerita
yang disampaikan ayahku kepadaku. Pada suatu hari, ayahku mengantar
majikannya ke sebuah kota lain untuk menghadiri sebuah pertemuan bisnis.
Sebelum masuk ke kota itu, mereka berhenti untuk makan sandwich sebagai
ganti santap siang.

Ketika mereka sedang makan, beberapa orang anak lewat, masing- masing
menggelindingkan sebuah roda yang terbuat dari kaleng. Salah seorang di
antara anak-anak itu pincang. Setelah memperhatikan lebih dekat, majikan
ayahku tahu bahwa anak itu menderita club foot. Ia keluar dari mobil dan
menghentikan anak itu.

“Apakah kakimu membuatmu susah?” tanya orang itu kepada si anak.

“Ya, lariku memang terhambat karenanya,” sahut anak itu.

“Dan aku harus memotong sepatuku supaya agak enak dipakai. Tapi aku
sudah ketinggalan. Buat apa tanya-tanya? ”

“Mm, aku mungkin ingin membantu membetulkan kakimu. Apakah kamu mau?”

“Tentu saja,” jawab anak itu. Anak itu senang tetapi agak bingung
menjawab pertanyaan itu.

Pengusaha sukses itu mencatat nama si anak lalu kembali ke mobil.
Sementara itu, anak itu kembali menggelindingkan rodanya menyusul
teman-temannya.

Setelah majikan ayahku kembali ke mobil, ia berkata, “Woody, anak yang
pincang itu… namanya Jimmy. Umurnya delapan tahun. Cari tahu di mana
ia tinggal lalu catat nama dan alamat orang tuanya. ” Ia menyerahkan
kepada ayahku secarik kertas bertuliskan nama anak tadi.

“Datangi orang tua anak itu siang ini juga dan lakukan yang terbaik
untuk mendapatkan izin dari orang tuanya agar aku dapat mengusahakan
operasinya. Urusan administrasinya biar besok saja. Katakan, aku yang
menanggung seluruh biayanya.”

Mereka meneruskan makan sandwich, kemudian ayahku mengantar majikannya
ke pertemuan bisnis.

Tidak sulit menemukan alamat rumah Jimmy dari sebuah toko obat di dekat
situ. Kebanyakan orang kenal dengan anak pincang itu.

Rumah kecil tempat Jimmy dan keluarganya tinggal sudah harus di cat
ulang dan diperbaiki di sana sini. Ketika memandang ke sekeliling,
ayahku melihat baju compang-camping dan bertambal-tambal dijemur di
seutas tali di samping rumah. Sebuah ban bekas digantungkan pada seutas
tambang pula pada sebuah pohon oak, tampaknya untuk ayunan.

Seorang wanita usia tiga puluh limaan menjawab ketukan pintu dan membuka
pintu yang engselnya sudah berkarat. Ia tampak kelelahan, dan tampangnya
menunjukkan bahwa hidupnya terlalu keras.

“Selamat siang,” ucap ayahku memberi salam. “Apakah Anda ibu Jimmy?”

Wanita itu agak mengerutkan dahinya sebelum menyahut.

“Ya. Apakah ia bermasalah?” Matanya menyapu ke arah seragam ayahku yang
bagus dan disetrika rapi.

“Tidak, Bu. Saya mewakili seorang yang sangat kaya raya yang ingin
mengusahakan kaki anak Anda dioperasi agar dapat bermain seperti
teman-temannya. ”
“Apa-apaan ini, Bung? Tak ada yang gratis dalam hidup ini.”

“Ini bukan main-main. Apabila saya diperbolehkan menerangkannya kepada
Anda dan suami Anda, jika ia ada saya kira semuanya akan jelas. Saya
tahu ini mengejutkan. Saya tidak menyalahkan bila Anda merasa curiga.”

Ia menatap ayahku sekali lagi, dan masih dengan ragu-ragu, ia
mempersilahkannya masuk. “Henry,” serunya ke arah dapur, “Ke mari dan
bicaralah dengan orang ini. Katanya ia ingin menolong membetulkan kaki
Jimmy.”

Selama hampir satu jam, ayahku menguraikan rencananya dan menjawab
pertanyaan-pertanya an mereka. “Apabila Anda mengizinkan Jimmy menjalani
operasi,” katanya, “Saya akan mengirimkan surat-suratnya untuk Anda
tandatangani. Sekali lagi, kami yang akan menanggung seluruh biayanya.”

Masih belum bebas dari rasa terkejut, orang tua Jimmy saling memandang
di antara mereka. Tampaknya mereka masih belum yakin.

“Ini kartu nama saya. Saya akan menyertakan sebuah surat kalau nanti
saya mengirimkan dokumen-dokumen perizinan. Semua yang telah kita
bicarakan akan saya tuliskan dalam surat itu. Andai kata masih ada
pertanyaan, telepon atau tulis surat ke alamat ini.” Tampaknya sedikit
banyak ini memberi mereka kepastian. Ayahku pergi. Tugasnya telah ia
laksanakan.

Belakangan, majikan ayahku menghubungi walikota, meminta agar seseorang
dikirim ke rumah Jimmy untuk meyakinkan keluarga itu bahwa tawaran
tersebut tidak melanggar hukum. Tentu saja, nama sang dermawan tidak
disebutkan.

Tidak lama kemudian, dengan surat-surat perizinan yang telah
ditandatangani, ayahku membawa Jimmy ke sebuah rumah sakit mewah di
negara bagian lain untuk yang pertama dari lima operasi pada kakinya.

Operasi-operasi itu sukses. Jimmy menjadi anak paling disukai oleh para
perawat di bangsal ortopedi rumah sakit itu. Air mata dan peluk cium
seperti tak ada habisnya ketika ia akhirnya harus meninggalkan rumah
sakit itu. Mereka memberikannya sebuah kenang-kenangan, sebagai tanda
syukur dan peduli mereka… sepasang sepatu baru, yang dibuat khusus
untuk kaki “baru”nya.

Jimmy dan ayahku menjadi sangat akrab karena sekian kali mengantarnya
pulang dan pergi ke rumah sakit. Pada kebersamaan mereka yang terakhir,
mereka bernyanyi-nyanyi, dan berbincang tentang apa yang akan diperbuat
oleh Jimmy dengan kaki yang sudah normal dan sama-sama terdiam ketika
mereka sudah sampai ke rumah Jimmy.

Sebuah senyum membanjiri wajah Jimmy ketika mereka tiba di rumah dan ia
melangkah turun dari mobil. Orangtua dan dua saudara laki- lakinya
berdiri berjajar di beranda rumah yang sudah tua itu.
“Diam di sana , ” seru Jimmy kepada mereka. Mereka memandang dengan
takjub ketika Jimmy berjalan ke arah mereka. Kakinya sudah tidak pincang
lagi.

Peluk, cium dan senyum seakan tak ada habisnya untuk menyambut anak yang
kakinya telah “dibetulkan” itu. Orang tuanya menggeleng- gelengka n
kepalanya sambil tersenyum ketika memandangnya. Mereka masih tidak bisa
percaya ada orang yang belum pernah mereka kenal mengeluarkan uang
begitu banyak untuk membetulkan kaki seorang anak laki-laki yang juga
tidak dikenalnya.

Dermawan yang kaya raya itu melepas kacamata dan mengusap air matanya
ketika ia mendengar cerita tentang anak yang pulang ke rumah itu.
“Kerjakan satu hal lagi, ” katanya, “Menjelang Natal, hubungi sebuah
toko sepatu yang baik. Buat mereka mengirimkan undangan kepada setiap
anggota keluarga Jimmy untuk datang ke toko mereka dan memilih sepatu
yang mereka inginkan. Aku akan membayar semuanya. Dan beritahu mereka
bahwa aku melakukan ini hanya sekali. Aku tidak ingin mereka menjadi
tergantung kepadaku.”

Jimmy menjadi seorang pengusaha sukses sampai ia meninggal beberapa
tahun yang lalu.

Sepengetahuanku, Jimmy tidak pernah tahu siapa yang membiayai operasi
kakinya.

Dermawannya, Mr, HENRY FORD, selalu mengatakan lebih menyenangkan
berbuat sesuatu untuk orang yang tidak tahu siapa yang telah melakukannya.

” Ada kebahagiaan yang kita rasakan dari menolong orang lain” (Paul Newman)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s