Soto Kawin

Posted: 1 October, 2009 in File, Reflection

Selamat malam Sobat.
Semoga hidup Anda dalam kebersamaan dengan Tuhan dan tidak diceraikan oleh apapun karena perceraian itu mahal harganya apalagi bercerai dengan cinta Allah.

Beberapa malam yang lalu saya bersama teman-teman dari karyawan Gramedia Denpasar makan di sebuah warung yang ada di jalan waturenggong Denpasar. Kami makan soto, setelah makan dan mau meninggalkan warung itu, mata saya menangkap tulisan “sederhana” tapi penuh makna di sampaing gerobak soto penjual soto itu.

Kalimat itu berisi harga dan nama-nama soto yang dijual. Kalau Anda makan soto pasti namanya soto yang tertera seperti soto babat, soto ayam atau soto-soto yang lain. Tapi pada tulisan di samping gerobak itu berbunyi :

Soto kawin Rp. 6.000,00
Soto cerai Rp. 7.500,00
Soto kesepian Rp. 5.000,00

Saya tidak paham dengan nama-nama itu maka saya tanyakan pada penjual soto itu. “Pak apa artinya masing-masing soto itu ?”, tanya saya.

Bapak penjual soto menjawab,” soto kawin adalah nasi campur sotonya, soto cerai adalah nasi berpisah dengan sotonya dan soto kesepian adalah soto tanpa nasi”.

“Lho soto cerai kok lebih mahah???”, sambung saya.

Jawab bapak itu,” kan lebih repot menghidangkannya dan alat yang dipakai lebih banyak jadi pekerjaannyapun paling lama”.

“oh begitu”, sambung saya.

Inilah kreatifitas dari penjual soto ini yang menarik mata dan perhatian saya. Yang menarik bagi saya adalah arti dari soto itu teristimewa “soto cerai”. Soto cerai harganya lebih mahal dibanding soto yang lain karena cara menghidangkan “lebih repot” dan “memakai banyak bekakas” dengan pekerjaan lebih lama juga.

Perceraian memang selalu repot dan memerlukan banyak perhatian tercurah disana. Perceraian kadang kali diikuti dengan perbuatan “saling” menyakiti antar mereka yang sedang bercerai. Di samping itu akan banyak pekerjaan baru harus dikerjakan setelah perceraian misalnya tentang pembagian harta, pengasuhan anak dan banyak masalah pelik lainnya.

Perceraian selalu menciptakan banyak pekerjaaan, seperti penjual soto yang harus lebih repot dan mencuci barang lebih banyak. Maka dalam hidup lebih baik dan kalau bisa jangan dekat dengan yang namanya “perceraian”. Buatlah hidup dalam “perkawinan” yang langgeng abadi karena Allah menghedaki kebersamaan itu sampai ajal yang menjemputnya.

Dalam kebersamaan itu akan ada rasa yang lebih “menyeluruh” dan kehangatan yang merata seperti kalau akan soto kawin gambaran penjual soto itu. Sungguh sangat indah kalau hidup dalam cinta yang abadi seperti soto kawin.

Salam dalam kebersamaan membangun dunia dalam kebersamaan melanggengkan perkawinan walaupun saya tidak kawin.

Saya berdoa untuk setiap orang yang “menikah” semoga kebersamaan Anda abadi dan langgeng sampai maut menjemput.

Salam dalam cinta membangun dunia menjadi lebih baik dalam kebersamaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s