Sedih Itu Ibu Kandung Kebahagiaan

Posted: 3 March, 2010 in Reflection

Di bawah bentangan langit yang sedikit sepi dari kumpulan bintang, dalam keramaian angin malam yang saling berlomba Bernyanyi penuh kelirihan akan kesunyian.. Aku berjalan sendiri dalam kelam malam, untuk sebuah imaji yang terkunci di balik kegelapan. “Imaji?? Bukankah imaji mudah di gali dimana saja kamu berdiri??” Tanya kecil hatiku yang sedikit ragu akan misiku. “Benar! Tapi, bukankah hal yang mudah itu mudah di dapat dimana saja kamu berada??” Jawabku coba menangkal keraguan itu. “Jadi apa masalahnya?” Bantah keraguan hatiku akan argumenku. “Masalahnya, ini bukan soal mudah atau sulit untuk di cari atau di gali, ini soal perenungan yang sangat butuh suatu ketenangan!”. Jawabku untuk menghapus keraguanku.

Setibaku di ujung malam, ku keluarkan tiga cangkir kopi yang sudah ku tuangkan dalam satu botol plastik. Ini untuk ‘partnerku merenung. Lalu tiga bungkus ‘dji sam soe. Ini untuk dingin malam yang membeku. Dan, di mulailah diskusi pribadiku.. :

“Sudah, langsung saja kawan.. Jangan pakek basi-basi yang basi..” Celetus sang angin malam untuk langsung membuka diskusi.

“Jangan gitu dong.. Santai sajaa..
Tidakkah kau lihat? wajahnya begitu ‘tak berwarna..” Sahut sang pohon yang sedang ku jadikan sandaran.

“Ada apa kawan..?
Ceritalah padaku..” Bisik sang pohon mencoba memihakku.

“Tahukah kau kawan akan sebuah luka..?
Maksudku, apa arti luka bagimu?” Tanyaku pada keduanya.

“Hahahaa..!
Apa yang terjadi pada dirimu kawan dengan pertanyanmu itu??
Luka?? Menurutku hanya sebuah rasa yang wajib kita rasakan..” Jawab sang angin dengan ejekan tawanya.

“Tidak ada apa-apa denganku, aku hanya bingung dengan sebuah luka yang semua orang mencoba
menghindarinya..
Tapi tunggu dulu, apa maksudmu dengan ‘wajib kita rasakan??” Jawab dan tanya balik dariku.

“Aahh kau ini..!
Ketahuilah, tanpa ada luka, kita tidak pernah berfikir untuk bisa menetralisir sebuah rasa sakit!
Akibatnya.. Jika kita berhadapan dengan masalah besar yang sangat melukai, kita terjebak dan
terancam dalam prustasi!” Oceh singkat sang angin yang terlihat sedikit pening.

“O’ouw.! Slowdown..
Tenang kawan.. Begini maksud sang angin,
Janganlah kau terluka akan sebuah luka.. Luka bukan untuk di rasakan lukanya, tapi untuk di
rasakan apa yang di sampaikannya. Karena sebenarnya luka itu datang hanya untuk menyampaikan
sesuatu yang sebenarnya kau lupakan” Jabar sang pohon untuk memperjelas akan jawaban sang angin.

“Sesuatu yang di lupakan??
Emang apa sesuatu itu?? Tanyaku lagi.

“RASA SEDIH!
Sebentar..! Biarku kujabarkan dulu.. Pasti kau bingung dengan jawabanku.
Begini maskudku kawan..
Orang kebanyakan telah salah mengartikan arti sedih yang sesungguhnya, sedih mereka anggap suatu
rasa yang hanya melukai.. Dan pada saat sedih itu datang pada mereka.. Ahirnya yang bisa mereka
rasakan adalah rasa lukanya saja“. Perjelas sang pohon dengan jawabanya.

“Jadi apa sebenarnya rasa sedih itu??” Tanyaku lagi akan jawabannya.

“Sedih sebenarnya rasa yang mengajak kita untuk merenung dengan dalam, tapi sedikit membawa
sebuah luka.. Luka itu adapun karena adanya sebuah rindu yang terlalu lama menggema atau sebuah
rasa hati yang tersakiti. Luka itu datangpun juga membawa maksudnya sendiri, yang mengingatkan
kita untuk berfikir dan untuk bisa meredam sebuah rasa sakit agar tidak menimbulkan sebuah rasa
putus asa. Dan jika putus asa itu datang.. maka berhati-hatilah akan rayuannya, rayuan yang
mengajak kita ke sebuah kata PRUSTASI!”
Jabaran total penuh pesan moral dari sang pohon.

“Dan tahukah kau kawan, ini juga sangat wajib kau ketahui..
Kebahagian tidak akan lahir tanpa adanya Kesedihan yang mengawalinya..
Jadi, tugasmu hanyalah untuk menghargai dan menyambut dengan pemikiran bijaksana jika rasa sedih
itu datang. Karena ‘Sedih itu, ibu kandung Kebahagiaan!’
Jika kau menghargai sedih itu secara bijaksana, maka ia akan melahirkan suatu kebahagian yang bijaksana pula. Karena dalam pemikiran yang bijaksana saat kau dalam keadaan sedih, kau akan tahu, pondasi-pondasi kuat yang di butuhkan dalam suatu kebahagiaan adalah ‘kebijaksanaan kita dalam menghadapi kesedihan’. Yang mana itu akan menjadi sebuah kekuatan yang sangat di butuhkan untuk mempertahankan kebahagian saat kebahagian itu di lahirkan“.
Sahut sang angin malam untuk menambahkan pengertian akan kesedihan. Aku diam dengan kebanggaan yang dalam mendengar jabaran dari keduanya. Kini, ku ‘tak lagi akan terluka saat luka itu datang, karena ku tahu luka itu tidak akan melukaiku. Dan, hatiku tidak akan pernah perih saat aku sedang bersedih.. Karena sedih tidak akan membuatku bersedih, Melainkan memberiku kekuatan untuk lebih kokoh dalam kebijaksanaan, untuk menyambut lahirnya suatu sebuah kebahagiaan.

Masih dua bungkus lagi rokokku dari tiga bungkus yang ku bawa, tapi kopiku tinggal sisa ampas yang mengental. Ahirnya, ku putuskan pada kudua untuk permisi karena diskusi sudah bisa untuk di ahiri.

Di bawah bentangan langit yang sedikit sepi dari kumpulan bintang, dalam keramaian angin malam yang saling berlomba bernyanyi penuh kelirihan akan kesunyian.. Aku berjalan sendiri dalam kelam malam untuk kembali pulang dan membawa sebuah jawaban yang berhasil ku petik di balik kegelapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s