Sidang di Balik Nyawa

Posted: 3 March, 2010 in File, Reflection

Sejalan dalam proses pemikiran yang memeras daya kerja Otak besarku, Otak kecilku dengan acuh ‘tak henti menggali kata misteri untuk di tuangkan kedalam ruang Otak besar, dan di paksa harus menjabarkan dalam bentuk sebuah pemikiran. Pemaksaan yang tanpa memandang seberapa besar berfikirnya daya Otak besarku dalam memahami makna sebuah kata-kata besar, yang sebenarnya, Otak besarku malam itu sudah sangat lelah untuk berpikir. Ini terjadi secara rutin dalam malamku setiap menjelang untuk tidur. Proses ini ‘tak bisa di hentikan dan sungguh mengganggu acara untuk beristirahat. Berawal dari misi Suara Hati yang sudah berkongsian dengan Otak kecilku. Dalam misinya, ‘tak lain, memaksa Otak besarku untuk bisa berfikir secara bijaksana dan untuk bisa bijaksana dalam berfikir. “Bijaksana”, sebuah kata yang sungguh sederhana. Tapi dalam bentuk kesederhanaan kata itu, sangatlah jauh prosesnya untuk mencapai sebuah inti hakiki dalam penyebutan, pemaknaan dan pelaksanaan sebuah kata “Bijaksana”. Lagi, untuk kesekian kalinya, malamku ‘tak lagi gelap dan ‘tak di izinkan untuk terlelap. Dan lagi, untuk seterusnya, malamku ramai dan bising di serang ribuan kata yang terkunci yang harus kubuka untuk menjadi tugas wajib dan wajib di laksanakan untuk besok pagi.

Satu kalimat terkunci malam itu: “KEBERANIAN”
Di awali dari kata Suara hati yang di dengar pelan Otak kecil dan di teriakkan keras untuk Otak besar.

Suara hati : “Setahuku, dan sesuai apa yang ku rasakan, otak besar sangat sembrono untuk mengambil keputusan dalam sikap “Berani”. Tanpa tahu dan tidak mau tahu makna “Berani” yang sesungguhnya, yang akibatnya dan sering terjadi malah menjebaknya dalam posisi celaka. Dasar bodoh.. Gembleng dulu kawanmu itu! Aku tidak mau kita selalu dalam keadaan yang tidak merdeka!”. Wejang Suara hati pada Otak kecil untuk membimbing si Otak besar.

Otak kecil : “Mohon maaf suara hati.. sebenarnya aku pribadi sudah sangat sering memesannya untuk berfikir dalam dulu dalam bertindak. Tapi, sikapnya selalu dalam pikiran simple, pikiran emosi, pikiran yang ‘tak mau tahu akibat dan sebab dari tindakannya. Tanpa memahami makna apa yang terjadi, unsur apa yang terjadi dan apa lagi yang akan terjadi”. Jelas dasar Otak kecil akan sifat dasar Otak besar.

Otak kecil : “Hei!! Otak besar! Kau ingin jadi pemberani dan ingin tahu Keberanian?!
Tapi ketahuilah dulu, seberannya kau itu bodoh! Berani tidak akan jadi keberanian jika dalam berani itu ada kebodohan! Kini kutayakan padamu, apa arti keberanian padamu higga sikap keberanianmu selalu menjebakmu dalam kebodohan sifat! Kebodohan sifat adalah yang selalu mengarahkanmu pada celaka!”. Pekik Otak kecil pada otak besar yang selalu terjebak celaka dalam berfikirnya.

Otak besar : “Eemm.. Keberanian??
Yang kutahu, menantang atau melawan. Itu saja”. Jawab bingung si Otak besar.

Otak kecil : “Itulah bodohnya pikiranmu!
Dari kau menjawab menantang atau melawan saja sudah salah! karena tidak ada unsur keberanian di situ! menantang atau melawanmu adalah takut! Bukan berani! Karena itu kau selalu terjebak dalam celaka! Melawan adalah sifat yang membela hak! Hak untuk merdeka! Bukan malah menjadikan kita terkunci! Dan merdeka itu tidak pernah membuat kita celaka! Jika kau benar-benar memahami arti dari sifat menantang atau melawan itu kau tidak akan pernah celaka!”. Sambung pekik keras Otak kecil.

Otak besar : “Jadi apa kesalahanku dan dimana kebodohanku?”. Jawab resah Otak besar.

Otak kecil : “Kesalahanmu, tidak adanya Keberanian dalam Beranimu..
Kebodohanmu, tidak tahunya arti Keberanian dalam Beranimu”. Jawab singkat Otak kecil.

Otak besar : “Bagaimana itu?? migrant aku memikirkannya..”. Jawab bingung Otak besar.

Otak kecil : “Berani bukan suatu Keberanian, tapi Keberanian suatu Berani yang penuh. Berani yang hakiki! Karena di balik Keberanian itu kau akan merasakan seluruh sifat dan rasa “Tak ada gelisah, tak ada resah, tak takut mati untuk menghadap maut yang menanti”. Dari rasa dan sifat itu kau menjadi tidak akan terganggukan untuk bisa “Menjulang tinggi tanpa rasa takut di hadapan maut, dan untuk bisa menerobos bebas lepas dalam kehidupan yang keras!”. Bukan menggunakan rasa melawan dan menantang saja, itu hanya suatu jebakan rasa untuk mengarahkanmu dalam rasa dan sifat yang terkunci! Dan mengumpankanmu dalam Celaka!”. Jawab tegas otak kecil untuk menegaskan Otak besar.

Otak besar : “Lalu apa tindakanku untuk membangun Keberanian?”. Desak tanya Otak besar.

Otak kecil : “Awalilah rasamu dengan pemikiran akan niat utamamu untuk tidak bisa roboh dalam posisi apapun, keadaan apapun dan kejadian apapun! itulah dasar pondasi kokoh niatmu, inginmu dan cita-citamu yang akan membentuk dengan perlahan menjadi suatu ambisi yang tidak ambisius yang akan menjadikan secara nyata seluruh mimpimu dari seluruh rangkaian imajinasimu! Dengan rangkaian rasa, emosi dan niat yang tersusun rapi itu, membentuk suatu kolaborasi yang melahirkan suatu kontrol tinggi dalam diri kita yang tidak akan tergiring, terarahkan dan terjebak dalam Celaka!”. Jabaran penuh Otak kecil.

Otak kecil : “Pahamilah semua itu Otak besar, pahamilah untuk pemikiranmu yang selalu membuat kita dalam suasana genting yang ‘tak penting!”. Kata sambung Otak kecil.

* * *

Di balutan suasana malam yang terbumbui seribu rasa sunyi, di sela-sela ribuan urat nadi, di tengah-tengah lingkarang ribuan sel darah yang mengalir pelan bersama pikiran kelam yang perlahan paham, di antara alam sadar dan di bawah alam sadar, aku terdiam dengan sederhana dalam kesederhanaan pikiranku memahami arti tersembunyi dalam SIDANG di balik sehelai halus NYAWA dalam ragaku ini. Yang siap menyusun, membangun dan menegakkan dengan tegas arti tentang KEBERANIAN untuk perjalan hidupku yang ‘tak ingin berhenti di tengah-tengah waktu sebelum mimpi dari rangkaian imajinasiku berdiri di awal zaman, di tengah-tengah zaman dan sampai di ahir zaman.

Seperti benih muda yang tumbuh segar dalam lahan yang kering. Tak lebih ‘tak kurang makna itu yang ku rasa dalam pikiranku setelah ku tahu arti sesungguhnya tentang sebuah Keberanian. Pikiran dan jiwaku tenang. Dalam ketenangan yang datang itu, migranku pergi, gundah jiwaku mati. Dan antara matinya gundah jiwa dan perginya migranku.. pandanganku juga diantara mati dan hidup. Gelap dan terang. Mati.. ‘tak lama hidup. Gelap, gulita.. ‘tak lama terang. Mati.. hidup lagi. Gelap.. terang lagi. Mati.. hidup. Gelap.. terang. Mati lagi.. hidup lagi. Gelap lagi.. terang lagi.
Dan.. GELAP! ‘tak terang lagi!. Aku tertidur.

Comments
  1. eso says:

    bagus…
    suka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s