Life Here and Now

Posted: 3 July, 2010 in Reflection

Pada zaman Perang Tujuh Negara, di salah satu desa di negeri China, terdapat seorang petani miskin yang memiliki seekor kuda putih yang sangat cantik dan gagah.

Pada suatu hari, ada seorang saudagar kaya yang ingin membeli kuda itu dan menawarkan harga yang sangat tinggi. Si petani tidak menjual kuda itu. Teman-temannya menyayangkan dan mengejeknya karena si petani tidak menjual kuda itu. Keesokan harinya, kuda itu hilang dari kandangnya. Mengetahui hal ini, teman-temannya berkata, “Oh teman, sungguh jelek nasibmu. Padahal kalau kemarin kudamu dijual, maka kamu akan langsung kaya raya sekarang”. Si petani hanya diam saja.

Beberapa hari kemudian, kuda itu kembali dari hutan bersama lima ekor kuda liar lainnya. Seluruh kuda liar pun langsung mengikuti kuda putih dan masuk ke dalam kandang si petani. Mengetahui hal ini, teman-temannya berkata, “Oh teman, sungguh beruntung nasibmu. Ternyata kudamu membawa keberuntungan”. Si petani tetap diam saja.

Beberapa hari kemudian, anak si petani yang sedang melatih kuda-kuda baru mereka sempat terjatuh dari salah satu kuda yang dinaikinya sehingga salah satu kakinya patah. Mengetahui hal ini, teman-temannya berkata, “Oh teman, ternyata kuda-kuda itu memang membawa sial. Lihatlah, sekarang kaki anakmu patah”. Si petani tetap diam saja.

Seminggu kemudian, negara tetangga yang lebih kuat menyerbu negara di mana mereka tinggal. Seluruh pemuda yang kondisi tubuhnya fit yang tinggal di negara itu otomatis direkrut ke dalam militer dan dikirim untuk berperang demi mempertahankan negara itu. Namun, anak si petani yang kondisi tubuhnya tidak fit karena kakinya patah tidak direkrut ke dalam militer dan tidak dikirim untuk berperang.

Setelah berperang, negara di mana mereka tinggal akhirnya kalah perang dan seluruh pemuda yang dikirim untuk berperang pun tewas, termasuk anak-anak dari teman-teman si petani. Orang tua mereka mendatangi si petani sambil menangis tersedu-sedu, “Oh teman, beruntung sekali nasibmu. Anakmu tidak ikut berperang, sedangkan semua anak kami harus ikut berperang dan mereka tewas di sana”.

Si petani kemudian berkomentar dengan bijaksana, “Janganlah terlalu cepat mengambil kesimpulan dengan mengatakan nasib baik atau jelek. Seluruh kejadian ini adalah suatu rangkaian proses. Syukuri dan terima sajalah keadaan yang kita alami pada saat ini. Apa yang kelihatan baik untuk hari ini belum tentu baik untuk hari esok. Apa yang kelihatan buruk untuk hari ini belum tentu buruk untuk hari esok.”

Apa moral yang bisa kita dapatkan dari cerita ini?

Hiduplah sekarang dan di sini, atau bahasa kerennya, “LIVE HERE AND NOW”. Terimalah, nikmatilah, dan bersahabatlah dengan keadaan apapun. Kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh keadaan yang kita hadapi di luar diri kita sendiri, melainkan ditentukan oleh kondisi mental kita untuk menyikap keadaan itu. Semakin kita berusaha untuk melawan keadaan itu, maka kita akan semakin menderita. Sebaliknya, semakin kita berusaha untuk menerima keadaan itu, maka kita akan semakin bahagia. Penderitaan tidak muncul karena kegagalan atau kerugian yang kita alami, melainkan karena kita selalu tidak merasa cukup terhadap apa yang kita peroleh, bahkan seandainya kita telah memiliki seluruh dunia sekalipun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s