Untung Rugi dalam suatu hubungan percintaan (Analisis)

Posted: 4 July, 2010 in Relation

Lebih baik menulis daripada tidak berbuat apa-apa. Itulah yang kemudian membuatku ingin menulis kembali.. Tentang banyak hal tentunya. Yang pastinya, aku hanya ingin membahasakan pikiran dan perasaanku.

Aku mulai dengan membahas tentang Cinta :

Pernahkan mendengar tentang kata-kata rugi di dalam suatu hubungan. Apakah dalam cinta ada kata rugi ataupun untung (bati)? Jikalau dua orang menjalin suatu hubungan, adakah yang dirugikan atau diuntungkan dalam konteks perasaan? Jika menurutku kata sakit, bahagia itu ada tapi aku ragu untuk mengatakan bahwa dalam cinta itu ada kata untung-rugi.

Tapi kita sering mendengar untung rugi dalam suatu hubungan dalam konteks materi juga seksualitas. Contohnya, beberapa kawan kita mengatakan betapa ruginya kita tidak memanfaatkan materi, pengaruh, kekuasaan yang pacar kita punya. Setelah kita putus ma pacar kita tapi kita tidak mendapat sesuatu atau pernah melakukan sesuatu bisa jadi merupakan suatu untung-rugi. Untung bagi pihak satu dan rugi bagi pihak lainnya.

Dalam hal seks misalnya, kita dianggap rugi jikalau kita belum menidurinya. Atau kita dirugikan karena dia belum menjadi suami kita tapi sudah meniduri kita lalu meninggalkan kita begitu saja. Hal-hal seperti itu sudah berkembang sejak jaman dulu. Bahkan ketika tante dan om saya masih muda pun demikian. Tapi, emang sekarang lebih terbuka saja.

Lalu jadi timbul pertanyaan, apakah suatu hubungan hanya berisi tidur dan seks? Walaupun banyak hubungan yang berakhir hanya karena seks. Apakah kita bercinta dengan materi bukan orang yang memiliki materi tersebut? Walaupun banyak hubungan yang berakhir karena masalah materi.

Bagaimanakah parameter sesungguhnya? Apakah itu dinilai dari fisik (paras rupawan, body montok tinggi semampai)? Walaupun banyak orang berfisik baik namun ditinggalkan oleh kekasihnya ntah karena seks yang tidak memuaskan, tidak bermateri yang berlebih, atau juga attitude yang tidak bisa diterima. Wah, ternyata sangat kompleks dan bersinergi. Inilah manusia yang kehidupannya selalu kompleks dan selalu ada sudut pandang yang berbeda. Dan semua pertanyaan ini mempunyai jawaban yang pastinya berbeda-beda.

Jikalau sudah demikian, apakah kita mau untuk dirugikan dalam suatu hubungan? Saya yakin setiap orang akan menolak. Apakah kita mau diuntungkan dalam menjalin suatu hubungan? Pastinya akan mengangguk tanda setuju. Namun, kenapa kita tidak mencoba membangun suatu hubungan yang saling menguntungkan? Kata saling menguntungkan berbeda arti dengan saling memanfaatkan untuk mencapai keuntungan masing-masing. Memanfaatkan orang lain (walaupun itu pasangan kita) menjadi suatu fenomena yang lazim dalam kehidupan kita sehari-hari dalam gaya hidup yang semakin individualis.

Simpelnya, misalnya saya mempunyai pacar yang cantik dan pinter. Maka, setelah kami resmi pacaran saya diuntungkan dengan adanya dia dalam mengerjakan tugas-tugas saya. Juga dengan tubuhnya yang menghangatkan saya (dia juga diuntungkan dalam hal ini). Dan dia yang diuntungkan dengan adanya ojek/supir yang setia menunggu berjam-jam di salon kecantikan, ada donatur yang siap membiayai keinginannya (bukan kebutuhannya), dll.

Toh, tapi kita ternyata tidak pernah berpikir secara matematis berapa jika dinominalkan. Itu dikarenakan kita iklas. Dan memang tidak berniat untuk meminta kembali nominal tersebut. Jadi, sekarang kembali pada realitas. Kita sudah mengakhiri hubungan dan berpisah. Namun, kenapa masih memikirkan kita diuntungkan atau dirugikan jika pada saat kita menjalani suatu hubungan kita merasa semua itu ikhlas?

Ikhlaskan saja jika dia meninggalkan kita. Kita tidak dirugikan. Jikalau kita merasa rugi, itu adalah kerugian yang dilakukan oleh kita sendiri akibat kebodohan kita sendiri dan cuma perasaan kita sendiri. Buang jauh rasa rugi itu.

Maafkanlah orang itu dan saatnya berubah. Hubungan yang telah berakhir harusnya dapat memberikan kita keuntungan tentang pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana menjalin suatu hubungan yang baik di masa depan. Kancingkan baju, pasang dan ikat sepatumu lalu tegakkanlah badanmu. Berlarilah dan tatap hari-harimu dengan semangat.

NB: Cuma share aja dari Artikel sebelah, bukan buatan saya, thx

Comments
  1. melly says:

    tidak gampang memaafkan orang yg telah menyakiti kita,cukup membekas….

    kalau merasa di rugikan…dia lebih rugi karna dia yg selalu antar jemput saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s