Archive for the ‘Faith’ Category

Kutemukan Jawabannya

Posted: 1 October, 2009 in Faith

Terima kasih Tuhan atas kasihMu, dalam renunganku kutemukan jawabannya.

Aku baru saja pulang dari rumah sakit pusat yang mengobati KANKER untuk daerah Torino dan sekitarnya. Sambil membawa hosti setelah aku memimpin Perayaan Ekaristi di sana (yang hanya dihadiri oleh segelintir umat).

Ketika kamar pertama ku masuki, sambil sebelumnya aku berujar,” bisakah aku masuk untuk menyapamu?”

Kalau si sakit bilang iya, baru aku masuk. Sore ini tidak sedikit yang berkata : TIDAKKKK….

Kulihat seorang ibu, tanpa rambut di kepalanya, sudah menjalani kemo untuk kesekian kalinya. Dengan mata nanar dia menyapaku. Aku perkenalkan diriku, Saya Don Josepe, pastor dari Indonesia, senang berjumpa dengan anda….. Ada sedikit gurat senyum di matanya.

Ketika aku tanya, apakah anda mau menerima komuni kudus, dia menganggukan kepalanya. Lalu kami berdoa sebentar…. dan dia menyambut tubuh Kristus. setelah doa sebentar… dia pun tertidur…

aku dengar dari seorang perawat bahwa kesembuhannya sangatlah lambat….. stagnan….. tidak ada perkembangan dan begitu begitu saja….

Kamar kedua ku masuki, ketika salamku kuucapkan… sama seperti di atas…. ibu itu menyambutku dengan dingin…. menyalamiku seadanya. Ketika kutawari komuni kudus, dia langsung dengan cepat berkata : NO….. jawaban singkat, padat, dan tidak jelas…. yang membuatku tersentak.

Lalu aku hanya menyapanya dan berkata : Sampai jumpa. lalu diapun kembali tertidur….

Perawat mengatakan : kesembuhannya makin hari semakin merosot… tidak tidak mau makan, bahkan tidak mau bicara… sehari hari nya mengeluh dan mengeluh…..

Kamar kesekian kumasuki setelah beberapa kali mengalami PENERIMAAN DAN PENOLAKAN…. ku lihat seorang gadis muda…. kepalanya gundul seperti lainnya… kalau tidak ada infus dan obat-obatan di mejanya aku tidak akan mengira bahwa dia sakit kanker yang cukup parah.

Senyum cerianya menyambutku sebelum aku mengatakan bahwa aku seorang imam dari indonesia. Dia menyalamiku dengan semangat dan di matanya ada semangat hidup yang membara….

Dia melihatku membawa pixis (tempat hosti), langsung dia berkata : bolehkah aku menyambut komuni kudus. Aku terhentak kaget. Dia berdoa khusuk sekali, kulihat rosario di tangannya. Mungkin ketika aku datang dia sedang berdoa rosario….

Dia sangat berterima kasih atas kunjunganku, senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya yang pucat dan ada selang yang menjulur sampai lehernya.

Perawat mengatakan : semakin hari dia semakin membaik keadaannya , dibandingkan pertama kali dia datang untuk kemo….

Dari 3 pasien kanker kronis yang aku kunjungi, aku belajar sesuatu ketika menghadapi pertanyaan2 yang berputar-putar di kepalaku sejak tadi siang……

SPERANZA… HARAPAN… HARAPAN membuat seseorang menjadi lebih hidup. Harapan membuat seseorang terlepas dari segala hal yang membelenggunya, apapun itu….

seseorang yang berhenti berharap, atau takut untuk berharap, sama seperti badannya masih ada di dunia tetapi jiwanya mati.

Termasuk ketika menyikapi masa lalu yang gelap sekalipun, terhadap dosa TERBERAT yang pernah dilakukan. Kunci untuk mengalahkan semua itu adalah seseorang mempunyai HARAPAN, atau seseorang memberi HARAPAN kepada orang yang mengalami kegelapan dalam hidupnya, bahwa dia dipercaya bisa lebih baik dari sebelumnya.

Dengan harapan yang kokoh, seseorang belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, minimal dia berjanji pada diri nya sendiri untuk hidup lebih baik.

Bukankah KASIH, IMAN DAN HARAPAN menjadi 3 simpul yang membuat manusia menjadi lebih berarti di mata Allah. Yesus Kristus hadir di dunia, hidup di tengah manusia untuk menawarkan suatu harapan yang tidak dapat ditawarkan oleh dunia…. yaitu HARAPAN AKAN KESELAMATAN, AKAN HIDUP YANG LEBIH BERNILAI yaitu HIDUP UNTUK ALLAH DAN SESAMA……..

Jangan berhenti untuk BERHARAP…..

Botol Pemanas & Boneka

Posted: 1 October, 2009 in Faith

Dr. Helen Roseveare, seorang misionaris di Zaire, menuliskan satu pengalamannya saat melayani di Afrika.

“Suatu sore, saya menolong seorang ibu melahirkan di bangsal bersalin. Meskipun kami telah berusaha keras, ibu itu meninggal.

Kami harus merawat bayi prematurnya dan gadis kecilnya yang baru berumur 2 tahun. Sangat sulit untuk menjaga agar bayi prematur itu dapat bertahan hidup karena bangsal ini belum memiliki listrik ataupun inkubator. Padahal suhu di malam hari sangatlah dingin, meskipun negara ini terletak di wilayah equator.

Seorang assisten mengambilkan botol pemanas kami yang terakhir untuk menjaga agar tubuh bayi itu tetap hangat.

Namun, kami kembali putus asa karena botol pemanas yang terakhir itu pecah. Saya segera menyuruh salah satu assisten untuk membungkus bayi itu dengan selimut tebal dan membawanya ke dekat perapian, supaya bayi itu tetap hangat dan tidak kedinginan.

Keesokan harinya, saya mengikuti persekutuan doa dengan anak-anak yatim piatu. Saya menceritakan kepada mereka tentang bayi prematur itu, kakaknya yang masih berusia 2 tahun dan botol pemanas yang pecah.

Saat berdoa, Ruth, seorang anak Afrika yang baru berumur 10 tahun, berkata, “Tuhan, kirimkan kepada kami sebuah botol pemanas sore ini. Bila Engkau mengirimkannya besok pagi, maka akan terlambat karena bayi itu tentu sudah meninggal. Dan jika Engkau mau melakukannya, maukah Tuhan juga mengirimkan sebuah boneka untuk kakaknya supaya dia tahu bahwa Engkau mengasihi dia juga. Amin.”

Terus terang, saya tidak dapat percaya bahwa Tuhan akan melakukan hal itu. Betul, saya tahu bahwa Tuhan dapat mengerjakan segala sesuatu, seperti yang tertulis dalam Alkitab. Tapi tetap membutuhkan waktu. Saya belum pernah mendapat kiriman paket dari rumah selama 4 tahun terakhir ini. Dan jika seseorang mengirimkan paket, apakah mungkin bila dia mengirimkan botol pemanas ke Afrika, sebuah negara tropis? Saat senja, saya mendengar suara mobil datang.

Dan ketika tiba di rumah, saya melihat ada sebuah paket besar telah diletakkan di beranda!
Mata saya berkaca-kaca saat melihatnya dan saya segera memanggil semua anak sehingga kami dapat membuka paket itu bersama.

Selain baju dan obat-obatan, saya tidak dapat mempercayai penglihatan saya! Sebuah botol pemanas dari karet yang baru!

Saya menangis. Saya tidak berani untuk meminta itu secara langsung pada Tuhan, tetapi Ruth yang melakukannya.

Ruth berkata, “Bila Tuhan mengirimkan botol pemanas berarti Dia juga mengirimkan sebuah boneka!”

Dia membongkar semua isi paket dan akhirnya dia menemukan sebuah boneka cantik. Mata Ruth bersinar dan dia berkata, “Dapatkah kita menemui gadis kecil itu dan memberikan boneka ini sehingga dia tahu bahwa Yesus mengasihinya?”

Paket itu dikirim oleh sekelompok anak sekolah minggu 5 bulan yang lalu. Guru Sekolah Minggu mereka sangat taat pada Tuhan bahkan ketika Tuhan memintanya untuk mengirim sebuah botol pemanas dari karet ke negara di wilayah ekuator. Salah satu muridnya juga memberikan sebuah boneka, 5 bulan sebelum Ruth berdoa, “Tuhan, kami membutuhkannya sore ini juga.”

“Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya”

Berharap Untuk Kecewa

Posted: 29 August, 2009 in Faith
Pagi-pagi buta saya sudah dibangunkan oleh anak saya. Kalau bukan karena menginjak ponsel saya, mungkin saya tidak tahu kalau pukul tiga pagi ada sms masuk dari saudara kandung saya.
Ia mengirimkan pesan dengan lirik lagu,
“Ingat Mi, lagu lama
Satu hal yang kutahu
Bila percaya Tuhan
Allahmu akan memenuhi semua
Saat Dia menolongmu dalam kegelapan
Tiada hal yang mustahil,
Bila percaya Tuhan
Allahmu akan memenuhi semua
Saat Dia menolongmu dalam hidup ini
Kupercaya… percaya saja,
S’rahkan hidupmu, s’rahkan k’uatirmu
Kupercaya… Dia pliharaku
Bersyukur pada-Nya, kuagungkan Engkau, Tuhan”
Saya yang masih mengantuk kala itu langsung menangis.
Saya sangat suka lagu itu, dengan liriknya yang sederhana, tidak puitis, tetapi sangat sarat makna. Lagu yang sudah terlupakan dan diingatkan kembali oleh adik saya.
Lagu itu sangat menyentuh saya yang memang sedang terus berharap, terus bergumul dengan berbagai masalah penting yang saya rasakan membuat saya mandek dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu… berharap… tidak khawatir… mengemis belas kasihan orang… dan terus bekerja walaupun hasilnya tetap belum nampak.
Sejenak saya masih menangis serta terdiam. Barulah saya coba membalas pesan singkatnya yang dapat memuat lagu dahsyat itu,
“Terima kasih ya… Aku percaya kok…
Satu hal dalam tangis selalu aku bertanya pada Dia
Apa yang salah pada diriku sehingga aku harus menghadapi hal begini terus.
Jawaban-Nya,
‘Tidak ada yang salah dari semuanya, yang salah hanyalah satu,
bila kamu berhenti berharap’
Walaupun hasil berharap itu adalah kekecewaan,
Tetapi ternyata dalam kecewa itu aku lebih belajar berharap”
Beberapa hari yang lalu, saya sepertinya diberi kesempatan untuk nonton film lama, judulnya ‘Front of the Class’. Film ini diambil dari kisah nyata seorang guru yang bernama Brad Cohen yang berjuang untuk cita-citanya menjadi guru. Cita-cita itu mungkin akan mudah ia raih seandainya ia bukanlah penderita sindrom Tourette yaitu penyakit syaraf yang menyerangnya tatkala ia sedang emosi (emosi bisa senang, sedih, marah). Dengan menyandang sebagai penderita sindrom tourette, ia seringkali membuat suara-suara aneh yang keluar dari mulutnya tatkala berbicara sehingga bayangkan saja saat ia sekolah, ia dianggap mengganggu konsentrasi teman-temannya yang belajar. Terkadang kakinya refleks menendang-nendang sesuatu. Segala sesuatu yang tidak dapat dikendalikannya kecuali jika ia tenang. Namun sebagai penyandang cacat, mana bisa hidupnya tenang. Latar belakang orang tua yang bercerai yang menyebabkan timbulnya sindrom ini pada dirinya.
Singkat cerita, ia sudah pernah mengalami segala bentuk pelecehan. Dari yang dianggap kerasukan, mabuk, dilihat sebagai orang aneh di tempat umum akibat suara yang dibuatnya, dan kini harus berjuang untuk pekerjaannya. Sebagai lulusan dengan predikat cum laude, Brad yang cerdas ini seharusnya memang mudah mendapat pekerjaan, tetapi sekali lagi dengan susah payah ia harus mengirimkan lamaran sampai 25 sekolahan di wilayah tempat tinggalnya.
Brad seperti orang gila yang ditolak di mana-mana, interview yang melecehkannya membuat ia patah semangat. Tetapi di setiap panggilan yang ia terima ia SELALU BERHARAP. Saya ingat satu kalimatnya saat ia menerima panggilan interview yang paling dianggap berkualitas dibandingkan interview sebelumnya, dalam ruang tunggu Brad mengatakan pada dirinya, “Entahlah… walaupun harus merasa kecewa beratus-ratus kali, tetapi tidak ada yang bisa membuat kita berhenti berharap… sepertinya itu memang sudah seharusnya”. Saat melihat dia menyatakan kalimat itu, saya menangis tergugah.
Brad akhirnya dapat belajar dari arti kata kecewa terhadap penyakitnya. Dibantu murid-muridnya yang sudah belajar hidup dengannya membantunya mendefinisikan apa yang ia telah pelajari dari sakitnya,
“Engkau belajar tidak putus berharap!”
“Engkau belajar untuk menjelaskan kepada orang entah mereka mau mengerti atau tidak”
“Engkau membuat dirimu hidup berkualitas walaupun kau sakit”
Dan satu kalimat yang membuat orang banyak terdiam kala satu anak kecil (muridnya) mengatakan,
“Kau belajar untuk tetap bertahan hidup!”
Begitu banyak pelajaran yang didapat dari kekecewaan hidupnya. Kalimat tadi disampaikan tatkala Brad Cohen menerima penghargaan sebagai guru baru terbaik di wilayah negara bagiannya di Amerika. Dan menyusul berbagai penghargaan lainnya karena dedikasinya sebagai guru yang diteladani murid-muridnya, semua siswa mencintainya walaupun dengan kondisi demikian.
Dari pelajaran film tersebut saya menarik kesimpulan, ternyata banyak pelajaran dari kata ‘BERHARAP’. Dalam kitab suci juga ada kalimat, “Kuatlah di dalam pengharapan…” Ternyata memang harapan itu menguras seluruh sendi dan kekuatan mental seorang manusia. Banyak yang menjadi menyerah karenanya. Karena harapan seringkali memang menghasilkan kekecewaan.
Saya ingat ada beberapa orang yang selalu mengatakan,
“Apakah sebaiknya kita tidak terlalu berharap, jadi kalau hasilnya memang tidak sesuai harapan, kita tidak akan kecewa”
Ada yang akhirnya mengatakan,
“Saya tidak pernah bikin target apa-apa, takut tidak kesampaian, malah kecewa”
Jika saat ini anda termasuk yang mengklaim bahwa berharap berbuah kecewa sehingga urung terus berharap di dalam beberapa hal, saya ingin berbagi sedikit saja tentang arti kekecewaan. Sadarkah bahwa sebenarnya kita saat ini dapat hidup bernafas, tegak berdiri, bekerja, berkeluarga, berbisnis, itu adalah buah manis dari kekecewaan masa lampau??
Mungkin dulu ada yang kecewa karena selalu tidak menjadi orang pandai di sekolah, tetapi coba Anda lihat hasilnya sekarang pada dirimu! Sebenarnya sudah Anda kelola kecewamu menjadi ketegaran dan semangat juang lebih dibandingkan teman-temanmu yang Anda rasa lebih pandai.
Mungkin dulu ada yang pernah merasa patah hati, namun jika saat ini Anda sudah menikah… Bukankah kau mencoba mengobati kekecewaan masa lampaumu menjadi hubungan yang lebih solid.
Mungkin dulu ada yang kecewa tidak dapat memilih profesi atau cita-cita yang diinginkannya, tetapi ternyata Anda mendapat bidang yang ternyata Anda rasa sangat cocok dan nyaman saat ini.
Mungkin Anda benci dengan penampilan Anda, tetapi akhirnya Anda terampil membuat orang lain tidak melihat penampilan Anda, tetapi karya Anda sehingga orang pun tak pernah mempersoalkan tinggi pendeknya Anda, kurus gemuknya Anda, atau segala macam kekurangan yang ada.
Semua itu dapat terlalui karena adanya kekecewaan. Tidak ada satu manusiapun yang tidak terbentuk dari ujian yang meruntuhkan kepercayaan diri, waktu yang serasa lambat yang menggusarkan, serta pelbagai macam sakit hati. Namun tanpa kekecewaan, orang tidak akan pernah belajar, tanpa kecewa orang akan terus berharap pada manusia yang cenderung menyakitinya, tanpa kecewa orang tidak tahu mana salah dan mana yang benar, tanpa kekecewaan orang tidak pernah tahu jika pilihan yang dulu sudah dimentahkan adalah satu pilihan yang tepat.
Jadi apa yang salah dari kekecewaan sehingga kita takut menghadapinya?? Tidak ada! Betul apa suara dari-Nya pagi tadi yang mengatakan kepada saya,
“Yang salah hanya satu, anak-Ku… jika kamu berhenti berharap. Jangan takut akan kekecewaan sebagai hasilnya, karena jika kau takut kecewa, berarti kau takut berharap. Jika kau tidak berharap… maka dirimu tidak akan terbentuk sempurna”
Seperti Brad Cohen, seperti orang-orang yang sudah terus dikecewakan namun tak bisa berhenti berharap, saya pun memilih terus berharap, walaupun hasilnya untuk suatu kekecewaan. Kita tak pernah tahu maksud Allah, tetapi yang aku tahu saat aku berharap dan menjadi kecewa… berarti Tuhan membuatku sepuluh atau seratus langkah maju untuk mencapai nilai yang lebih baik dalam hidupku di mata-Nya.

Pagi-pagi buta saya sudah dibangunkan oleh anak saya. Kalau bukan karena menginjak ponsel saya, mungkin saya tidak tahu kalau pukul tiga pagi ada sms masuk dari saudara kandung saya.

Ia mengirimkan pesan dengan lirik lagu,

“Ingat Mi, lagu lama

Satu hal yang kutahu

Bila percaya Tuhan

Allahmu akan memenuhi semua

Saat Dia menolongmu dalam kegelapan

Tiada hal yang mustahil,

Bila percaya Tuhan

Allahmu akan memenuhi semua

Saat Dia menolongmu dalam hidup ini

Kupercaya… percaya saja,

S’rahkan hidupmu, s’rahkan k’uatirmu

Kupercaya… Dia pliharaku

Bersyukur pada-Nya, kuagungkan Engkau, Tuhan”

Saya yang masih mengantuk kala itu langsung menangis.

Saya sangat suka lagu itu, dengan liriknya yang sederhana, tidak puitis, tetapi sangat sarat makna. Lagu yang sudah terlupakan dan diingatkan kembali oleh adik saya.

Lagu itu sangat menyentuh saya yang memang sedang terus berharap, terus bergumul dengan berbagai masalah penting yang saya rasakan membuat saya mandek dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu… berharap… tidak khawatir… mengemis belas kasihan orang… dan terus bekerja walaupun hasilnya tetap belum nampak.

Sejenak saya masih menangis serta terdiam. Barulah saya coba membalas pesan singkatnya yang dapat memuat lagu dahsyat itu,

“Terima kasih ya… Aku percaya kok…

Satu hal dalam tangis selalu aku bertanya pada Dia

Apa yang salah pada diriku sehingga aku harus menghadapi hal begini terus.

Jawaban-Nya,

‘Tidak ada yang salah dari semuanya, yang salah hanyalah satu,

bila kamu berhenti berharap’

Walaupun hasil berharap itu adalah kekecewaan,

Tetapi ternyata dalam kecewa itu aku lebih belajar berharap”

Beberapa hari yang lalu, saya sepertinya diberi kesempatan untuk nonton film lama, judulnya ‘Front of the Class’. Film ini diambil dari kisah nyata seorang guru yang bernama Brad Cohen yang berjuang untuk cita-citanya menjadi guru. Cita-cita itu mungkin akan mudah ia raih seandainya ia bukanlah penderita sindrom Tourette yaitu penyakit syaraf yang menyerangnya tatkala ia sedang emosi (emosi bisa senang, sedih, marah). Dengan menyandang sebagai penderita sindrom tourette, ia seringkali membuat suara-suara aneh yang keluar dari mulutnya tatkala berbicara sehingga bayangkan saja saat ia sekolah, ia dianggap mengganggu konsentrasi teman-temannya yang belajar. Terkadang kakinya refleks menendang-nendang sesuatu. Segala sesuatu yang tidak dapat dikendalikannya kecuali jika ia tenang. Namun sebagai penyandang cacat, mana bisa hidupnya tenang. Latar belakang orang tua yang bercerai yang menyebabkan timbulnya sindrom ini pada dirinya.

Singkat cerita, ia sudah pernah mengalami segala bentuk pelecehan. Dari yang dianggap kerasukan, mabuk, dilihat sebagai orang aneh di tempat umum akibat suara yang dibuatnya, dan kini harus berjuang untuk pekerjaannya. Sebagai lulusan dengan predikat cum laude, Brad yang cerdas ini seharusnya memang mudah mendapat pekerjaan, tetapi sekali lagi dengan susah payah ia harus mengirimkan lamaran sampai 25 sekolahan di wilayah tempat tinggalnya.

Brad seperti orang gila yang ditolak di mana-mana, interview yang melecehkannya membuat ia patah semangat. Tetapi di setiap panggilan yang ia terima ia SELALU BERHARAP. Saya ingat satu kalimatnya saat ia menerima panggilan interview yang paling dianggap berkualitas dibandingkan interview sebelumnya, dalam ruang tunggu Brad mengatakan pada dirinya, “Entahlah… walaupun harus merasa kecewa beratus-ratus kali, tetapi tidak ada yang bisa membuat kita berhenti berharap… sepertinya itu memang sudah seharusnya”. Saat melihat dia menyatakan kalimat itu, saya menangis tergugah.

Brad akhirnya dapat belajar dari arti kata kecewa terhadap penyakitnya. Dibantu murid-muridnya yang sudah belajar hidup dengannya membantunya mendefinisikan apa yang ia telah pelajari dari sakitnya,

“Engkau belajar tidak putus berharap!”

“Engkau belajar untuk menjelaskan kepada orang entah mereka mau mengerti atau tidak”

“Engkau membuat dirimu hidup berkualitas walaupun kau sakit”

Dan satu kalimat yang membuat orang banyak terdiam kala satu anak kecil (muridnya) mengatakan,

“Kau belajar untuk tetap bertahan hidup!”

Begitu banyak pelajaran yang didapat dari kekecewaan hidupnya. Kalimat tadi disampaikan tatkala Brad Cohen menerima penghargaan sebagai guru baru terbaik di wilayah negara bagiannya di Amerika. Dan menyusul berbagai penghargaan lainnya karena dedikasinya sebagai guru yang diteladani murid-muridnya, semua siswa mencintainya walaupun dengan kondisi demikian.

Dari pelajaran film tersebut saya menarik kesimpulan, ternyata banyak pelajaran dari kata ‘BERHARAP’. Dalam kitab suci juga ada kalimat, “Kuatlah di dalam pengharapan…” Ternyata memang harapan itu menguras seluruh sendi dan kekuatan mental seorang manusia. Banyak yang menjadi menyerah karenanya. Karena harapan seringkali memang menghasilkan kekecewaan.

Saya ingat ada beberapa orang yang selalu mengatakan,

“Apakah sebaiknya kita tidak terlalu berharap, jadi kalau hasilnya memang tidak sesuai harapan, kita tidak akan kecewa”

Ada yang akhirnya mengatakan,

“Saya tidak pernah bikin target apa-apa, takut tidak kesampaian, malah kecewa”

Jika saat ini anda termasuk yang mengklaim bahwa berharap berbuah kecewa sehingga urung terus berharap di dalam beberapa hal, saya ingin berbagi sedikit saja tentang arti kekecewaan. Sadarkah bahwa sebenarnya kita saat ini dapat hidup bernafas, tegak berdiri, bekerja, berkeluarga, berbisnis, itu adalah buah manis dari kekecewaan masa lampau??

Mungkin dulu ada yang kecewa karena selalu tidak menjadi orang pandai di sekolah, tetapi coba Anda lihat hasilnya sekarang pada dirimu! Sebenarnya sudah Anda kelola kecewamu menjadi ketegaran dan semangat juang lebih dibandingkan teman-temanmu yang Anda rasa lebih pandai.

Mungkin dulu ada yang pernah merasa patah hati, namun jika saat ini Anda sudah menikah… Bukankah kau mencoba mengobati kekecewaan masa lampaumu menjadi hubungan yang lebih solid.

Mungkin dulu ada yang kecewa tidak dapat memilih profesi atau cita-cita yang diinginkannya, tetapi ternyata Anda mendapat bidang yang ternyata Anda rasa sangat cocok dan nyaman saat ini.

Mungkin Anda benci dengan penampilan Anda, tetapi akhirnya Anda terampil membuat orang lain tidak melihat penampilan Anda, tetapi karya Anda sehingga orang pun tak pernah mempersoalkan tinggi pendeknya Anda, kurus gemuknya Anda, atau segala macam kekurangan yang ada.

Semua itu dapat terlalui karena adanya kekecewaan. Tidak ada satu manusiapun yang tidak terbentuk dari ujian yang meruntuhkan kepercayaan diri, waktu yang serasa lambat yang menggusarkan, serta pelbagai macam sakit hati. Namun tanpa kekecewaan, orang tidak akan pernah belajar, tanpa kecewa orang akan terus berharap pada manusia yang cenderung menyakitinya, tanpa kecewa orang tidak tahu mana salah dan mana yang benar, tanpa kekecewaan orang tidak pernah tahu jika pilihan yang dulu sudah dimentahkan adalah satu pilihan yang tepat.

Jadi apa yang salah dari kekecewaan sehingga kita takut menghadapinya?? Tidak ada! Betul apa suara dari-Nya pagi tadi yang mengatakan kepada saya,

“Yang salah hanya satu, anak-Ku… jika kamu berhenti berharap. Jangan takut akan kekecewaan sebagai hasilnya, karena jika kau takut kecewa, berarti kau takut berharap. Jika kau tidak berharap… maka dirimu tidak akan terbentuk sempurna”

Seperti Brad Cohen, seperti orang-orang yang sudah terus dikecewakan namun tak bisa berhenti berharap, saya pun memilih terus berharap, walaupun hasilnya untuk suatu kekecewaan. Kita tak pernah tahu maksud Allah, tetapi yang aku tahu saat aku berharap dan menjadi kecewa… berarti Tuhan membuatku sepuluh atau seratus langkah maju untuk mencapai nilai yang lebih baik dalam hidupku di mata-Nya.

Don’t Give Up. Do What You Can. And Let God Surprise You!

Andrea Helene Gogna shows us that nothing is impossible with God
It’s true. Laughter can wipe a million tears away. Let me introduce you to baby Andrea Helene Gogna. She is the gorgeous angel of Arun and Lalaine Gogna. Arun Gogna is one of your terrific Kerygma Preachers and Lalaine is one of my wife’s best friends.

Haven’t you noticed?
These days, babies come with two names. I have yet to meet a baby with only one. But after 9 long years of waiting, Arun and Lalaine could have given their little one 9 names and no one would have complained.

Yes, for 9 years, they prayed for a baby. For 9 years, they longed to fill an empty womb. For 9 years, they visited many doctors, took many injections, went through medical procedures that cost them the moon and the stars.

And not a single one of them worked. Not one! I remember those painful times when my wife had to call Lalaine to comfort her. What would she say? What words can reach a grief so deep? So together, both women would cry on the phone as one more medical procedure would fail.

It was actually when they gave up and were not into many medical procedure—when Andrea Helene came exploding through their world. It was six in the morning when Lalaine shook Arun awake. She held the tiny white pregnancy strip in front of his face. With streaming tears and a trembling voice, she said, “Love, there are two blue lines… That means you’re a father…”

They’ve never seen two lines before. For 9 years, that tiny white pregnancy strip always showed them one line. Always being the hilarious one, Arun asked his wife,“Are you sure you didn’t draw that second line in?” For all those 9 years of waiting, they wept a million tears. But on that lovely day, their laughter wiped all those tears away.

Last week, I attended Helene’s happy baptism. But it wasn’t just a baptism. It was a celebration of faith.
That miracles still do happen. As I write this story, I know that there are many parents reading this who are praying for a baby. Perhaps longer than 9 years.

I have three things to say to you.

First, do not lose hope. There is absolutely nothing impossible with God.

Second, do what you can. To be physically rested, Prof. Arun gave up his teaching job in La Salle and Dra. Lalaine decreased her dental clinic hours. She also went through surgery to remove myomas in her uterus. But ultimately, they surrendered to God.

Third, let God surprise you.

I have other friends who for years prayed for their own child. To some of them, God gave them the surprising miracle of adoption. Friends, adoption is one of the greatest expressions of love in this entire universe. I’m not kidding. How can you welcome a total stranger in your home and make her your flesh and blood? It is an absurd act that only the Almighty can invent. But that’s why adoption has God’s fingerprints all over it.

Friend, you may not be praying for a baby.
Maybe you’re praying for healing. Maybe you’re asking for a new job.
Maybe you want to migrate to another country.
Maybe you want to get married.

I have the same three words for you.

Do not give up.
Do what you can.
And let God surprise you.

Your job is to welcome His best miracle for your life.

May your dreams come true,

Bo Sanchez

Source:   shared e-mail

Hubungan Sebab-Akibat

Posted: 25 July, 2009 in Faith

Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Karena segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya, maka orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah, hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar.

Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus. Pada suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus. Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, “Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun.” Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah.

Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib. Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun. Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.

Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh. Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.

Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak ber bicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, “Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!” dengan amat bersyukur ia lalu pergi.

Diatas kayu salib, “Yesus” ingin sekali memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.

Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib “Yesus” akhirnya angkat bicara. Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bereggas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal.

Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arahkayu salib itu sambil berkata, “TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana.” Penjaga itu berkata, “Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?” “Kamu itu tahu apa?”, kata Yesus. “Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur-hamburkann ya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan kapal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut.”

Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu terkandung sebuah rahasia kehidupan…

Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini.

Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan,
semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita
baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita.

Sebab kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan buat kita. (Roma 8:28)

Indah pada waktunya

Posted: 23 July, 2009 in Faith

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Saya yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi saya memberitahu kepadanya, bahwa yang saya lihat dari bawah adalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: “Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu meyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, engkau akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.”

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, saya mendengar suara ibu memanggil; “anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu.” Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata: “Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.

Sering selama bertahun-tahun, saya melihat ke atas dan bertanya kepada Bapa Sorgawiku;” Bapa, apa yang Engkau lakukan?” Ia menjawab:” Aku sedang menyulam kehidupanmu.” Dan aku membantah,” Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?”

Kemudian Bapa menjawab,” Anakku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini, satu saat nanti. Aku maka memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu.”

Beban

Posted: 18 July, 2009 in Faith

Mengapa bebanku berat sekali?” aku berpikir sambil membanting pintu kamarku dan bersender.

“Tidak adakah istirahat dari hidup ini? ”

Aku menghempaskan badanku ke ranjang, menutupi telingaku dengan bantal.

“Ya Tuhan, ” aku menangis, “Biarkan aku tidur…Biarkan aku tidur dan tidak pernah bangun kembali!” Dengan tersedu-sedu, aku mencoba untuk meyakinkan diriku untuk melupakan.

Tiba-tiba gelap mulai menguasai pandanganku, Lalu, suatu cahaya yang sangat bersinar mengelilingiku ketika aku mulai sadar. Aku memusatkan perhatianku pada sumber cahaya itu. Sesosok pria berdiri di depan salib.

“Anakku, ” orang itu bertanya, ” Mengapa engkau datang kepada-Ku sebelum Aku siap memanggilmu? ”

” Tuhan, aku mohon ampun. Ini karena… aku tidak bisa melanjutkannya. Kau lihat! betapa berat hidupku. Lihat beban berat di punggungku. Aku bahkan tidak bisa mengangkatnya lagi. ”

” Tetapi, bukankah Aku pernah bersabda kepadamu untuk datang kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, karena Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.

Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan. ”

” Aku tahu Engkau pasti akan mengatakan hal itu. Tetapi kenapa bebanku begitu berat?”

” Anak-Ku, setiap orang di dunia memiliki beban. Mungkin kau ingin mencoba salib yang lain?”

” Aku bisa melakukan hal itu?”

Ia menunjuk beberapa salib yang berada di depan kaki-Nya. Kau bisa mencoba semua ini. Semua salib itu berukuran sama. Tetapi setiap salib tertera nama orang yang memikulnya.

” Itu punya Joan, ” kataku.

Joan menikah dengan seorang kaya raya. Ia tinggal di lingkungan yang nyaman dan memiliki 3 anak perempuan yang cantik dengan pakaian yang bagus-bagus.

Kadangkala ia menyetir sendiri ke gereja dengan mobil Cadillac suaminya kalau mobilnya rusak. “Umm, aku coba punya Joan. Sepertinya hidupnya tenang-tenang saja. Seberat apa beban yang Joan panggul? ” pikirku.

Tuhan melepaskan bebanku dan meletakkan beban Joan di pundakku. Aku langsung terjatuh seketika.

“Lepaskan beban ini! ” teriakku.

” Apa yang menyebabkan beban ini sangat berat?”

” Lihat ke dalamnya.”

Aku membuka ikatan beban itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat gambaran ibu mertua Joan, dan ketika aku mengangkatnya, ibu mertua Joan mulai berbicara, “Joan, kau tidak pantas untuk anakku, tidak akan pernah pantas. Ia tidak seharusnya menikah denganmu.Kau adalah wanita yang terburuk untuk cucu-cucuku. ..”

Aku segera meletakkan gambaran itu dan mengangkat gambaran yang lain. Itu adalah Donna, adik terkecil Joan. Kepala Donna dibalut sejak operasi epilepsi yang gagal itu.

Gambaran yang ketiga adalah adik laki-laki Joan. Ia kecanduan narkoba, telah dijatuhi hukuman karena membunuh seorang perwira polisi.

” Aku tahu sekarang mengapa bebannya sangat berat, Tuhan. Tetapi ia selalu tersenyum dan suka menolong orang lain. Aku tidak menyadarinya. .. ”

” Apakah kau ingin mencoba yang lain?” tanya Tuhan dengan pelan.

Aku mencoba beberapa.

Beban Paula terasa sangat berat juga: Ia memelihara 4 orang anak laki-laki tanpa suami.

Debra punya juga demikian: masa kecilnya yang dinodai olah penganiayaan seksual dan menikah karena paksaan.

Ketika aku melihat beban Ruth, aku tidak ingin mencobanya. Aku tahu di dalamnya ada penyakit Arthritis, usia lanjut, dan tuntutan bekerja penuh sementara suami tercintanya berada di Panti Jompo.

” Beban mereka semua sangat berat, Tuhan ” kataku..

” Kembalikan bebanku”

Ketika aku mulai memasang bebanku kembali, aku merasa bebanku lebih ringan dibandingkan yang lain.
“Mari kita lihat ke dalamnya, ” Tuhan berkata.
Aku menolak, menggenggam bebanku erat-erat.
” Itu bukan ide yang baik, ” jawabku,
” Mengapa?”
” Karena banyak sampah di dalamnya.”
” Biar Aku lihat”
Suara Tuhan yang lemah lembut membuatku luluh. Aku membuka bebanku. Ia mengambil satu buah batu bata dari dalam bebanku.

” Katakan kepada-Ku mengenai hal ini.”

” Tuhan, Engkau tahu itu. Itu adalah uang. Aku tahu kalau kami tidak semenderita seperti orang lain di beberapa negara atau seperti tuna wisma di sini. Tetapi kami tidak memiliki asuransi, dan ketika anak-anak sakit, kami tidak selalu bisa membawa mereka ke dokter. Mereka bahkan belum pernah pergi ke dokter gigi. Dan aku sedih untuk memberikan mereka pakaian bekas. ”

“Anak-Ku, Aku selalu memberikan kebutuhanmu. … dan semua anak-anakmu. Aku selalu memberikan mereka badan yang sehat. Aku mengajari mereka bahwa pakaian mewah tidak membuat seorang berharga di mataKu. ”

Kemudian ia mengambil sebuah gambaran seorang anak laki-lak !

” Dan yang ini? ” tanya Tuhan.

” Andrew…” aku menundukkan kepala, merasa malu untuk menyebut anakku sebagai sebuah beban.

“Tetapi, Tuhan, ia sangat hiperaktif. Ia tidak bisa diam seperti yang lain, ia bahkan membuatku sangat kelelahan. Ia selalu terluka, dan orang lain yang membalutnya berpikir akulah yang menganiayanya. Aku berteriak kepadanya selalu. Mungkin suatu saat aku benar-benar menyakitinya. .. ”

” Anak-Ku,” Tuhan berkata.

” Jika kau percayakan kepada-Ku, aku akan memperbaharui kekuatanmu, dan jika engkau mengijinkan Aku untuk mengisimu dengan Roh Kudus, aku akan memberikan engkau kesabaran.”

Kemudian Ia mengambil beberapa kerikil dari bebanku.

” Ya, Tuhan..” aku berkata sambil menarik nafas panjang.

” Kerikil-kerikil itu memang kecil. Tetapi semua itu adalah penting. Aku membenci rambutku. Rambutku tipis, dan aku tidak bisa membuatnya kelihatan bagus. Aku tidak mampu untuk pergi ke salon. Aku kegemukan dan tidak bisa menjalankan diet. Aku benci semua pakaianku. Aku benci penampilanku! ”

” Anak-Ku, orang memang melihat engkau dari penampilan luar, tetapi Aku melihat jauh sampai ke dalamnya hatimu. Dengan Roh Kudus, kau akan memperoleh pengendalian diri untuk menurunkan berat badanmu. Tetapi keindahanmu tidak harus datang dari luar. Bahkan, seharusnya berasal dari dalam hatimu, kecantikan diri yang tidak akan pernah hilang dimakan waktu. Itulah yang berharga di mata-Ku. ”

Bebanku sekarang tampaknya lebih ringan dari sebelumnya.

” Aku pikir aku bisa menghadapinya sekarang, ” kataku,

” Yang terakhir, berikan kepada-Ku batu bata yang terakhir.” kata Tuhan.

” Oh, Engkau tidak perlu mengambilnya. Aku bisa mengatasinya. ”

” Anak-Ku, berikan kepadaKu.”

Kembali suara-Nya membuatku luluh. Ia mengulurkan tangan-Nya, dan untuk pertama kalinya Aku melihat luka-Nya.

“Tuhan….Bagaimana dengan tangan-Mu? Tangan-Mu penuh dengan luka!! ”

Aku tidak lagi memperhatikan bebanku, aku melihat wajah-Nya untuk pertama kalinya.. Dan pada dahi-Nya, kulihat luka yang sangat dalam….. tampaknya seseorang telah menekan mahkota duri terlalu dalam ke dagingNya.

“Tuhan, ” aku berbisik.

” Apa yang terjadi dengan Engkau?”

Mata-Nya yang penuh kasih menyentuh kalbuku.

” AnakKu, kau tahu itu.. Berikan kepadaku bebanmu. Itu adalah milikKu. Aku telah membelinya. ”

” Bagaimana?”

” Dengan darah-Ku”

” Tetapi kenapa Tuhan?”

” Karena aku telah mencintaimu dengan cinta abadi, yang tak akan punah dengan waktu. Berikan kepadaKu.”

Aku memberikan bebanku yang kotor dan mengerikan itu ke tangan-Nya yang terluka. Beban itu penuh dengan kotoran dan iblis dalam kehidupanku: kesombongan, egois, depresi yang terus-menerus menyiksaku. Kemudian Iamengambil salibku kemudian menghempaskan salib itu ke kolam yang berisi dengan darahNya yang kudus.

Percikan yang ditimbulkan oleh salib itu luar biasa besarnya.

” Sekarang anak-Ku, kau harus kembali. Aku akan bersamamu selalu. Ketika kau berada dalam masalah, panggillah Aku dan Aku akan membantumu dan menunjukkan hal-hal yang tidak bisa kau bayangkan sekarang. ”

” Ya, Tuhan, aku akan memanggil-Mu. ”

Aku mengambil kembali bebanku.

” Kau boleh meninggalkannya di sini jika engkau mau. Kau lihat beban-beban itu? Mereka adalah kepunyaan orang-orang yang telah meninggalkannya di kakiKu, yaitu Joan, Paula, Debra, Ruth… Ketika kau meninggalkan bebanMu di sini, aku akan menggendongnya bersamamu. Ingat, kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan. ”

Seketika aku meletakkan bebanku, cahaya itu mulai menghilang. Namun, masih kudengar suaraNya berbisik, ” Aku tidak akan meninggalkanmu, atau melepaskanmu. ”

TUHAN PIMPIN DAN SERTAI DI SETIAP LANGKAHKU…

author unknown