Archive for the ‘File’ Category

Perkembangan Bayi Belajar Berjalan

Posted: 3 June, 2011 in File

5 Hal yang Penting Kala Bayi Belajar Berjalan

1. Ciptakan Lingkungan Aman

Kala bayi mulai tertatih-tatih belajar jalan biasanya selain merasa senang para orangtua pun mulai “senam jantung”. Bagaimana tidak? Kini si bayi mulai ingin mengenali dunianya yang lebih luas dengan “menjelajah” hingga ke setiap sudut rumah. Mungkin bila dijumlahkan setiap hari entah sudah berapa belas meter jarak yang ditempuhnya.

Keterampilan barunya ini membuat bayi bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Meski sebatas di dalam rumah, “penjelajahan” ini mengundang situasi yang rawan kecelakaan. Contohnya, bagaimana bila tiba-tiba dengan langkahnya yang masih limbung si kecil nyelonong masuk ke kamar mandi yang lantainya licin, atau tiba-tiba menabrak guci besar di pojok ruang yang dapat mencederai dirinya.

Bila terjadi kecelakaan akibat eksplorasinya tentu saja bayi tidak bisa disalahkan. Ia belum tahu benda apa saja dan mana tempat yang berbahaya ataupun tidak.

Menjadi tugas orangtua untuk meminimalkan segala risiko dengan tidak menempatkan barang-barang yang mengundang bahaya di jalur yang akan dilalui bayi. Selain itu, pastikan pula keamanan daerah “steril” bagi bayi, terutama dapur dan kamar mandi karena di kedua tempat ini terdapat banyak hal yang dapat menyebabkan kecelakaan pada bayi.

Selanjutnya, area menuju lantai atas, dapur, dan ke kamar mandi, sebaiknya dilengkapi dengan pintu pengaman berupa pagar pembatas. Kabel listrik yang tak tertata rapi juga sering menjadi biang keladi tersandungnya si kecil yang sedang “asyik” berjalan. Belum lagi kemungkinan sengatan listrik bila kabelnya sudah terkelupas. Oleh sebab itu, aturlah jalinan kabel dengan baik sehingga tak centang perenang.

Biasanya bayi yang sudah mampu berdiri dan berjalan tertarik pada apa saja yang ada di atas meja. Tak heran kalau dalam sekejap kemudian ia akan menarik benda apa saja yang menarik perhatiannya tadi. Guna meminimalkan risiko bahaya, untuk sementara singkirkan taplak meja. Kalaupun ingin menggunakan taplak meja, pilihlah yang ukurannya lebih kecil dari daun meja sehingga tak sampai menjumbai di sisi meja.

Perabot, terutama meja yang bersudut tajam, sebaiknya juga disingkirkan untuk sementara waktu atau akali dengan memasang pengaman sudut. Soalnya, bayi yang sedang belajar berjalan sangat berisiko terbentur sudut meja yang tajam.

Patut diingat, menciptakan lingkungan yang aman bukanlah dengan membatasi ruang eksplorasi bayi. Yang diperlukan bayi adalah pengawasan orangtua sekaligus area yang dapat membuatnya leluasa berjalan-jalan ke sana dan kemari.

2. Pilih Sepatu yang Tepat

Sepatu berfungsi melindungi kaki bayi dari partikel dan benda yang bisa mencederainya. Di luar lingkungan rumah, sebaiknya pakaikan sepatu yang dapat menunjang kemampuan bayi berjalan.

Pilih sepatu bersol datar dan lembut untuk memudahkan anak berjalan sekaligus tetap mendapat cukup rangsangan dari bawah. Hindari sepatu dengan pengganjal di bagian lekukan kaki karena akan mengganggu pertumbuhan tulang belulangnya. Hindari juga ujung sepatu yang runcing/menyempit yang membuat ruang gerak jari-jemarinya terhambat.

Pastikan sepatu bayi berukuran pas, tidak sempit dan tidak terlalu longgar. Patokannya, lebihkan sedikit (kira-kira satu ruas ibu jari orang dewasa) pada bagian ujung sepatu. Pilih model dengan tali/kancing/perekat yang dapat mengatur kekencangan sepatu secara tepat. Kaus kaki yang akan digunakan juga tidak dianjurkan terlalu ketat karena dapat mengganggu peredaran darah. Pilih bahan katun agar mudah menyerap keringat sekaligus membantu menjaga sirkulasi udara dalam sepatu.

Saat berjalan-jalan di rumah, bayi tak perlu diberi alas kaki. Tanpa sepatu, kaki bayi akan menerima rangsangan-rangsangan dari luar. Kakinya juga akan mendapat tekanan dari bawah sebagai latihan bagi otot-ototnya. Ini dapat mengasah kemampuan koordinasinya menjadi lebih bagus. Berkat tekanan-tekanan pada permukaan telapak kaki, pertumbuhan tulang kaki menjadi lebih baik. Selanjutnya, akan terbentuk kaki yang baik dengan otot-otot yang lebih kuat. Latihan bertelanjang kaki seperti ini sangat diperlukan di rumah mengingat pertumbuhan tulang akan terus berlanjut sampai anak berusia 17-18 tahun.

Untuk menjamin kesehatan dan kenyamanan kakinya, periksa ukuran sepatu secara berkala mengingat pertumbuhan kaki bayi amat cepat, terutama bila ditunjang gizi yang baik. Sepatu yang kekecilan pasti akan membuatnya tak nyaman. Sepatu kekecilan akan meninggalkan warna kemerahan di pinggir jari atau kaki bayi akibat tekanannya dan dapat menyebabkan iritasi.

3. Tumbuhkan Kepercayaan Diri

Pada prinsipnya, selama sudah dipastikan tidak ada gangguan saraf atau kelainan otot, anak pasti bisa berjalan. Memang, sih, usia berjalan pada setiap anak bisa berbeda-beda, namun umumnya rentang waktu yang normal adalah usia 11-18 bulan.

Kecemasan umumnya muncul jika setelah berusia 1 tahun, si kecil belum juga bisa berjalan. Atau biasanya sudah bisa berjalan sebentar, tapi setelah itu mogok. Untuk memastikan ada tidaknya gangguan, tentu harus diperiksakan ke dokter. Bila tak ada gangguan, boleh jadi ia butuh rangsangan agar dapat berjalan tepat pada waktunya.

Anak yang mogok belajar jalan mungkin terlena oleh kemanjaan dari orangtua atau pengasuhnya. Contohnya, kelewat sering digendong sehingga anak tak mendapat stimulasi untuk aktif bergerak. Kemanjaan seperti ini memang bisa menghambat perkembangan kemampuan berjalannya.

Sayangnya, sering kali orangtua tidak menyadari kemanjaan yang mereka limpahkan. Contohnya, lantaran kelewat sayang, orangtua khawatir melihat anaknya limbung. Belum sempat anak melangkah, orangtua sudah langsung mengulurkan bantuan. Kalau semua kebutuhan dan kemudahan sudah ada di depan mata, jangan salahkan kalau si kecil jadi enggan belajar berjalan.

Keengganan latihan berjalan bisa juga lantaran kurangnya rasa percaya diri. Boleh jadi saat pertama kali belajar jalan, ia terjatuh cukup keras. Baik anak maupun orangtua biasanya jadi jera mencoba dan mencoba lagi. Padahal ketakutan berlebih seperti ini harus dikikis. Secara perlahan orangtua mesti meyakinkan anaknya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tunjukkan dengan bukti konkret, semisal dengan terus mendampinginya berlatih dan menyediakan lingkungan yang aman.

Agar anak mau berjalan lagi, dibutuhkan stimulus yang dapat menumbuhkan rasa percaya dirinya. Pancing semangat anak dengan sikap gembira tanpa harus memaksa. Gunakan mainan yang menarik agar anak mau mendatanginya. Letakkan agak ke atas sehingga ia perlu berdiri untuk menjangkaunya. Dengan begitu, sedikit demi sedikit, anak tergerak untuk berani mencoba berjalan sendiri, tanpa ditatih atau berpegangan. Kalaupun sampai terjatuh, jangan tunjukkan sikap panik di hadapannya. Perhatikan apakah ia perlu ditolong saat itu juga atau bisa dibiarkan bangkit sendiri.

Sikap panik orangtua/pengasuh hanya akan membuat rasa percaya dirinya luntur.

4. Pijat Perkuat Otot Kaki

Selama belajar berjalan, anak mengandalkan otot-otot kakinya untuk menjaga keseimbangan. Dengan rekomendasi dokter anak, orangtua dapat melakukan pijat bayi yang bertujuan menguatkan otot-otot kakinya. Misalnya, dengan cara menelentangkan bayi kemudian minta ia memegang telapak kakinya sambil sedikit didorong. Secara refleks anak akan melakukan gerakan seperti menendang. Latihan yang intens dan tepat terbukti mampu menguatkan otot kakinya.

Tanyakan pada dokter, teknik-teknik pijatan apa yang dapat menguatkan otot kaki. Membawa anak ke tukang pijat tradisional boleh saja asalkan dilakukan dengan hati-hati. Akan lebih baik jika Anda berbekal rekomendasi dokter lalu membawa si bayi ke fisioterapis. Pelajari tekniknya dengan benar. Yang pasti, pijatan yang dilakukan fisioterapis biasanya berlandaskan ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan.

5. Perhatikan Berat Tubuh

Sering juga terjadi anak malas belajar jalan akibat kegemukan. Bagi bayi dengan berat badan berlebih, menjaga keseimbangan tubuh jelas lebih sulit. Upayakan agar asupan makanannya seimbang, tidak berlebih dan tidak kurang. Selain itu, fisioterapis dapat membantu bayi dengan program yang tepat. Misalnya dengan teknik mendorong bola besar yang biasa digunakan untuk latihan motorik.

Tahapan Bayi Berjalan

Proses berjalan bayi umumnya dimulai pada usia 9 bulan dengan tahapan berikut:

Bulan ke-9
Berdiri tegak bila kedua tangan dipegang. Kalau kita biarkan si bayi berdiri (kita hanya pegang kedua tangannya) ia akan berdiri tegak selama beberapa detik di atas kakinya. Ia menahan keseimbangan tubuh yang seluruhnya terletak pada kedua telapak kaki. Berdiri dengan cara demikian hanya sebentar saja dapat dilakukannya karena ia memang belum menguasai keseimbangan badan pada sikap badan tegak lurus.

Bulan ke-10
Bayi bergayut pada perabot rumah dan mengangkat badan sampai berdiri. Seperti halnya pada perkembangan merangkak, bayi 10 bulan sudah dapat mengangkat badannya sampai sikap “empat kaki”. Dari sikap ini ia kemudian bergayut pada perabot dan menarik badannya ke atas sampai berdiri. Dari sikap berlutut atau setengah berlutut, ia melangkahkan sebelah kakinya ke depan, menjejak dengan telapak kakinya dan menarik badannya hingga berdiri.
Berdiri sambil berpegang pada sesuatu. Bila bayi dapat berpegang pada perabot rumah atau benda kokoh lainnya, ia dapat berdiri selama 1/2 menit. Pada sikap ini telapak kaki bukan hanya ujung-ujung jari kaki saja, tapi seluruh alas telapak kaki menyentuh permukaan lantai.

Bulan ke-11
Berjalan ke samping sambil merambat pada perabot dalam rumah. Percaya dirinya tumbuh dengan ditandainya melalui sikap berdiri yang memungkinkan anak memindah-mindahkan berat badannya. Mulai pada kaki kiri lalu pindah ke kaki kanan. Dengan kemampuan inilah anak “berjalan di tempat” atau melangkah ke samping.
Berjalan bila kedua tangan dipegang/ditatih. Bila bayi kita pegang kedua tangannya, ia pun mulai mencoba berjalan. Setelah kakinya melangkah maju, pinggul digerakkan ke depan dan berat badan ditopang oleh telapak kaki. Langkahnya memang masih agak tertahan-tahan, belum mantap dengan kaki terbentang lebar.

Bulan ke-12
Berjalan jika sebelah tangannya dipegang. Langkah-langkahnya memang belum mantap dan kedua kaki masih terbentang lebar. Anak masih gampang kehilangan keseimbangan hingga orang dewasa masih harus memegangnya dan selalu siap menangkapnya bila ia terjatuh.

Bulan ke-13 dan seterusnya.
Mulai menjadi “ahli”. Kemantapan anak berjalan mulai menunjukkan hasil. Kita akan takjub bila suatu saat dia sudah mampu berjalan dengan cepat. Meski perkembangan setiap anak berbeda-beda, umumnya di usia 18 bulan hingga 2 tahun anak sudah dapat berjalan tegak dengan keseimbangan yang lebih mantap tanpa perlu lagi dipegangi.

Alat Bantu Belajar Berjalan

Beberapa alat diciptakan untuk membantu anak belajar jalan. Prinsip yang tidak boleh absen dari alat ini adalah si bayi tetap perlu ditatih dan menatih. Dengan begitu, setiap kali bayi menjejak ke tanah, maka otot-otot kakinya akan semakin aktif dan kemampuan berjalannya kian terasah.

Nenek moyang kita dulu menggunakan kain yang dililitkan ke dada hingga ketiak bayi. Sisa kain yang menjuntai ke belakang digunakan orangtua untuk membantu mengendalikan keseimbangan tubuh bayi sambil menatihnya. Cara ini tetap aman ditiru hingga sekarang.

Ada juga alat berputar yang bertumpu pada satu poros. Dengan berpegangan pada bilah melintang, secara tidak langsung anak diharuskan untuk berjalan saat mendorong alat tersebut. Atau bisa juga dengan menyediakan hangbar seperti yang ada di pusat-pusat terapi. Intinya, ada satu benda kokoh yang digunakan untuk berpegangan saat keseimbangannya masih labil.

Alat bantu jalan juga dapat difungsikan sebagai mainan, di antaranya kereta dorong. Pastikan dudukan mainan ini cukup mantap sehingga bila anak bertumpu padanya, alat ini tidak mudah terguling. Prinsipnya pun seperti menatih karena bayi “dipaksa” melangkah agar kereta dorong tersebut bisa bergerak.

Yang tidak dianjurkan adalah babywalker karena penggunaan alat ini malah bisa memperlambat kemampuan berjalan si kecil. Posisi duduk dalam babywalker membuat bayi nyaris selalu tersangga sehingga ia tidak cukup terlatih untuk menopang dirinya sendiri. Selain itu, penggunaan babywalker yang berlebihan juga dapat mengakibatkan anak jalan berjingkat/jinjit akibat terbiasa bergerak maju dengan cara mengayuh.

Tips Berbelanja Seafood

Posted: 5 April, 2011 in File

Aneka seafood  segar kini beragam pilihannya. Anda tinggal memilih mau jenis ikan-ikanan, kerang, atau yang bercapit semacam kepiting atau rajungan.

 

Namun, ada sejumlah “aturan main” yang harus Anda tepai saat berbelanja. Ingatlah, tak semua seafood yang diambil segar dari laut habis dijual dalam sehari. Di sisi lain, pedagang juga tak mau rugi. Maka, bahan kimia kerap bermain untuk mengawetkannya.

Bagaimana cara memilih seafood yang segar dan sehat? Berikut ini caranya:

# Cara paling tradisional adalah: pilihlah seafood yang dijual oleh pedagang yang paling banyak dikerubuti pembeli. Banyaknya permintaan bisa menjadi jaminan perputaran stok di gudang akan semakin cepan, memungkinkan tak ada “ikan kemarin” yang disimpan terlalu lama.

# Wajib berbau amis. Di tukang ikan tanpa bau amis, Anda boleh curiga formalin sudah “bermain” di sana lebih dulu sebelum Anda datang.

# Jika hendak membeli ikan, pilihkan ikan yang sisiknya masih utuh, lembab, dan berkilau.  Jika insang masih melekat, lewatkan saja jika warnanya sudah kecoklatan atau berlendir. Insang ikan yang masih segar berwarna merah cerah. Mata juga harus jelas, utuh, dan mengkilat, tidak “berawan”.

# Jika Anda ingin membeli fillet ikan, pilihlah yang sewarna dengan ikan sesungguhnya. banyak fillet ikan yang diberi pewarna agar tampak lebih menarik. selain itu, carilah yang bentuknya   rapi, tidak compang-camping atau robek. Anda harus melihat tekstur dagingnya; harus kenyal dan tidak mudah koyak saat permukaannya Anda tekan.

# Ingin salmon atau tuna beku? Pilihlah yang keras membeku,  tidak lembek atau berlumpur.

# Menginginkan kerang?  Kerang tidak boleh patah, retak, atau rusak dengan cara apapun. Kulit kerang atau tiram  harus keras ketika diketuk. Lobster, kepiting, dan udang harus merasa berat untuk ukuran mereka dan tidak ada satu kaki atau capitpun yang hilang.

Sumber

 

Sangkar Burung

Posted: 17 March, 2011 in File
Suatu masa, ada seorang pria bernama George Thomas, seorang pastur di sebuah kota kecil di New England. Pada suatu Minggu pagi,hari Paskah, ia tiba di gereja dengan membawa sangkar burung yg sudah karatan dan penyok-penyok, dan meletakannya di altar. Orang-orang pada keheranan dan, seolah-olah menangkap rasa penasaran orang-orang, Pastur Thomas mulai bicara….

“Saya sedang berjalan-jalan sekeliling kota kemarin dan melihat seorang anak laki-laki berjalan mendekati saya sambil mengayun-ayunkan sangkar burung ini. Di dasar sangkar ada tiga burung kecil dan liar,menggigil karena kedinginan dan ketakutan. Saya stop anak laki-laki itu dan saya tanyakan,

“Ada apa di sangkar itu, nak ?”

“Hanya beberapa burung biasa” jawabnya.

“Apa yg akan kau lakukan pada mereka ?” tanya saya.

“Bawa pulang ke rumah dan menggoda mereka,” jawabnya.

“Saya akan menggoda mereka dan mencabuti bulu-bulu mereka supaya mereka saling berkelahi. Saya pasti akan menikmati saat itu.”

“Tapi kamu nanti akan jadi bosan dengan burung-burung itu cepat atau lambat. Lantas apa yang akan kamu kerjakan ?”

“Oh, saya kan punya beberapa kucing,” kata anak laki-laki itu.

“Mereka senang burung. Saya akan berikan burung-burung ini pada kucing-Kucing itu”
Pastur terdiam untuk beberapa saat. “Berapa yang kamu inginkan untuk burung-burung itu, nak ?”

“Huh? Mengapa, Anda tidak mungkin menginginkan burung-burung inikan,Pak. Mereka hanyalah burung biasa. Mereka tidak bisa bersiul merdu.

Mereka bahkan tidak menarik !”

“Berapa ?” Tanya pastur lagi.Si anak laki-laki itu mengukur kemampuan si pastur dan menilai si pastur mungkin gila, dan menjawab, “$10?”

Pastur mengambil dari kantungnya dan mengeluarkan selembar uang kertas sepuluh dollar.
Ia taruh di tangan anak laki-laki itu ! Dalam sekejap,anak laki-laki itu pun menghilang.

Si pastur memungut sangkar tersebut dan dengan lembut membawanya Ke Ujung gang dimana ada sebuah pohon dan tempat yang berumput. Sambil meletakkan sangkar itu, ia membuka pintunya,dan dengan mengetuk jeruji sangkar pelan-pelan membujuk burung-burung itu keluar.Dan, itu tadi menjelaskan mengapa sangkar burung yang kosong ini di atas altar ini, lalu pastur mulai menceritakan cerita ini…

Suatu hari Iblis dan TUHAN sedang bercakap-cakap.Iblis baru saja datang dari Taman Firdaus, dan ia nampak rakus dansedang membual. “Ya,tuan, saya baru saja melihat dunia penuh denganorang-orang di bawah sana. Saya pasang perangkap, gunakan umpan yang sayatahu pasti mereka tak akan bisa menolak. Kenalah mereka semua !”

“Apa yg akan kau lakukan terhadap mereka ?”tanyaTUHAN. Iblis menjawab, “Oh, saya akan bersenang-senang !Saya akan ajarkan mereka bagaimana kawin dan cerai,bagaimana saling membenci dan menganiaya satu sama lain, bagaimana saling minum-minum dan merokok dan menghujat. Saya akan ajarkan mereka bagaimana membuat senjata dan bom dan saling membunuh satu sama lain.Saya akan benar-benar senang!”

“Dan apa yang akan kau lakukan terhadap mereka setelah engkau selesaidengan itu semua ?” tanya TUHAN. “Oh, saya akan bunuh mereka,” Iblis menatap dengan bangga. “Berapa yang kau inginkan untuk mereka ?” tanya TUHAN. “Oh, kau tidak mungkin menginginkan orang-orang itu. Mereka tidaklah baik. Mengapa, kau ambil mereka dan mereka hanya akan membencimu. Mereka akan meludahimu, menghujatmu dan membunuhmu. Kau tidak mau orang-orang ini!”
“Berapa ? Ia bertanya lagi. Iblis menatap TUHAN dan menyeringai, “Semua darah, air mata, dan jiwamu.”

TUHAN berkata, “Baiklah !” Lalu Ia membayar harganya, dengan darah, airmata dan jiwa-NYA…

Pastur memungut sangkar tersebut. Ia membuka pintunya dan ia melangkah dari mimbar.

Sidang di Balik Nyawa

Posted: 3 March, 2010 in File, Reflection

Sejalan dalam proses pemikiran yang memeras daya kerja Otak besarku, Otak kecilku dengan acuh ‘tak henti menggali kata misteri untuk di tuangkan kedalam ruang Otak besar, dan di paksa harus menjabarkan dalam bentuk sebuah pemikiran. Pemaksaan yang tanpa memandang seberapa besar berfikirnya daya Otak besarku dalam memahami makna sebuah kata-kata besar, yang sebenarnya, Otak besarku malam itu sudah sangat lelah untuk berpikir. Ini terjadi secara rutin dalam malamku setiap menjelang untuk tidur. Proses ini ‘tak bisa di hentikan dan sungguh mengganggu acara untuk beristirahat. Berawal dari misi Suara Hati yang sudah berkongsian dengan Otak kecilku. Dalam misinya, ‘tak lain, memaksa Otak besarku untuk bisa berfikir secara bijaksana dan untuk bisa bijaksana dalam berfikir. “Bijaksana”, sebuah kata yang sungguh sederhana. Tapi dalam bentuk kesederhanaan kata itu, sangatlah jauh prosesnya untuk mencapai sebuah inti hakiki dalam penyebutan, pemaknaan dan pelaksanaan sebuah kata “Bijaksana”. Lagi, untuk kesekian kalinya, malamku ‘tak lagi gelap dan ‘tak di izinkan untuk terlelap. Dan lagi, untuk seterusnya, malamku ramai dan bising di serang ribuan kata yang terkunci yang harus kubuka untuk menjadi tugas wajib dan wajib di laksanakan untuk besok pagi.

Satu kalimat terkunci malam itu: “KEBERANIAN”
Di awali dari kata Suara hati yang di dengar pelan Otak kecil dan di teriakkan keras untuk Otak besar.

Suara hati : “Setahuku, dan sesuai apa yang ku rasakan, otak besar sangat sembrono untuk mengambil keputusan dalam sikap “Berani”. Tanpa tahu dan tidak mau tahu makna “Berani” yang sesungguhnya, yang akibatnya dan sering terjadi malah menjebaknya dalam posisi celaka. Dasar bodoh.. Gembleng dulu kawanmu itu! Aku tidak mau kita selalu dalam keadaan yang tidak merdeka!”. Wejang Suara hati pada Otak kecil untuk membimbing si Otak besar.

Otak kecil : “Mohon maaf suara hati.. sebenarnya aku pribadi sudah sangat sering memesannya untuk berfikir dalam dulu dalam bertindak. Tapi, sikapnya selalu dalam pikiran simple, pikiran emosi, pikiran yang ‘tak mau tahu akibat dan sebab dari tindakannya. Tanpa memahami makna apa yang terjadi, unsur apa yang terjadi dan apa lagi yang akan terjadi”. Jelas dasar Otak kecil akan sifat dasar Otak besar.

Otak kecil : “Hei!! Otak besar! Kau ingin jadi pemberani dan ingin tahu Keberanian?!
Tapi ketahuilah dulu, seberannya kau itu bodoh! Berani tidak akan jadi keberanian jika dalam berani itu ada kebodohan! Kini kutayakan padamu, apa arti keberanian padamu higga sikap keberanianmu selalu menjebakmu dalam kebodohan sifat! Kebodohan sifat adalah yang selalu mengarahkanmu pada celaka!”. Pekik Otak kecil pada otak besar yang selalu terjebak celaka dalam berfikirnya.

Otak besar : “Eemm.. Keberanian??
Yang kutahu, menantang atau melawan. Itu saja”. Jawab bingung si Otak besar.

Otak kecil : “Itulah bodohnya pikiranmu!
Dari kau menjawab menantang atau melawan saja sudah salah! karena tidak ada unsur keberanian di situ! menantang atau melawanmu adalah takut! Bukan berani! Karena itu kau selalu terjebak dalam celaka! Melawan adalah sifat yang membela hak! Hak untuk merdeka! Bukan malah menjadikan kita terkunci! Dan merdeka itu tidak pernah membuat kita celaka! Jika kau benar-benar memahami arti dari sifat menantang atau melawan itu kau tidak akan pernah celaka!”. Sambung pekik keras Otak kecil.

Otak besar : “Jadi apa kesalahanku dan dimana kebodohanku?”. Jawab resah Otak besar.

Otak kecil : “Kesalahanmu, tidak adanya Keberanian dalam Beranimu..
Kebodohanmu, tidak tahunya arti Keberanian dalam Beranimu”. Jawab singkat Otak kecil.

Otak besar : “Bagaimana itu?? migrant aku memikirkannya..”. Jawab bingung Otak besar.

Otak kecil : “Berani bukan suatu Keberanian, tapi Keberanian suatu Berani yang penuh. Berani yang hakiki! Karena di balik Keberanian itu kau akan merasakan seluruh sifat dan rasa “Tak ada gelisah, tak ada resah, tak takut mati untuk menghadap maut yang menanti”. Dari rasa dan sifat itu kau menjadi tidak akan terganggukan untuk bisa “Menjulang tinggi tanpa rasa takut di hadapan maut, dan untuk bisa menerobos bebas lepas dalam kehidupan yang keras!”. Bukan menggunakan rasa melawan dan menantang saja, itu hanya suatu jebakan rasa untuk mengarahkanmu dalam rasa dan sifat yang terkunci! Dan mengumpankanmu dalam Celaka!”. Jawab tegas otak kecil untuk menegaskan Otak besar.

Otak besar : “Lalu apa tindakanku untuk membangun Keberanian?”. Desak tanya Otak besar.

Otak kecil : “Awalilah rasamu dengan pemikiran akan niat utamamu untuk tidak bisa roboh dalam posisi apapun, keadaan apapun dan kejadian apapun! itulah dasar pondasi kokoh niatmu, inginmu dan cita-citamu yang akan membentuk dengan perlahan menjadi suatu ambisi yang tidak ambisius yang akan menjadikan secara nyata seluruh mimpimu dari seluruh rangkaian imajinasimu! Dengan rangkaian rasa, emosi dan niat yang tersusun rapi itu, membentuk suatu kolaborasi yang melahirkan suatu kontrol tinggi dalam diri kita yang tidak akan tergiring, terarahkan dan terjebak dalam Celaka!”. Jabaran penuh Otak kecil.

Otak kecil : “Pahamilah semua itu Otak besar, pahamilah untuk pemikiranmu yang selalu membuat kita dalam suasana genting yang ‘tak penting!”. Kata sambung Otak kecil.

* * *

Di balutan suasana malam yang terbumbui seribu rasa sunyi, di sela-sela ribuan urat nadi, di tengah-tengah lingkarang ribuan sel darah yang mengalir pelan bersama pikiran kelam yang perlahan paham, di antara alam sadar dan di bawah alam sadar, aku terdiam dengan sederhana dalam kesederhanaan pikiranku memahami arti tersembunyi dalam SIDANG di balik sehelai halus NYAWA dalam ragaku ini. Yang siap menyusun, membangun dan menegakkan dengan tegas arti tentang KEBERANIAN untuk perjalan hidupku yang ‘tak ingin berhenti di tengah-tengah waktu sebelum mimpi dari rangkaian imajinasiku berdiri di awal zaman, di tengah-tengah zaman dan sampai di ahir zaman.

Seperti benih muda yang tumbuh segar dalam lahan yang kering. Tak lebih ‘tak kurang makna itu yang ku rasa dalam pikiranku setelah ku tahu arti sesungguhnya tentang sebuah Keberanian. Pikiran dan jiwaku tenang. Dalam ketenangan yang datang itu, migranku pergi, gundah jiwaku mati. Dan antara matinya gundah jiwa dan perginya migranku.. pandanganku juga diantara mati dan hidup. Gelap dan terang. Mati.. ‘tak lama hidup. Gelap, gulita.. ‘tak lama terang. Mati.. hidup lagi. Gelap.. terang lagi. Mati.. hidup. Gelap.. terang. Mati lagi.. hidup lagi. Gelap lagi.. terang lagi.
Dan.. GELAP! ‘tak terang lagi!. Aku tertidur.

Posted: 28 February, 2010 in File

free counters

Soto Kawin

Posted: 1 October, 2009 in File, Reflection

Selamat malam Sobat.
Semoga hidup Anda dalam kebersamaan dengan Tuhan dan tidak diceraikan oleh apapun karena perceraian itu mahal harganya apalagi bercerai dengan cinta Allah.

Beberapa malam yang lalu saya bersama teman-teman dari karyawan Gramedia Denpasar makan di sebuah warung yang ada di jalan waturenggong Denpasar. Kami makan soto, setelah makan dan mau meninggalkan warung itu, mata saya menangkap tulisan “sederhana” tapi penuh makna di sampaing gerobak soto penjual soto itu.

Kalimat itu berisi harga dan nama-nama soto yang dijual. Kalau Anda makan soto pasti namanya soto yang tertera seperti soto babat, soto ayam atau soto-soto yang lain. Tapi pada tulisan di samping gerobak itu berbunyi :

Soto kawin Rp. 6.000,00
Soto cerai Rp. 7.500,00
Soto kesepian Rp. 5.000,00

Saya tidak paham dengan nama-nama itu maka saya tanyakan pada penjual soto itu. “Pak apa artinya masing-masing soto itu ?”, tanya saya.

Bapak penjual soto menjawab,” soto kawin adalah nasi campur sotonya, soto cerai adalah nasi berpisah dengan sotonya dan soto kesepian adalah soto tanpa nasi”.

“Lho soto cerai kok lebih mahah???”, sambung saya.

Jawab bapak itu,” kan lebih repot menghidangkannya dan alat yang dipakai lebih banyak jadi pekerjaannyapun paling lama”.

“oh begitu”, sambung saya.

Inilah kreatifitas dari penjual soto ini yang menarik mata dan perhatian saya. Yang menarik bagi saya adalah arti dari soto itu teristimewa “soto cerai”. Soto cerai harganya lebih mahal dibanding soto yang lain karena cara menghidangkan “lebih repot” dan “memakai banyak bekakas” dengan pekerjaan lebih lama juga.

Perceraian memang selalu repot dan memerlukan banyak perhatian tercurah disana. Perceraian kadang kali diikuti dengan perbuatan “saling” menyakiti antar mereka yang sedang bercerai. Di samping itu akan banyak pekerjaan baru harus dikerjakan setelah perceraian misalnya tentang pembagian harta, pengasuhan anak dan banyak masalah pelik lainnya.

Perceraian selalu menciptakan banyak pekerjaaan, seperti penjual soto yang harus lebih repot dan mencuci barang lebih banyak. Maka dalam hidup lebih baik dan kalau bisa jangan dekat dengan yang namanya “perceraian”. Buatlah hidup dalam “perkawinan” yang langgeng abadi karena Allah menghedaki kebersamaan itu sampai ajal yang menjemputnya.

Dalam kebersamaan itu akan ada rasa yang lebih “menyeluruh” dan kehangatan yang merata seperti kalau akan soto kawin gambaran penjual soto itu. Sungguh sangat indah kalau hidup dalam cinta yang abadi seperti soto kawin.

Salam dalam kebersamaan membangun dunia dalam kebersamaan melanggengkan perkawinan walaupun saya tidak kawin.

Saya berdoa untuk setiap orang yang “menikah” semoga kebersamaan Anda abadi dan langgeng sampai maut menjemput.

Salam dalam cinta membangun dunia menjadi lebih baik dalam kebersamaan.

“Being a full-time mother is one of the highest salaried jobs…
since the payment is pure love.”
~ Mildred B. Vermont

Dahulu para leluhur kita yakin bahwa anak adalah pemberian dan anugerah Allah dan mungkin juga jumlah anak yang terlahir dan hadir.

Bagaimana kalau orang zaman sekarang? Barangkali bahwa anak masih diyakini sebagai pemberian Allah, tapi apakah demikian dengan jumlah anak? Kita perlu jujur merenungkan ini.

Saya sering merenungkan tentang anak yang diyakini sebagai pemberian Allah ini. Saya berbagi cerita dengan beberapa keluarga yang membuat keluarga itu menjadi sangat sedih karena kelakuan anak-anak mereka yang sangat menjengkelkan, yang membuat malu, dan benar-benar menyulitkan dan mengacaukan relasi dan kehidupan keluarga.

Keluarga sahabat juga membagi pengalamannya dengan saya. Beberapa keluarga sangat merindukan kehadiran bayi dalam keluarga mereka. Mereka sangat mendambakan kehadiran orang yang barangkali menjadi sumber kegembiraan dan kebahagiaan mereka. Pasangan suami-istri yang sudah bertahun-tahun menikah, berusaha sekuat tenaga, berdoa sekhusyuk mungkin memohon kehadiran anak yang dinanti-nanti.

Saya pernah mendapat cerita dari seorang pembimbing umat,
“Apa menurutmu yang paling menggembirakan orangtua kita?”
Jawabannya adalah kehadiran kita, atau tepatnya, “Kita.”
Lalu,
“Apa menurutmu yang paling membuat orangtua kita sedih bahkan menderita?
Jawabannya sama. “Kita.”

Ini bukan semacam kecelakaan atau tragedi. Ini justru berhubungan dengan kegembiraan itu sendiri. Karena semakin besar kegembiraan dan kebahagiaan hidup, biasanya semakin besar usaha yang diperlukan, semakin besar tantangan yang dihadapi, bahkan semakin besar ‘penderitaan’ yang dialami.

Di era yang katanya modern ini, kita yang konon juga orang modern, jika ditanya,
“Berapa anak yang Anda inginkan?”
Apa jawaban kita? Barangkali kita akan menjawab, “Dua.” Atau paling banyak tiga, karena mungkin kita bekerja pada perusahaan yang membiayai kesehatan dan lainnnya hanya paling banyak tiga orang.

Apakah anak sudah lebih dominan kita anggap sebagai beban dan ‘merepotkan’ daripada sebagai anugerah dan rahmat?

Permenungan Menarik dan Menggetarkan

Saya sering tersenyum dan kadang-kadang begitu menggetarkan, jika sampai pada permenungan tentang jumlah anak yang ‘hanya’ dua orang ini.

Jika dulu, kedua orangtua saya berpendapat seperti manusia zaman sekarang, bahwa mereka sepakat jumlah anak mereka hanya dua atau tiga, dan rencana mereka betul-betul mereka laksanakan, ada hal yang menarik bagi diri saya sendiri dan mungkin bagi orang lain.

Iya, sesuatu yang sangat penting dan menakjubkan untuk saya. Karena jika kedua orangtua saya sepakat dan melaksanakan rencana mereka — memiliki hanya dua orang anak — maka saya sangat sulit mengetahui eksistensi saya di bumi dan dunia ini.

Mengapa? Karena Anda tahu, bukan? Saya anak ke-8 dari 9 bersaudara.

Frans. Nadeak