Archive for the ‘Reflection’ Category

Ikan Kecil dan Air

Posted: 29 March, 2011 in Reflection

Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Sang Ayah berkata kepada anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.”

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengar percakapan itu dari bawah permukaan air, ikan kecil itu mendadak gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai tahukah kamu dimana tempat air berada? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.”

Ternyata semua ikan yang telah ditanya tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil itu semakin kebingungan, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal yang sama, “Dimakah air?” Ikan sepuh itu menjawab dengan bijak, “Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita semua akan mati.”

“Manusia kadang-kadang mengalami situasi yang sama seperti ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai ia sendiri tidak menyadarinya. ”

 

Sumber

1. How old would you be if you didn’t know how old you are?

2. Which is worse, failing or never trying?

3. If life is so short, why do we do so many things we don’t like and like so many things we don’t do?

4. When it’s all said and done, will you have said more than you’ve done?

5. What is the one thing you’d most like to change about the world?

6. If happiness was the national currency, what kind of work would make you rich?

7. Are you doing what you believe in, or are you settling for what you are doing?

8. If the average human life span was 40 years, how would you live your life differently?

9. To what degree have you actually controlled the course your life has taken?

10. Are you more worried about doing things right, or doing the right things?

11. You’re having lunch with three people you respect and admire. They all start criticizing a close friend of yours,
not knowing she is your friend. The criticism is distasteful and unjustified. What do you do?

12. If you could offer a newborn child only one piece of advice, what would it be?

13. Would you break the law to save a loved one?

14. Have you ever seen insanity where you later saw creativity?

15. What’s something you know you do differently than most people?

16. How come the things that make you happy don’t make everyone happy?

17. What is one thing have you not done that you really want to do and what’s holding you back?

18. Are you holding onto something you need to let go of?

19. If you had to move to a state or country besides the one you currently live in, where would you move and why?

20. Do you push the elevator button more than once? Do you really believe it makes the elevator faster?

21. Would you rather be a worried genius or a joyful simpleton?

22. Which is worse, when a good friend moves away, or losing touch with a good friend who lives right near you?

23. What are you most grateful for?

24. Would you rather lose all of your old memories, or never be able to make new ones?

25. Is is possible to know the truth without challenging it first?

26. Has your greatest fear ever come true?

27. Do you remember that time 5 years ago when you were extremely upset? Does it really matter now?

28. What is your happiest childhood memory? What makes it so special?

29. At what time in your recent past have you felt most passionate and alive?

30. If not now, then when?

31. If you haven’t achieved it yet, what do you have to lose?

32. Have you ever been with someone, said nothing, and walked away feeling like you just had the best conversation ever?

33. Why do religions that support love cause so many wars?

34. Is it possible to know, without a doubt, what is good and what is evil?

35. If you just won a million dollars, would you quit your job?

36. Would you rather have less work to do, or more work you actually enjoy doing?

37. Do you feel like you’ve lived this day a hundred times before?

38. When was the last time you marched into the dark with only the soft glow of an idea you strongly believed in?

39. If you knew that everyone you know was going to die tomorrow, who would you visit today?

40. Would you be willing to reduce your life expectancy by 10 years to become extremely attractive or famous?

41. What is the difference between being alive and truly living?

42. When is it time to stop calculating risk and rewards, and just go ahead and do what you know is right?

43. If we learn from our mistakes, why are we always so afraid to make a mistake?

44. What would you do differently if you knew nobody would judge you?

45. When was the last time you noticed the sound of your own breathing?

46. What do you love? Have any of your recent actions openly expressed this love?

47. In 5 years from now, will you remember what you did yesterday?
What about the day before that? Or the day before that?

48. Decisions are being made right now. The question is: Are you making them for yourself,
or are you letting others make them for you?

49. Have you been the kind of friend you want as a friend?

50. Why are you, you?

 

Source

Level Kemarahan

Posted: 16 March, 2011 in Reflection

Bagi saya pribadi, suatu kemarahan tidak dapat dengan mudah muncul dari dalam diri. Terdapat beberapa tahapan (level) sebelum kemarahan itu muncul.


Level Pertama, “Sebal”
Ketika saya memiliki konflik dengan orang lain, yang pertama kali saya rasakan adalah suatu perasaan yang disebut ‘sebal’. Hal ini dapat terjadi karena masalah-masalah kecil, seseorang menumpahkan sesuatu yang mengenai pakaian saya misalnya. Dan biasanya, rasa sebal ini dapat dengan mudah hilang, ketika orang tersebut melakukannya dengan tidak sengaja, ataupun langsung meminta maaf. Saya pun cenderung memaafkan, karena, hanya akan membuang-buang waktu jika kita marah-marah atas hal seperti itu.


Level Kedua, “Kesal”
Rasa ‘kesal’ datang ketika suatu masalah mulai memasuki tahap yg agak serius. Masalah ini sering terjadi ketika seseorang berbuat sesuatu yang lancang. Bayangkan seseorang tiba-tiba mematikan komputer anda ketika anda sedang konsentrasi kerja untuk segera menyelesaikan target, sungguh mengesalkan. Kekesalan ini tidak mudah dapat dimaafkan begitu saja.


Level Ketiga, “Kecewa”
Sebagai level ketiga setelah ‘sebal’ dan ‘kesal’, rasa ‘kecewa’ berada satu level di bawah kemarahan. Pada level ini, masalah yang terjadi lebih besar, tetapi tidak cukup besar untuk membuat diri saya marah. Selain hal tersebut, waktu relatif lama yang dibutuhkan untuk memaafkan, pantas membuat ‘kecewasebagai level terakhir sebelum ‘marah’. Tidak mudah untuk memaafkan, jika seseorang yang telah lama bersama-sama dengan anda, suatu hari anda ketahui bahwa dia hanya memanfaatkan anda.


Marah
Banyak orang yang memiliki definisi tersendiri tentang kata yang satu ini. Untuk saya pribadi, marah adalah benar-benar marah, yang berarti that’s it, enough, that’s all I need to know about you. Ketika saya marah, saya tidak menginginkan lagi orang tersebut untuk ada lagi di dalam kehidupan saya.

7 Cara Mengawali Harimu

Posted: 29 December, 2010 in Reflection

Setiap hari, kita nggak akan pernah berhenti untuk tetap ngejalani kegiatan di kehidupan kita . Bersekolah, bekerja, kuliah dan kegiatan – kegiatan yang lain en kadang kejenuhan ( nama lain dari bosan ) muncul tatkala kita terus – menerus melaksanakan kegiatan itu. Dari kejenuhan di tiap hari kita terkadang ekspresi raut wajah kita yang seharusnya dapat memberi ketenangan bagi kita dan orang lain, malah menjadi bumerang bagi kita sendiri ( like manyun, cemberut, suntuk, dan sejenisnya )

“ Badmood “, kata yang sering muncul dalam keseharian kita yang diawali adanya rasa jenuh en bosan. Misalnya aja, pas waktu sekolah banyak kejenuhan muncul dari ilmu yang kita nggak ikhlas saat menerimanya ( bisa dibilang nggak suka ama mapelnya ) , atau tenaga pengajar ( Pak Guru en Bu Guru ) yang menyampaikan ilmu mapel, menurut kita cenderung lama dan membuat kita tak berminat dalam memerhatikan ataupun mendengarkan mapelnya ( terkadang cara penyampaiannya yang monoton dan tidak variatif yang menjadi faktornya ).

Dari awal kejenuhan ini pasti akan banyak masalah – masalah yang ikut berantre nimbrung di keseharian kita, mungkin masalah yang amat sepele tapi terlalu dibesar – besarin, masalah komunikasi sama temen – temen en nggak jarang masalah pribadi. Awal sikap seperti ini membuat fikiran kita nggak bisa berkonsentrasi penuh dalam kegiatan – kegiatan lainnya. Dan banyak lagi masalah yang akan bertubi – tubi menyergap fikiran kita. Karena dari awal hari kita, sikap – sikap yang dapat mencegah masalah yang muncul, kurang dapat kita pahami en cermati. Oleh karena itu aku kepengen sedikit memberi saran dalam hal pencegahan masalah di tiap hari kita dan akan mencegah adanya kata “ Badmood “ dalam kamus keseharian kita. Silakan dipahami dan dicermati =D.

1. Niat yang baik

Niat itu sikap pertama kita dalam bertindak. Karena suatu pekerjaan itu tergantung dari niat seseorang. So, ayo kita mulai setting kembali Niat kita, apakah sudah benar – benar dalam koridor kebaikan atau malah mendekati niat yang akan menggugurkan kebaikan – kebaikan kita. Niat yang baik akan mengawali hari yang baik pula bagi kita.

2. Semangat

Kata yang sering muncul saat kita benar – benar mengalami keterpurukan en kata ini sangatlah sederhana. “ Semangat “ satu kata yang mampu menanamkan rasa ingin berubah, rasa ingin bangkit, rasa ingin mengakhiri setiap masalah dalam kehidupan kita. Kata ini tak jarang sangat ampuh dalam mengawali keseharian kita. Dengan mengucap kata ini secara tegas, akan mampu menggerakkan hati kita jadi lebih Pede ( percaya diri ) dan yakin akan datangnya kebaikan – kebaikan yang muncul di hari kita. So, sering – seringlah ngucapin kata ini dengan yakin dan penuh kepercayaan diri akan awal yang baik di hari yang baik.

3. Tersenyum

“ Senyum itu ibadah “. Hadist yang sering kita dengar terutama ketika kita memperagakan sikap “ Tersenyum “ ini. Pasti akan terbesit di fikiran kita akan hadist yang sangat bermanfaat ini. Tersenyum, menebarkan benih – benih kebaikan dan menjauhkan akan adanya prasangka, kalimat yang harus benar – benar kita pahami bersama. Dari awal hari kita, jikalau kita yakin akan niat serta semangat yang telah terpupuk, dengan sendirinya hati kita akan tersenyum. Dan ketika hati kita telah tersenyum, otomatis raut wajah kita akan berubah menjadi lebih tenang, ceria, penuh kebahagiaan ( ngedukung banget kan kita lebih semangat ). Oleh karena itu, awali setiap harimu dengan tersenyum maka dengan sendirinya hati dan fikiran serta raut wajahmu berubah menjadi lebih indah dan akan lebih nyaman dilihat banyak orang serta menjauhkan rasa prasangka mereka en rasa illfeel mereka akan pribadi kita. Karena mereka dengan sendirinya akan berfikir bahwa kamu ( yang telah tersenyum ) adalah orang baik.

4. Positive Thinking

Kata yang sering kita dengar mungkin dari salah satu karya Anak Bangsa di bidang Permusikan. Kata yang berarti “ Berfikir Positif “ ini sangatlah diperlukan dalam mengawali dan ngejalani setiap keseharian kita. Dalam menghadapi problema atau masalah, pandanglah sisi positifnya saja, agar kamu mampu menyelesaikan masalah tanpa timbul masalah yang baru ( kayak pegadaian aja ??? ). Misal masalah dalam pekerjaan, hasil kerja kamu ngebuat Bos atau Atasan kamu merasa kurang puas sehingga muncul amarah – amarah yang tertuang dalam lisan Bos kamu. Maka coba deh kamu tetep berfikir positif. Mungkin memang hasil kerjamu kurang maksimal maka masalah ini jadiin sebagai penyemangat kamu buat ngerjain hasil kerjamu yang lebih OK. En jangan sampai kamu malah berputus asa ataupun cepet menyerah. So, tetaplah berfikir positif dalam menghadapi setiap masalah. Dengan gini, aku yakin kamu akan menjadi pribadi yang selalu tenang dalam menghadapi masalah.

5. Ikhlas en Sabar
Ilmu yang selama ini memang sulit banget buat dipelajari. Sikap ini harus sesegera mungkin ditanamkan dalam diri kita. Agar kita mampu mengamalkan dalam keseharian kita terutama ketika kita lagi bener – bener banyak masalah. Banyak halangan sih yang terkadang membuat kita merasa kurang sabar atau tidak ikhlas dalam menanggapi setiap masalah kita. Mungkin seperti ketidakrelaan yang terlalu mendalam karena kita terlalu memikirkan masalahnya. Boleh saja kita memikirkannya karena memang tidak ada larangan tentang itu. Namun kita harus tahu batas – batas saat kita memikirkan sesuatu. Karena apabila kita terlalu mengungkit, mengingat kembali dan memikirkannya dalam – dalam, itu akan berdampak pada mental en jiwa kita serta mengganggu fokus kita dalam berkegiatan ( bisa ngebuat kita Drop en Stres lho !!! ).

Oleh karena itu, perlu adanya latihan keikhlasan dan kesabaran dalam menghadapi setiap masalah di keseharian kita. Dengan didukung adanya semangat en positive thinking, kita pasti mampubisa nerima setiap konsekuensi kehidupan kita sendiri.

6. Berdo’a

Hal ini yang benar – benar nggak boleh ketinggalan. Karena do’a pula yang dapat memperlancar setiap kegiatan kita. Jangan segan – segan deh dalam berdo’a. Karena jika kamu segan dalam berdoa maka kamu itu termasuk orang yang takabur dan sombong, terutama kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Tetap berdo’a ya ! Hanya Tuhan kitalah yang sepenuhnya dapat membantu kita selain kita sendiri juga. Ingat !!! Selalu ada jalan yang terbaik di setiap masalah kita .

7. Besyukur

Biasanya kita emang jarang banget buat bersyukur kepada Tuhan kita, yang telah memberi kita hari – hari yang indah. Mungkin karena kita lupa atau sok – sok lupa en sok berlagak semua masalah bisa kamu selesaiin sendiri. Nggak mungkin kawan !!! Tuhan jugalah yang selalu ngebantu kita.

Masalah yang bertumpuk – tumpuk yang muncul di kehidupan kita mungkin ini karena kita kurang menyukuri atas nikmat en Karunia-Nya yang berlimpah kepada kita. So, jangan lupa buat selalu bersyukur kepada Tuhan atas pemberian kekuatan dala menghadapi setiap masalah kita. Remember ! Biasakanlah menutup harimu dengan Rrasa Syukur. =D

Oke, kawan – kawan sekalian ! Mungkin hanya ini yang mampu aku saranin buat hidup kamu yang lebih baik. Lain waktu akan aku kasih saran – saran en cara – cara seru menikmati hidup kamu dalam lingkup kebaikan en tentunya agama =). Kalo soal saran –saranku sangat berlaku istilah “ Try it at home =D “.So, jadikan hidupmu penuh kebaikan ya ! Agar kamu tetap bisa berniat baik, penuh semangat en senyummu, positive thinking yang selalu hadir di fikiranmu, ikhlas en sabar yang always tertanam di hatimu, serta do’a awali hari en syukur akhiri harimu . Selamat Mencoba ! =D

Kisah Seorang Mahasiswa

Posted: 20 December, 2010 in Reflection

Seorang pemuda sebentar lagi akan diwisuda,sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir dari jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan. Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford.

Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu. Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya, bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan keteman-temannya.

Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,… bukan sebuah kunci ! Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Kitab Suci yang bersampulkan kulit asli, dikulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas.

Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, “Yaahh… Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan kitab suci ini untukku ? ” Lalu dia membanting Kitab Suci itu dan lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.

Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses, dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas. Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri.

Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam

Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya.

Saat melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelak terhadap ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang dirumah itu. Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Kitab Suci itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu. Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Kitab Suci itu, dan mulai membuka halamannya. Di halaman pertama Kitab Suci itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan Tuhan Maha Kaya dari segala apa yang ada di dunia ini”

Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Kitab Suci itu. Dia memungutnya,…. sebuah kunci mobil ! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir kitab suci itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.

Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam. bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.

Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati. . .

Nilai Mahkluk Hidup

Posted: 30 November, 2010 in Reflection

Sebuah toko hewan peliharaan (pet store) memasang papan iklan yang menarik bagi anak-anak kecil, “dijual anak anjing”. Segera saja seorang anak lelaki datang, masuk ke dalam toko dan bertanya “Berapa harga anak anjing yang anda jual itu?”

Pemilik toko itu menjawab, “Harganya berkisar antara 30 – 50 Dollar.”

Anak lelaki itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping uang, “Aku hanya mempunyai 2,37 Dollar, bisakah aku melihat-lihat anak anjing yang anda jual itu?”

Pemilik toko itu tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing-anjingnya. Tak lama dari kandang anjing munculah anjingnya yang bernama Lady yang diikuti oleh lima ekor anak anjing. Mereka berlari-larian di sepanjang lorong toko. Tetapi, ada satu anak anjing yang tampak berlari tertinggal paling belakang.

Si anak lelaki itu menunjuk pada anak anjing yang paling terbelakang dan tampak cacat itu. Tanyanya, “Kenapa dengan anak anjing itu?

Pemilik toko menjelaskan bahwa ketika dilahirkan anak anjing itu mempunyai kelainan di pinggulnya, dan akan menderita cacat seumur hidupnya.

Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata, “Aku beli anak anjing yang cacat itu.”

Pemilik toko itu menjawab, “Jangan, jangan beli anak anjing yang cacat itu. Tapi jika kau ingin memilikinya, aku akan berikan anak anjing itu padamu.”

Anak lelaki itu jadi kecewa. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, “Aku tak mau kau memberikan anak anjing itu cuma-cuma padaku. Meski cacat anak anjing itu tetap mempunyai harga yang sama sebagaimana anak anjing yang lain. Aku akan bayar penuh harga anak anjing itu. Saat ini aku hanya mempunyai 2,35 Dollar. Tetapi setiap hari akan akan mengangsur 0,5 Dollar sampai lunas harga anak anjing itu.”

Tetapi lelaki itu menolak, “Nak, kau jangan membeli anak anjing ini. Dia tidak bisa lari cepat. Dia tidak bisa melompat dan bermain sebagaiman anak anjing lainnya.”

Anak lelaki itu terdiam. Lalu ia melepas menarik ujung celana panjangnya. Dari balik celana itu tampaklah sepasang kaki yang cacat. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, “Tuan, aku pun tidak bisa berlari dengan cepat. Aku pun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main sebagaimana anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing itu membutuhkan seseorang yang mau mengerti penderitaannya.”

Kini pemilik toko itu menggigit bibirnya. Air mata menetes dari sudut matanya. Ia tersenyum dan berkata, “Aku akan berdoa setiap hari agar anak-anak anjing ini mempunyai majikan sebaik engkau.”

Bahkan mereka yang cacat pun mempunyai nilai yang sama dengan mereka yang normal. . .

 

Tak saling Menyalahkan

Posted: 27 October, 2010 in Reflection

Aku baru masuk kuliah saat bertemu dengan Keluarga White. Mereka sangat berbeda dengan keluargaku, namun aku langsung merasa betah bersama mereka. Aku dan Jane White berteman di sekolah, dan keluarganya menyambutku orang luar seperti sepupu jauh.

Dalam keluargaku, jika ada masalah, menyalahkan orang itu selalu penting. “Siapa yang melakukan ini?” ibuku membentak melihat dapur berantakan. “lni semua salahmu, Katharine,” ayahku berkeras jika kucing berhasil keluar rumah atau mesin cuci piring rusak. Sejak kami kecil, aku dan saudara-saudaraku saling mengadu. Kami menyiapkan kursi untuk si Terdakwa di meja makan. Tapi Keluarga White tidak mencemaskan siapa berbuat apa.

Mereka merapikan yang berantakan dan melanjutkan hidup mereka. Indahnya hal ini kusadari penuh pada musim panas ketika Jane meninggal.

Keluarga White memiliki enam anak: tiga lelaki, tiga perempuan. Satu putranya meninggal saat masih kecil, mungkin karena itulah kelima yang tersisa menjadi dekat.Di bulan Juli, aku dan tiga putri White memutuskan berjalan-jalan naik mobil dari rumah mereka di Florida ke New York. Dua yang tertua, Sarah dan Jane, adalah mahasiswa, dan yang terkecil, Amy, baru menginjak enam belas tahun. Sebagai pemilik SIM baru yang bangga, Amy gembira ingin melatih keterampilan mengemudinya selama perjalanan itu.

Dengan tawanya yang lucu, ia memamerkan SIM-nya kepada siapa saja yang ditemuinya.

Kedua kakaknya ikut mengemudikan mobil pada bagian pertama perjalanan, tapi saat mereka tiba di daerah yang berpenduduk jarang, mereka membolehkan Amy mengemudi. Di suatu tempat di South Carolina, kami keluar dari jalan tol untuk makan. Setelah makan, Amy mengemudi lagi. Ia tiba di perempatan dengan tanda stop untuk mobil dari arah kami. Entah ia gugup atau tidak memperhatikan atau tidak melihat tandanya tak akan ada yang tahu. Amy terus menerjang perempatan tanpa berhenti. Pengemudi trailer semi-traktor besar itu tak mampu mengerem pada waktunya, dan menabrak kendaraan kami.

Jane langsung meninggal.

Aku selamat hanya dengan sedikit memar. Hal tersulit yang kulakukan adalah menelepon Keluarga White dan memberitakan kecelakaan itu dan bahwa Jane meninggal. Sesakit apa pun perasaanku kehilangan seorang sahabat, aku tahu bagi mereka jauh lebih pedih kehilangan anak. Saat suami-istri White tiba di rumah sakit, mereka mendapatkan dua putri mereka di sebuah kamar.

Kepala dibalut perban; kaki Amy digips. Mereka memeluk kami semua dan menitikkan air mata duka dan bahagia saat melihat putri mereka. Mereka menghapus air mata kedua putrinya dan menggoda Amy hingga tertawa sementara ia belajar menggunakan kruknya. Kepada kedua putri mereka, dan terutama kepada Amy, berulang-ulang mereka hanya berkata,

“Kami gembira kalian masih hidup.”

Aku tercengang. Tak ada tuduhan. Tak ada tudingan.

Kemudian, aku menanyakan Keluarga White mengapa mereka tak pernah membicarakan fakta bahwa Amy yang mengemudi dan melanggar rambu-rambu lalu lintas. Bu White berkata, “Jane sudah tiada, dan kami sangat merindukannya.

Tak ada yang dapat kami katakan atau perbuat yang dapat menghidupkannya kembali. Tapi hidup Amy masih panjang. Bagaimana ia bisa menjalani hidup yang nyaman dan bahagia jika ia merasa kami menyalahkannya atas kematian kakaknya?”

Mereka benar. Amy lulus kuliah dan menikah beberapa tahun yang lalu. Ia bekerja sebagai guru sekolah anak luar biasa. Putrinya sendiri sudah dua, yang tertua bernama Jane. Aku belajar dari Keluarga White bahwa menyalahkan sebenarnya tidak penting. Bahkan, kadang-kadang, tak ada gunanya sama sekali.

 

Source: Unknown